Minggu, 14 Januari 2018

BAe 146-200 RI-002





BAe-146 200: Dari Era Soeharto Hingga Keterlibatan di Perang Afghanistan


Bagi Anda yang pernah menyimak kunjungan mantan Presiden Soeharto di era 90-an, mungkin bakal teringat dengan sosok pesawat jet transport bermesin empat BAe-146 200. Meski tak resmi disebut sebagai pesawat kepresidenan, BAe-146 200 Pelita Air Service ini lumayan sering digunakan Soeharto untuk bersafari ke pelosok Tanah Air. BAe-146 kini tak lagi diproduksi, namun AU Inggris masih tetap menggunakannya sebagai pesawat angkut andalan jarak pendek – menengah. Bahkan Inggris menggunakannya dalam operasi militer di Afghanistan.

Boleh dibilang tak sedikit juga maskapai di Indonesia yang pernah atau sampai saat ini masih mengoperasikan keluarga BAe-146. Selain Pelita Air Service (PAS), sebut saja ada Merpati Nusantara Airlines (MNA), Metro Group, Aviastar, Linus Airways, Riau Airlines dan Manunggal Air Service. Untuk kebutuhan kepresidenan, Pelita Air Service mendatangkan BAe-146 200 ke Indonesia pada tahun 1992. Umumnya, pesawat buatan British Aerospace ini kerap ditumpangi Pak Harto guna menyambagi wilayah pelosok yang hanya memiliki basis landasan udara sederhana.

Nah, pasca Soeharto lengser di tahun 1998, kemudian BAe-146 200 kepresidenan ini menjadi redup, pesawat ini tak lagi digunakan oleh presiden sesudahnya. Dan kabarnya pada tahun 1999, BAe-146 200 Seoharto dijual ke Eropa.

Dari beberapa catatan yang dihimpun, untuk kebutuhan VVIP (Very Very Important Person), BAe-146 200 PAS dilakukan konfigurasi pada sisi interior, dari yang tadinya dapat membawa 109 penumpang, versi BAe-146 200 Soeharto disulap untuk maksimal membawa 30 penumpang saja. Sejak pesawat Kepresidenan ditangani sepenuhnya oleh PAS, maka para awaknya juga adalah orang-orang sipil. Hanya saja setiap kali Presiden pergi selalu ada awak cadangan yang ikut dan seorang perwira penerbang senior TNI AU yang bertindak sebagai liason officer duduk di kokpit. Sementara untuk Untuk perjalanan ke luar negeri, Soeharto selalu memilih pesawat DC-10/MD-11 milik Garuda Indonesia. Pesawat itu sebelum digunakan selalu diperiksa dengan teliti seluruh frame dan mesin diperiksa ulang.

Tentu menjadi pertanyaan menarik, mengapa level kepresidenan tertarik dengan BAe-146? Dari sisi performa, pesawat ini sanggup mendarat dan lepas landas dari lapangan terbang yang sederhana, dan tak perlu landasan yang terlalu panjang, pasalnya dengan sokongan empat mesin, dorongan tenaga yang dihasilkan lumayan besar. Sementara dari aspek keamanan, bekal empat unit mesin tentu memberi level safety lebih baik, tatkala ada satu atau dua mesin yang gagal berfungsi.

Secara umum, BAe-146 dirilis dalam tiga versi, yakni versi penumpang, versi kargo, dan versi quick change. Yang disebut terakhir adalah versi yang dapat diubah dengan cepat dari versi penumpang ke kargo, begitu juga sebaliknya. Sementara dari serinya, BAe-146 diluncurkan dari seri 100, 200 dan 300. BAe-146 100 (70 – 80 kursi), BAe-146 200 (85 – 100 kursi), dan BAe-146 300 (100 – 112 kursi). Ketiga seri menggunakan jenis mesin yang sama, yaitu 4x Honeywell ALF 502R-5, yang membedakan diantara ketiga seri sudah barang tentu adalah panjang pesawat.

