Kamis, 08 Oktober 2026

Mig-29

 Kabar terbaru terkait pembelian atau rencana pengadaan jet tempur MiG-29 melibatkan beberapa negara, termasuk Indonesia yang dikabarkan melirik pesawat ini untuk skadron agresor, serta Iran dan Polandia.

1. Rencana Indonesia (Skadron Agresor)
  • Kabar yang Beredar: Muncul laporan dan wacana bahwa Indonesia melirik atau berpeluang mendatangkan jet tempur MiG-29C dan UB (kemungkinan dari Belarus atau sumber lain) untuk membentuk skadron udara agresor TNI AU. [1, 2, 3]
  • Kendala/Catatan: Ada keraguan dan kekhawatiran terkait risiko tingginya biaya serta kesulitan suku cadang (mengingat ekosistem pesawat eks Uni Soviet makin terbatas dan Malaysia sebelumnya memensiunkan MiG-29 mereka), sehingga opsinya bisa berupa sewa atau pengadaan terbatas. [1]
2. Iran Menerima Pengiriman MiG-29
  • Kabar Terbaru: Iran secara resmi menerima gelombang pengiriman jet tempur MiG-29 dari Rusia untuk memperkuat armada pertahanan udaranya yang sudah menua sambil menunggu kedatangan Sukhoi Su-35 yang lebih modern. [1, 2]
3. Polandia Mengirim MiG-29 ke Ukraina
  • Kabar Terbaru: Presiden Polandia Andrzej Duda mengumumkan pengiriman jet tempur MiG-29 (seperti pengiriman 4 unit tambahan) kepada Ukraina untuk mendukung pertahanan udara mereka dalam konflik yang sedang berlangsung. [1]

Kejutan! Jet Tempur MiG-29 Fulcrum Berpeluang Lengkapi Skadron Agresor TNI AU




MOKIT



















KAMOV Ka-32

 








TNI Angkatan Darat (TNI AD) mengerahkan helikopter utilitas berat Kamov Ka-32 buatan Rusia untuk mendukung distribusi logistik dan misi kemanusiaan di wilayah pegunungan Papua. [1, 2]
Detail Utama Kamov Ka-32 TNI AD
  • Waktu Tiba: Tiba di Indonesia dan berada di Pangkalan Pusat Penerbang Angkatan Darat (Puspenerbad) Semarang sejak awal September 2026. [1]
  • Rencana Operasi: Mulai beroperasi penuh pada Oktober 2026 untuk melayani wilayah terpencil di Papua. [1]
  • Kapasitas Angkut: Mampu mengangkut muatan kargo internal hingga 4 ton (dengan batas aman operasional sekitar 3 ton di ketinggian). [1]
  • Desain: Menggunakan sistem rotor koaksial ganda (dua baling-baling bertumpuk yang berputar berlawanan arah) tanpa memerlukan rotor ekor penstabil. [1]
  • Pendamping Armada: Diterjunkan bersama helikopter serang Mi-35M untuk mengurangi ketergantungan pada helikopter sewaan dalam menyuplai wilayah pegunungan tinggi di Papua.
Anda dapat membaca ulasan lengkap mengenai pengadaan ini melalui Airspace Review. [1]

MODEL KIT ;




trumpeter












CN-235 AWACS

PTDI dan Havelsan Jalin Kemitraan Garap Pesawat AWACS
Pesawat AWACS memiliki kemampuan deteksi dini, pengawasan udara, serta manajemen pertempuran udara.
Jum'at, 14-02-2025
TSM-PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI dan Havelsan, perusahaan teknologi pertahanan asal Turki, akan bermitra mengembangkan pesawat Airborne Early Warning and Control alias AWACS. Kesepakatan itu terjalin dalam Indonesia-Türkiye Business Forum yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan The Foreign Economic Relations Board of Turkey (DEK) di Hotel The Ritz-Carlton, Jakarta, pada Rabu, 12 Februari 2025.
Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan dan Chief Executive Officer Havelsan Mehmet Akif Nacar, dalam agenda tersebut, juga menyepakati kolaborasi pengembangan simulator penerbangan pesawat CN235-220. “Kami optimis dapat menghadirkan solusi yang tidak hanya mendukung kemandirian pertahanan Indonesia, tetapi juga berkontribusi bagi pasar global,” ucap Gita melalui keterangan pers yang diterima Tempo pada hari penandatanganan perjanjian tersebut.
Berdiri sejak 1982, Havelsan sudah mengembangkan 90 persen perangkat lunak sistem pesawat AWACS di Turki. Armada tersebut memiliki kemampuan deteksi dini, pengawasan udara, serta manajemen pertempuran berbasis udara yang terintegrasi.
Untuk proyek pesawat ini, PTDI menjadi prime contractor yang menyiapkan tenaga ahli dalam pembuatan desain, perakitan, produksi, pengujian, serta hingga pemeliharaan. Para teknisi itu akan bekerjasama dengan perwakilan Havelsan. Khusus untuk mesin simulasi, PTDI membuka joint technology development untuk Havelsan.
Sebagai pabrikan pesawat pelat merah di Indonesia, PTDI berpengalaman mengembangkan simulator penerbangan untuk berbagai jenis pesawat, mulai dari N250 Engineering Flight Simulator; CN235-220 Operational Flight Trainer; serta N219 Engineering Full Flight Simulator. Perseroan juga pernah menggarap simulator helikopter, yakni NAS332 Full Flight Simulator dan H225M Full Flight Simulator.
Havelsan juga terbiasa menggarap sistem visual canggih yang diharapkan bisa menyokong simulasi berkualitas tinggi. PTDI dan Havelsan menargetkan pengembangan sistem simulator pesawat Level D yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia dan pasar global.
Kolaborasi ihwal AWACS dan simulator penerbangan itu ditandatangani saat gelaran Indonesia-Türkiye Business Forum yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dan The Foreign Economic Relations Board of Turkey (DEK) di The Ritz-Carlton Hotel, Jakarta, Rabu, 12 Februari 2025. Pertemuan antar pengusaha Indonesia dan Turki tersebut dilakukan bersamaan dengan kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ke Indonesia.


   

S͏

n͏






Proyek Dirgantara Indonesia dan perusahaan Turki, Havelsan, sedang merintis pembuatan pesawat peringatan dini CN-235 AWACS. [1, 2]
Tujuan Pesawat
  • Mendeteksi ancaman di udara dan di laut.
  • Menjadi pusat komando di udara untuk wilayah regional.
  • Mengawasi wilayah luas seperti perbatasan dan pulau terluar. [1, 2]
Keunggulan CN-235 AWACS
  • Biaya lebih murah daripada pesawat jet AWACS.
  • Bisa mendarat di landasan pendek atau lapangan terbang kecil.
  • Hemat bahan bakar dan bisa terbang cukup lama. [1, 2, 3, 4]
Kekurangan CN-235 AWACS
  • Kecepatan lebih lambat karena memakai mesin baling-baling (turboprop).
  • Kabin lebih sempit dibanding pesawat jenis jet.
  • Jangkauan radar lebih pendek karena beban dan ukuran pesawat terbatas. [1, 2, 3]

Mokit ; sepertinya belum ada pabrikan mokit yang membuat, jadi harus membuat dengan bahan dasar mokit CN-295









o͏