Senin, 27 Desember 2021

BELL 505

 BELL 505

https://nasional.kompas.com/read/2021/12/08/22035161/puspenerbal-kini-miliki-2-helikopter-latih-bell-505-generasi-terbaru.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal) kini memiliki dua helikopter latih single engine Bell 505. Helikopter generasi terbaru tersebut dikembangkan perusahaan Bell Textron Kanada. Dua unit Bell 505 diserahkan oleh Direktur PT Atamora Teknik Makmur, Deritary, kepada Kepala Dinas Pengadaan TNI AL (Kadisadal) Laksma TNI Maman Rohman yang disaksikan KSAL Laksamana Yudo Margono, di Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (8/12/2021). "Helikopter latih Bell 505 ini adalah pengadaan TNI Angkatan Laut tahun 2021, yang selanjutnya akan bergabung dalam Skuadron Udara 200 Wing Udara 2 Puspenerbal," ujar Yudo, dalam keterangan pers, Rabu. Menurut Yudo, Bell 505 memiliki konsumsi bahan bakar yang efisien serta dilengkapi dengan rangkaian avionik atau peralatan elektronik penerbangan yang canggih. Ia mengatakan, keunggulan tersebut tepat untuk digunakan dalam rangka mendukung peningkatan kualifikasi penerbang dan siswa Puspenerbal. Kendati demikian, ia menyatakan, secanggih apa pun alutsista yang dimiliki, pengawak tetap menjadi faktor penentu. Terlebih, dengan prinsip kesenjataan angkatan laut, yakni senjata yang diawaki, integrasi antara personel dan peralatan menjadi hal yang sangat penting. "Dalam konteks inilah pesawat-pesawat latih memiliki peran sentral dalam pembinaan profesionalisme prajurit Rajawali Laut," tegas Yudo. Dalam kesempatan tersebut, Yudo juga menyatakan, pesawat udara merupakan komponen yang tidak terpisahkan dari Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT). Menurutnya, pesawat udara memiliki peran dan fungsi yang sangat vital, baik sebagai mata dan telinga maupun kepanjangan tangan dari armada kapal perang. Dengan keunggulan pada aspek kecepatan dan manuver, unsur udara dapat melaksanakan tugas-tugas pengintaian udara maritim, dan peperangan anti-kapal selam. Kemudian, peperangan anti-kapal permukaan, pendaratan pasrat lintas heli, dukungan maupun pengamatan dalam rangka penyelenggaraan operasi laut yang efektif.



by airspace review

Pusnerbal TNI AL Terima 2 Unit Helikopter Bell 505





Model kitnya belum dapet pabrikan yang bikin...apalagi yang ngerakit?




 


Jumat, 11 Juni 2021

LEONARDO AW-169

 LEONARDO AW-169

Helicopter ini buatan Itali dan dioperasikan oleh POLRI







CANGGIHNYA HELIKOPTER POLISI INDONESIA, LEONARDO AW169 DAN AW189

Tahun Depan Datang, Polri Beli 9 Heli AW169 dan 2 AW189

AIRSPACE-REVIEW.com – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) membeli sembilan unit helikopter Leonardo (AgustaWestland) AW169 dan dua AW189. Ke sebelas armada helikopter baru ini akan tiba di Indonesia mulai tahun depan dan lengkap diterima pada 2021. Direktur Kepolisian Udara (Dirpoludara) Korpolairud Baharkam Polri Brigjen Pol Drs. Anang Syarif Hidayat kepada Airspace Review mengatakan, penandatanganan kontrak pertama telah dilaksanakan pada Desember 2018 dan akan diikuti dengan kontrak efektif pada akhir tahun ini. “Setelah kontrak efektif, helikopter akan langsung dibuat dan enam bulan kemudian diterima,” ujar Anang di sela acara pembukaan Kursus Dasar Teknik Perawatan Pesawat Udara di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Tangerang, Banten pada Senin (19/8/2019). Direktorat Kepolisian Udara menyekolahkan 36 mekanik pesawat (sayap tetap dan helikopter) untuk mengikuti kursus dasar ini di STPI    Ditambahkan Anang, pembelian 11 helikopter buatan pabrik Leonardo Helicopters di Italia ini adalah untuk memodernisasi armada sayap putar Ditpoludara. Di antaranya untuk menggantikan heli BO 105 yang telah digunakan selama 30 tahun oleh Polri dengan kapasitas yang lebih besar. “Heli AW169 dan AW189 memiliki kapasitas yang lebih besar dibanding BO 105. Hal ini sesuai dengan tuntutan kebutuhan yang telah dipetakan Polri. Kemudian, heli ini juga punya power yang besar untuk dipergunakan saat melaksanakan misi di dataran tinggi,” terangnya.