Keunggulan BAe-146 diantaranya pesawat telah dilengkapi EFIS (Electronic Flight Instument System) yang modern. Adopsi empat mesin ini kabarnya dibuat untuk mengurangi kebisingan, pasalnya jenis mesin yang digunakan berukuran kecil dan di saat yang bersamaan mempunyai tenaga cukup besar untuk lepas landas di landasan pendek, kemampuan ini disebut STOL (Short Take Off and Landing). Pihak pabrikan menggunakan lapisan peredam suara tambahan yang dipasang ke dalam mesin.
Untuk kepentingan navigasi ada bekal EGPWS (Enhanced Ground Proximity Warning System). EGPWS adalah alat hasil pengembangan yang lebih canggih dari GPWS, yakni alat untuk memberikan peringatan pada penerbang jika pesawat mendekati/akan menabrak daratan/terrain.
Menurut Kepala Desainer BAe 146, Bob Grigg, sejak awal proses desain, pesawat ini dirancang untuk mudah dioperasikan dan menawarkan biaya operasional bagi operator serendah mungkin. BAE Systems menegaskan, keuntungan mengadopsi empat mesin di antaranya termasuk kinerja yang unggul saat lepas landas dari landasan pacu pendek. Daya listrik terutama disediakan oleh generator yang terletak pada masing-masing mesin.

Terjun di Afghanistan
Produksi BAe-146 telah dihentikan pada tahun 2001, meski begitu AU Inggris masih menaruh kepercayaan pesawat ini sebagai pesawat transport taktis. Seperti di bulan April 2013, dua unit BAe-146 C MK3 dikerahkan untuk mendukung misi angkot kargo dan personel di Camp Bastion, propinsi Helmand, Afghanistan. BAe-146 dapat beroperasi dengan kombinasi yang apik bersama C-130 Hercules.
BAe-146 C MK3 memang dirancang khusus oleh BAE Systems untuk kebutuhan AU. Basis yang digunakan adalah BAe-146 200QC (Quick Change), dan uniknya AU Inggris mendapatkan pesawat ini bukan dengan beli baru, kedua BAe-146 200QC justru dibeli dari maskapai Belgia TNT Airways, kedua pesawat telah beroperasi sejak tahun 2006. Lewat modifikasi dari BAE System, usia pakai pesawat dapat optimal digunakan sampai tahun 2020.
Karene telah disulap sebagai pesawat militer, BAe-146 C MK3 memang siap diajak ke medan perang, modifikasi yang dilakukan BAE Systems mencakup pemasangan lapisan tahan peluru pada komponen-komponen penting, diantaranya pada kokpit. Kemudian tanki bahan bakar.yang dibekali fasilitas fire protection D-C system. Sementara dari sisi mesin, versi militer BAe-146 Inggris tidak berbeda dengan versi sipil. BAe-146 C MK3 juga dilengkapi perangkat pengecoh rudal.
BAe-146 STK

Diluar versi militer yang dibuat untuk AU Inggris, British Aerospace pernah menghadirkan versi militer khusus, dan diberi label BAe-146 STK. Pada versi STK dilengkapi pintu loading kargo disisi samping belakang, kemudian ada versi tanker udara dan versi onboard delivery. Pada versi STK, dilengkapi dengan refuelling probe untuk pengisian bahan bakar di udara. Versi demonstrator BAe-146 STK pernah dipamerkan dalam ajang Pair Airshow 1989. (Bayu Pamungkas)


BAe-146 200 “Republik Indonesia” –

Pesawat BAe-146 200 walau menyandang predikat pesawat Kepresidenan dengan livery bertuliskan “Republik Indonesia,” namun pesawat ini masih menggunakan kode pesawat sipil, yaitu PK-PJJ, lantaran secara kepemilikan pesawat ini adalah milik maskapai Pelita Air Service (PAS).

 Berdasarkan catatan dari planespotters.net, disebutkan BAe-146 200 PK-PJJ dengan nama “Wamena” dibuat oleh British Aerospace (Inggris) dan terbang perdana pada 28 Agustus 1993. Setelah melewat tahap uji terbang dan pemasangan interior kabin VVIP (Very Very Important Person), pesawat ini kemudian resmi diserahkan ke PAS pada 20 Desember 1993.

Mengutup dari Indomiliter.com, untuk kebutuhan VVIP, BAe-146 200 PAS dilakukan konfigurasi pada sisi interior, dari yang tadinya dapat membawa 109 penumpang, versi BAe-146 200 Soeharto disulap untuk maksimal membawa 30 penumpang saja. Sejak pesawat Kepresidenan ditangani sepenuhnya oleh PAS, maka para awaknya juga adalah orang-orang sipil. Hanya saja setiap kali Presiden pergi selalu ada awak cadangan yang ikut dan seorang perwira penerbang senior TNI AU yang bertindak sebagai liason officer duduk di kokpit. Saat ini operasional pesawat ditangani oleh Sekretariat Negara dan home base berada di Lanud Halim Perdanakusuma.


Tentu menjadi pertanyaan menarik, mengapa level pesawat Kepresidenan tertarik dengan BAe-146? Ternyata dari sisi performa, pesawat ini sanggup mendarat dan lepas landas dari lapangan terbang yang sederhana, dan tak perlu landasan yang terlalu panjang, pasalnya dengan sokongan empat mesin, dorongan tenaga yang dihasilkan lumayan besar. Sementara dari aspek keamanan, bekal empat unit mesin tentu memberi level safety lebih baik, tatkala ada satu atau dua mesin yang gagal berfungsi.

Dengan mesin 4x Honeywell ALF 502R-5, pesawat ini dapat terbang dengan kecepatan maksimum 890 km per jam dan kecepatan jelajah 750 km per jam. Berbekal kapasitas bahan bakar penuh (11.728 liter avtur), pesawat ini dapat terbang sampai 2.365 km. Kapasitas payload yang dapat dibawa mencapai 8.075 kg. Sebagai informasi bobot maksimum saat lepas landas adalah 42.184 kg.
Keunggulan BAe-146 diantaranya telah dilengkapi EFIS (Electronic Flight Instument System) yang modern. Adopsi empat mesin ini kabarnya dibuat untuk mengurangi kebisingan, pasalnya jenis mesin yang digunakan berukuran kecil dan di saat yang bersamaan mempunyai tenaga cukup besar untuk lepas landas di landasan pendek, kemampuan ini disebut STOL (Short Take Off and Landing). Pihak pabrikan menggunakan lapisan peredam suara tambahan yang dipasang ke dalam mesin. Untuk kepentingan navigasi ada bekal EGPWS (Enhanced Ground Proximity Warning System). EGPWS adalah alat hasil pengembangan yang lebih canggih dari GPWS, yakni alat untuk memberikan peringatan pada penerbang jika pesawat mendekati/akan menabrak daratan/terrain.
https://www.kabarpenumpang.com/bae-146-200-republik-indonesia-pesawat-jet-empat-mesin-pertama-yang-mendarat-di-bandara-internasional-yogyakarta/?fbclid=IwAR33f1bketISW2uUziBnkquA5ZtRjtxLe5CptKU0vqjRnrqilc8T0TtSgDU







RI 2 Landing di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu




Spesifikasi BAe-146 200
– Length: 28,55 meter
– Wingspan: 26,34 meter
– Height: 8,61 meter
– Wing area: 77,3 m2
– Maximum take-off weight: 42. 184 kg
– Maximum landing weight: 36.741 kg
– Operating empty weight: 23.800
– Maximum payload: 8.075 kg
– Standard fuel capacity: 11.728 liter
– Range with max payload: 2 365 km
– Cruise speed: 750 km/jam
– Maximum speed: 890 km/jam
– Maximum operating altitude: 9.500 meter
– Engines: Honeywell ALF 502R-5, 4 x 6970 lb



                                                                                  by Abdiel I.R 

 by Daniel Tambunan

                         
Terbang Rendah !! Pesawat Kepresidenan Indonesia 
BAe Avro RJ85 PK-PJJ Landing Ke Bandara Pondok Cabe
                                                         

Mokit rakitan modeller;
by Gatot Widjoseno

by Radit Ajalah










pabrikan mokit ;




Sabtu, 06 Januari 2018

AEROBATIC TEAM

Indonesia juga punya Team Aerobatik
berikut kami coba rangkum dari beberapa sumber web ;







1. THE PIONER (Mig-17  P-510)

The Pionir merupakan team aerobatik tertua di Indonesia. TNI AU memiliki tim aerobatik pertama kali tahun 1960an, yang terdiri dari formasi empat pesawat MiG 17, dengan para penerbang :
1. Kolonel / Marsma TNI Roemin Nurjadin "Elang".
2. Letkol Pnb Ibnu Saputro "Scorpion".
3. Mayor Pnb Mannetihius Msidjan.
4. Mayor Pnb Sukardi.
Mereka bergabung dalam "Tim Pionir". Bertindak sebagai leader tim adalah Kolonel / Marsma Roesmin Nurjadin. Tahun 1962 tim ini bertambah jumlahnya menjadi enam pesawat MiG 17 dengan tambahan penerbang Mayor / Letkol Roesman "Hell Cat", Sofyan Hamsyah, saputro dan Hashari Hasanuddin "Bison". Tim ini pun mampu memukau penonton yang menyaksikannya pada peringatan HUT ABRI 5 Oktober dengan aksi jungkir balik udara seperti melakukan manuver manuver roll. loop, immelmann, cuban eight dan bomb burst. 
Sebelum melakukan atraksi dengan MiG 17, sebenarnya para penerbang TNI AU pernah melakukan terbang formasi dengan propeller seperti P-51 Mustang dari Skadron Udara (Skud) 3, dengan penerbang;
1. Kolonel Pnb Leo Wattimena,                     6. Hapid Adiningrat
2. Roesmin Nurjadin,                                     7. Zainalan
3. Dewanto                                                     8. Gunadi
4. Hadi Supandi,                                             9. Hashari
5.Roesman