Nantinya, lanjut Anang, sembilan heli AW169 akan disebar ke Kepolisian Daerah (Polda) besar seperti Polda Jateng, Jatim, Makassar, Medan, Palembang, Bali, Polda di Kalimantan, dan Polda Papua.Sementara AW189 akan ditempatkan di Jakarta yang sekaligus bisa mendukung kebutuhan di wilayah Polda terdekat seperti Polda Jabar.Melihat kebutuhan yang ada, lanjut alumni Akademi Kepolisian (Akpol) 1988 ini, sebenarnya jumlah 11 heli yang akan dibeli masih kurang.“Seperti diketahui, di Indonesia terdapat 34 Polda. Sebanyak 32 Polda butuh dukungan helikopter, sementara dua Polda butuh pesawat fixed wing,” jelasnya.Guna mendukung operasional heli-heli ini nantinya, Ditpoludara akan mengirimkan sejumlah teknisi (mekanik) dan penerbang ke pabrikan heli untuk mendapatkan pelatihan.Pelatihan penerbang akan dilaksanakan selama satu bulan, sementara untuk mekanik selama dua bulan Mengenai jumlah personel yang akan dikirim, untuk satu unit AW169 Ditpoludara akan mengirim 3 pilot dan 4 mekanik. Sementara untuk satu unit AW189 Ditpoludara akan mengirim 4 pilot dan 4 mekanik. “Sehingga total yang akan dikirim adalah 44 mekanik dan 35 pilot,” ungkap Anang yang merupakan penerbang heli BO 105 ini. Pilot yang akan dikirim berpangkat mulai dari Inspektur Dua (Ipda) hingga Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP). Mereka akan diseleksi dari pilot yang ada. Brigjel Pol Anang yang lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1988 ini menambahkan, untuk perakitan helikopter AW169 dan AW189 nantinya akan dilaksanakan di Indonesia. Baik heli AW169 maupun AW189, masing-masing ditenagai dua mesin. Perbedaan utama terletak pada spesifikasi di mana AW189 yang berukuran lebih besar memiliki kapasitas angkut dan spesifikasi lainnya yang lebih besar pula. Bila AW169 dapat menampung 10 penumpang, maka AW189 dapat menampung hingga 19 penumpang. Roni Sontani