Namun tim ini belum sempat tampil di muka umum




 dimulai dengan pesawat P-51 Mustang

2   2.  THE SPIRIT 78 (F-86 Sabre)                                                                                                                

S   Setelah the pionir sudah tidak eksis dan indonesia vakum dalam dunia aerobatik selama 10 tahun lamanya, pada tahun 1978 atau pada saat mbah Harto berkuasa, dibentuklah team aerobatik yang baru di Lanud Iswahjudi, dengan menggunakan beberapa pesawat F-86 Sabre, Meskipun para penerbangnya rata - rata memiliki jam terbang dibawah 200 jam dan waktu persiapan / belajar yang hanya 60 hari, tetapi mereka dengan gagah berani alias nekad tampil di depan umum. Belajarnya pun hanya melalui brosur tim aerobatik Jepang, "Blue Impulse", belum ada instruktur. Ketika itu hanya Mayor Pnb Soeyitno yang sudah mengantongi 400-500 jam terbang dan bertindak sebagai leader. Tim ini akhirnya tampil pada HUT ABRI ke 33, pada 5 Oktober 1978. Tujuh rangkaian manuver yang dilakukan oleh enam pesawat F-86 Sabre seperti: wing over, roll in box, closer, calypso pass, roll in trail, loop dan bomb brust. Atraksi - atraksi yang yang begitu menarik dan beresiko ini memukau masyarakat ibukota Jakarta, khususnya atraksi "bomb brust" yang dilakukan oleh lima pesawat F-86 Sabre, dengan formasi menukik sebentar, lalu mengangkat hidung pesawat hingga mendaki tajam lurus keatas. Tim Aerobatik F-86 memang tidak seperti Thunderbirds atau Blue Angels, di mana mereka ditempatkan secara khusus dalam suatu tempat dan satuan tertentu. Para penerbang F-86 pun juga tidak memiliki instruktur khusus dalam menciptakan setiap gerakan formasi. Semuanya berasal dari hasil coba-coba dan dianalisa bersama-sama di bawah. Gerakan pun diketahui dari brosur tim aerobatik Blue Impulse mungkin mereka terisnpirasi dari mad dog dan chuck norris




3.3.  THE SPIRIT 85 (Hawk-53)

Bila orang-orang terkagum-kagum dengan Jupiter Aerobatic Team, rasanya para penerbang JAT perlu berterima kasih pada Spirit 85. Inilah tim aerobatik yang kelak menjadi cikal bakal Jupiter Aerobatic Team (JAT). Tim ini dibentuk dari hanggar Skadron 15 yang berlokasi di Lanud Iswahjudi.Dirintis sejak tahun 1985, para penerbang Skadron 15 memulai latihan dari uji coba kecil-kecilan dan latihan otodidak. Berbagai latihan ini akhirnya membentuk tim aerobatik berisi empat pesawat yang dinamakan Spirit 85.Para penerbangnya adalah Mayor (Pnb) Pieter Wattimena (leader), Mayor (Pnb) Toto Riyanto, Kapten (Pnb) Basri Sidehabi, dan Kapten (Pnb) Ida Bagus Sanubari. Kesemuanya adalah penerbang senior yang merupakan instruktur program Konversi Dasar Taktik Tempur (KDTT). Mereka tampil perdana pada 5 Oktober 1985. Tim aerobatik "Hawk" ini melakukan akrobatik udara selama 12 menit dengan memukau dan kompak. Tim inipun tidak bertahan lama, karena setelah tampil memukau di hari penting TNI AU tersebut, tim aerobatik inipun menghilang. Para personilnya bertugas di tempat yang berbeda - beda. Nama "Spirit 85" menurut salah satu anggota tim, mengambil contoh dari "Spirit 78", tim aerobatik yang menggunakan pesawat F-86 Sabre




4. THE (OLD) JUPITER


Sebelum the jupiters yang ada sekarang dahulu ada the (old) jupiters jugaPada peringatan ke 52 Hari TNI, 5 Oktober 1997 di Lanud Halim Perdanakusuma, Tim aerobatik "Jupiter" muncul pertama kalinya dengan menggunakan enam pesawat MK-53 HS Hawk. Manuver yang dipertunjukan mulai dari delta loop opener, lead on pass, line abreast, loop , mirror, cater pillar, screw roll, right clover leaf, heart, knife edge, roll backs, four point, vertical roll hingga vixen break. Manuver - manuver yang indah tersebut semakin memukau karena disertai asap yang berwarna warni. Mereka tampil dengan memukau penonton dengan meliuk - liuk yang sangat indah dan mendebarkan. Manuver - manuver yang dilakukannya sama dengan sajian yang digelar oleh tim "Red Arrow" pada saat Indonesian Air Show (IAS) tahun 1996 di Bandara Kemayoran Jakarta. Kemudian tim ini kembali menunjukkan kebolehannya melakukan akrobatik udara di Bandung pada HUT Kodikau 15 Oktober 1997. Konon penampilan di Bandung ini menjadi catatan tersendiri, karena belum pernah ada tim aerobatik yang tampil di Bandung. Alasannya antara lain, faktor ketinggian yang banyak berpengaruh terhadap performance, dan faktor cuaca yang sering tidak mendukung acara akrobatikoh iya gan,nama jupiter itu diambil dari sebutan para instruktur skuadron 103 lanud adi suciptosayang team ini vakum pada tahun 2002 dan akhirnya reborn menjadi the jupiters sekarang
 

Jupiter Aerobatic Team (JAT) Hawk-53


1.      5.  THE JUPITER BLUE


Ternyata the jupiters punya banyak sekali keluarga dan salah satunya yaitu jupiter blue,Pada awal tahun 2001, Danlanud Iswahjudi Marsma TNI Djoko “ Beaver”Poerwoko, mantan anggota tim aerobatic F-86 Sabre “Spirit’78” mempunyai ide menggabungkan keindahan gerak Hawk dan kegarangan F-16. Jadilah tim aerobatic dengan tiga jenis pesawat. Tiga buah Hawk MK-53, sebuah Hawk MK-109 dan dua buah F-16. Hawk 109 didatangkan dari Lanud Pekanbaru sebagai pesawat slot.
Dengan penerbang Letkol Pnb Barhim dan Kapten Pnb Moh.”Cougar” Dadang, sedangkan Leader beralih ke Mayor Pnb Fahru “Ferret” Zaini dengan dua wingman yaitu Kapten Pnb Andis “Lavy” Solikhin dan Mayor Pnb Donny “Osprey” Ermawan. Sedangkan sebagai penerbang solo adalah Mayor Pnb Fachry “Oryx” Adamy dan Kapten Pnb Moh.”jaguar” Hanafi yang dilatih oleh Letkol.Pnb Moh.Syaugi “Wildgeese”.
Cukup menarik, karena sebetulnya filosofi kedua team yang digabung adalah berbeda karena kiblat tim yang dianut berlainan. Campur2 antara F-16, Hawk Mk.53 dan Hawk Mk.109 dalam 1 team aerobatic sebenarnya berbahaya karena karakteristik setiap pesawat yang berbeda. Namun dengan kerja keras selama latihan akhirnya berhasil diwujudkan penampilan pertama yang spektakuler di depan public pada HUT TNI AU di lanud Halim 9 April 2001.