Model kit nya di itelery.com belum ada

Rabu, 09 Juni 2021

N E F O FLIGHT

 Nefo Flight

Dapet cerita dan photo jdari Hizkia tentang pesawat Nefo yang tidak terdengar ceritanya;
Pada Desember tahun lalu saya pernah mengupload sebuah foto tentang cuplikan pesawat Nefo Flight dari Buku Sejarah Angkatan Udara Indonesia Jilid 3 , hingga akhirnya om Sudiro Sumbodo memberikan sebuah foto tentang Nefo Flight (lihat foto kedua), setelah saya coba cari data-datanya, akhirnya saya menemukan sedikit info tentang si "Nefo Flight" ini.. Nefo Flight merupakan pesawat yang dibuat oleh Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (Lipnur, sebelumnya Kopelapip) sekitar tahun 1960an.. Pesawat ini sepertinya mengambil basis dari pesawat Aero 45, sepertinya pak Nurtanio yang merancang desain pesawat ini.. Namun sayang, beliau "keburu" gugur dalam sebuah penerbangan dengan menggunakan pesawat Aero 45 di Bandung pada tahun 1966 sehingga pesawat ini belum selesai total dan belum sempat diberi nama. Biasanya, pak Nurtanio memberikan nama kepada pesawat2 bikinannya dengan nama hewan, akhirnya para teknisi pesawat ini memberi nama pesawat ini dengan nama "Si Onta" karena bentuk hidungnya yang tinggi.. Tak banyak info yang bisa didapat dari pesawat ini.. Menurut Buku Sejarah Angkatan Udara Indonesia Jilib 3, pesawat ini digunakan sebagai pesawat Very Important Person (VIP).. Dari foto dan miniatur yang terpajang di Museum Dirgantara, pesawat ini berwarna paduan antara putih dan abu-abu dengan garis biru yang memanjang dari depan ke ekor pesawat.. Untuk usia pemakaian pesawat ini masih belum diketahui begitupun skadron mana yang mengoperasikan pesawat ini.. Sayangnya pesawat ini sudah lenyap dan tidak diketahui keberadaanya saat ini.. Semoga saja suatu saat nanti bisa dibikin replika pesawatnya agar anak cucu bisa melihat salah satu pesawat buatan Indonesia yang dulu pernah dibuat oleh Pak Nurtanio..

photo 1

photo2

photo3
.
.Sumber foto :
Pertama : Museum Dirgantara Mandala/Dispen AU
Kedua : Majalah Angkasa
Ketiga : miniatur Nefo Flight di Museum Dirgantara Mandala

Kamis, 04 Maret 2021

F-15 EX

 BOEING F-15 ID

Ini kecanggihan F15EX buatan AS yang membuat TNI AU terpesona
Pesawat multi-role combat aircraft F-15EX dari Amerika Serikat yang disebut akan dibeli oleh TNI AU dalam Rapim TNI pada 16 Februari 2021.
F-15 model terbaru ini memiliki airframe dan prosesor yang lebih kuat serta sistem kontrol penerbangan yang lebih canggih. 
Jet tempur baru Boeing F-15EX dapat menembakkan senjata hipersonik, memiliki kecepatan terbang supersonik 2.5 Mach dan terbang semi-otonom. Rencana pengadaan 15 unit Boeing F-15EX bersama 36 unit Dassault Rafale dari Perancis disampaikan Menhan Prabowo Subianto saat memberikan briefing dalam Rapim TNI.
Pesawat jet F-15EX dengan dua kursi ini memiliki sistem peperangan elektronik Eagle Passive/ Active Warning dan Survivability System yang dibuat oleh BAE Systems. Pada bagian radar, dilengkapi dengan radar AN / APG-82 Raytheon Technologies, kontrol penerbangan kokpit digital.
Jet tempur F-15EX memiliki fitur kontrol penerbangan fly-by-wire, dengan kabin kokpit digital serta didukung oleh sistem komputer ADCP-II Honywell. Diharapkan, 6 unit F-15 EX sudah tiba di Tanah Air sebelum 2022. 
F-15EX sekarang dapat membawa 12 rudal serta elemen persenjataan standarnya untuk memasukkan rudal AIM-120D, AIM-9x, dan JDAM. Jet ini memiliki tambahan kinerja daya dorong dan peningkatan kemampuan membawa senjata yang menempatkan dua stasiun senjata baru lebih jauh di sayap.
Dengan berbagai keunggulan diatas, tidak heran TNI AU akhirnya terpesona dan menetapkan pilihannya pada jet tempur canggih buatan paman sam tersebut