Jupiter Aerobatic Team Kebanggaan Indonesia

1       6. THE BLUE EAGLE
 
Tim Elang Biru muncul pertama kalinya pada peringatan ke-49 HUT TNI AU, pada 9 April 1995 di Halim Perdanakusuma dengan 6 pesawat F-16 Fighting Falcon. Pembentukan tim Elang Biru dilaksanakan setelah terdapat instruksi KASAU saat itu, Marsekal TNI Rilo Pambudi, yang menginginkan tim aerobatik ini muncul pada peringatan Hari ABRI 5 Oktober 1995 dan pada Indonesian Air Show (IAS) 1996. Pelaksanaan latihanpun dilakukan secara bertahap dan otodidak dan latihan formasi 2 pesawat hingga berlanjut menjadi 4 pesawat.
Demi menjalankan instruksi ini, TNI AU mendatangkan pelatih yang merupakan pakar aerobatik “Thunder Bird” dari Amerika serikat; Kolonel Steve Trent(komandan tim Thunderbirds 1988-1990), Mayor Pieter Mc Caffrey dan Kapten Mathew E.Bryd.
Tim Elang Biru ini kemudian menjelma menjadi tim aerobatik kebanggaan TNI Angkatan Udara karena memiliki kemampuan yang dapat disejajarkan dengan beberapa tim aerobatik kelas dunia seperti tim Red Arrow (Inggris), Roulette (Australia), dan Golden Dreams (Inggris).Dengan program pelatihan ini, maka kemampuan para penerbang menjadi semakin baik. Selanjutnya, Tim Elang Biru membentuk formasi enam pesawat. Anggota tim Elang Biru adalah Letkol (Pnb) Rodi Suprasodjo (leader), Mayor (Pnb) Bambang Samoedro, Mayor (Pnb) Agus Supriyatna, Mayor (Pnb) M Syaugi, Kapten (Pnb) Anang Nurhadi Susilo, dan Kapten (Pnb) Tatang Herliyansah





Elang Biru (F-16)



7. THE THUNDERS

Tim Aerobatik Thunder merupakan tim aerobatik terbaru yang dimiliki oleh TNI AU atas prakarsa KASAU Marsekal TNI Imam Sufaat. Tim dibentuk pada tanggal 28 Februari 2011 di pangkalan udara Sultan Hasanuddin – Makasar yang terdiri dari 3 pesawat Sukhoi (Su-27/30). Tim yang dikendalikan langsung oleh Flight Director Komandan Pangkalan TNI AU Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama TNI Agus Supriatna diawaki oleh the “Thunders”, sebutan bagi penerbang Skadron Udara 11 yang sampai saat ini telah mencapai urutan ke-146.



Thunder Aerobatic Team (Su27-30)

8. GOLDEN EAGLE (T-50)
Tim ini tidak berlangsung lama, sempat terjadi korban salah satu anggota tim nya saat melakukan manuver, pada tahun 2018 marking pesawat dihapus.

Golden Eagle (T-50)


9. JUPITER AEROBATIC TEAM




Jupiter Aerobatic Team (JAT) KT-1 Wong Be


10. THE DYNAMIC PEGASUS
 
kata siapa aerobatik harus pakek pesawat?, kali ini ada The dynamic pegasus team aerobatic helicopter yang masih eksis dari dulu ampe sekarangDynamic Pegasus Aerobatic Team merupakan salah satu tim aerobatik kebanggaan TNI Angkatan Udara. Di Asia Tenggara, inilah tim aerobatik pertama dan satu-satunya yang menggunakan pesawat rotary wing alias helikopter. Sejauh ini, baru ada ada dua tim aerobatik yang mahir dan populer menggunakan helikopter. Kedua tim tersebut adalah ”Patrulla” dari Spanyol dan ”Sarang” dari India.

Dynamic Pegasus Aerobatic Team berada di bawah pembinaan Skadron Udara 7. Untuk sekedar info, Skadro Udara 7 terletak di Lanud Suryadarma, Subang, Jawa Barat. Ketika tampil, mereka menggunakan helikopter jenis EC-120 B Colibri buatan Perancis



 Dynamic Pegasus  (Colibri)

11. THE PITTS AEROBATIC (CIVILLIAN)

Adakah team aerobatik indonesia yang sipil? sepengetahuan ts sih belum ada team aerobatik sipil di indonesia,walaupun di indonesia terdapat beberapa komunitas pesawat seperti asia aero flying, tetapi belum ada suatu komunitas/team yang benar2 di peruntukkan untuk aerobatik, tetapi ada orang sipil(walaupun dahulunya ia adalah perwira tni au)yang melakukan aksi2 aerobatik dia adalah bapak Marsekal Madya(purn) Eris Heryanto, bapak Eris Heryanto yang merupakan anggota asia aero flying melakukan aksi2 aerobatik yang mengagumkan dengan menggunakan pesawat aerobatik berjenis PITTS berikut adalah aksi bapak erris dalam video berikut, dan hebatnya lagi bapak erris ini sudah berumur kepala 6 tetapi masih lincah dalam mengendalikn pesawat!




Pitts Aerobatic Eris Heryanto