Pesawat tempur F-15EX Pesanan Indonesia Kemungkinan Tidak Akan Dilengkapi Epawss.
Untuk diketahui bahwa teknologi EPAWSS oleh BAE Systems dibuat untuk memodernisasi F-15 agar dpt menghadapi peperangan elektronik yg diperuntukkan untuk pesawat tempur Angkatan Udara AS, sehingga dengan epawss, pesawat dpt terlindungi scr maksimal dan efektivitas misi dan kemampuan bertahan hidup dapat terlaksana.
Teknologi EPAWSS menawarkan peringatan radar yg terintegrasi penuh, geo-lokasi, kesadaran situasional, dan solusi perlindungan diri untuk mendeteksi dan mengalahkan ancaman permukaan dan di udara.
Dengan kelengkapan peperangan elektronik tercanggih, Epawss ini memungkinkan F-15 melakukan penetrasi yang lebih dalam terhadap sistem pertahanan udara yg telah terintegrasi scr modern. Selain itu dpt memberikan kemampuan yg lebih responsif untuk melindungi awak pesawat dari segala ancaman.
Penggunaan teknologi EPAWSS pada F-15 adalah merupakan salah upaya BAE Systems untuk menjadikan pesawat ini menjadi semakin canggih krn telah dilengkapi dgn diDigital Electronic Warfare System (DEWS) yg merupakan sistem peperangan elektronik terbaru yang dikembangkan untuk kebutuhan pesawat AS dan negara-negara sekutunya.
Bila Epawss F-15EX pesanan TNI AU harus dilepas dan tidak dimasukkan kedalam satu paket pembelian yang utuh, maka tentu saja hal tersebut sangat mengecewakan dan tidak menguntungkan bagi penempur TNI AU.

EPAWSS atau Eagle Passive Active Warning Survivability System adalah perangkat digital peringatan dini untuk ancaman terhadap F-15 tersebut (baik berupa kuncian radar ataupun rudal) dalam berbagai rentang spektrum elektromagnetik, baik radar maupun infra merah.
EPAWSS mampu menyimpan data spektrum elektromagnetik yang diarahkan pada F-15, lalu mengidentifikasi ancaman yang datang, menganalisisnya lalu memprioritaskan mana ancaman paling berbahaya serta membantu pilot menentukan senjata apa (yang dibawa F-15) yang paling tepat untuk menetralisir ancaman tersebut.
Saking canggihnya, EPAWSS disebut-sebut sebagai satu-satunya perangkat yang memungkinkan Amerika melumpuhkan rudal pertahanan udara jarak jauh canggih sekelas S400 Triumf buatan Rusia, di luar serangan dengan armada jet tempur siluman (stealth).
Meski mengundang tanya bagi sebagian pihak, sebenarnya posisi Amerika dalam hal ini (jika benar tidak mengizinkan ekspor EPAWSS ke Indonesia) sudah bisa diduga sebelumnya. Terutama jika kita cermat membaca sebuah paragraf dalam rilis DSCA (Defense Security Cooperation Agency) setiap kali ada penjualan senjata Amerika ke negara lain.
Paragraf yang selalu ada dalam setiap rilis DSCA tersebut memang seakan-akan sebuah barisan kalimat yang “diulang-ulang” sehingga setelah sekian lama, pembaca yang tidak jeli dapat mengabaikannya.
Kalimat tersebut berbunyi: “The proposed sale of this equipment and support will not alter the basic military balance in the region.”
Dengan kata lain, dalam menjual alutsista buatannya, Amerika selalu memperhitungkan faktor geopolitik dan keseimbangan kekuatan militer di kawasan yang bersangkutan.
Dalam hal F-15EX untuk Indonesia (sekali lagi, jika Amerika memang mengizinkan penjualannya) maka tentunya Amerika akan memperhitungkan keseimbangan kekuatan militer yang terjadi sesudahnya. Seperti misalnya perimbangan kekuatan dengan Australia, Malaysia, dan Singapura yang bertetangga paling dekat dengan Indonesia. 


by Hizkia Steven

adia bramono

aviation.....

adia bramono



                                                                       its, satriyo





Amerika "Indonesia, Silahkan Beli F-15 Kami"

APA SIH KEHEBATAN F 15EX?

What Makes New America’s F-15EX So Excellent

F15ID  Future Indonesia TNIAU Multirole Strike Fighter  








MODEL KIT

F-15E Strike Eagle - kit model GWH skala 1/72 - model pesawat