Selasa, 26 Oktober 2010

AVIAT HUSKY A-1












Aviat Husky-A1

Jika dilihat sepintas bagi orang awam pesawat ini terlihat mirip Piper L4-J, hanya beda di"moncong" enginenya saja. Federasi Aero Sport Indonesia(FASI) selama ini menggunakanya untuk menarik pesawat glider. Dari logo DKI Jaya pada siriptegaknya, maka pesawat ini kemungkinan dapat dilihat di Lanud Pondok Cabe, Cinere Jaksel yang setiap hari Sabtu dan Minggu ramai aktifitas olah raga dirgantara (Ordiga)

Apakah nanti pesawat ini juga akan dimusiumkan? Keknya jauh bgt deh..lha pesawat militer laen yg sehrsnya dipajang dimuseum aja saat ini msh banyak brada dilanud-lanud aktif.

Modelkitnya belum ditemukan pabrikan yang membuat, namun jika ingin memodivikasi dari mokit sejenis mungkin model Piper Super Cub ah yang paling mirip...coba lihat box kit di bawah:


Darter Commander

photo by Indoflyernet

photo by Indonesian Military Plane Spotter

 Deni Akip




Aero Commander 100 Darter Commander


Sepintas bagi orang awam pesawat ini mirip model Cessna deh. Dari penelusuran dimilis http://weaponstechnology.blogspot.com/2011/06/penerbangan-tni-al.html ada photo pesawat ini yang kelihatanya digunakan TNI-AL sebagai pesawat latih pada skadron udara 200, belum ditemukan cerita ataupun photo-photo lain saat pesawat ini masih aktif operasional.

nih ada sepotong info mengenai sejarah pabrik pesawat ini:

Aero Commander

Dec 1944: Aero Engr Co. 1950: Aero Design & Engr Corp (Ted Smith et al), Culver City CA. 1950: Aero Commander Inc, Bethany OK. c.1958: Aero Design & Engr Co. 1963: Ted Smith left company to found Aerostar Co. 1965: Aero Commander Div of Rockwell Standard Corp; acquired rights to Snow S-2. 1965: Acquired rights and tooling to Meyers 200; Albany GA. 1967: Ended operations when Rockwell Standard merged with North American Corp as North American Rockwell/Rockwell Commander Inc. 197?: General Aviation Div, North American Rockwell. SEE ALSO Butler Mfg Co; Ted Smith & Associates (Aerostar Corp), Santa Maria CA; Aero Design & Engr, Bethany OK; Aerostar Aircraft Corp, Couer d'Alene ID.   Aero Commander 100 Cadet [N3871X] (Ron Dupas)
http://www.aerofiles.com/aerocomm-100.jpg



100, Cadet, Darter 1965 = Continuance of Volaire 1050. 4pChwM; 150hp ?; load: 970 v: 142/128/48 rang: 510 ceiling: 13,000. $8,950 in 1969. Name changed to Darter in 1968.

 http://www.aerofiles.com/_ab.html 



Peninggalan atau monumennya ada didepan kantor Kobangdikal Morokrembangan Surabaya

 2019 berada di depan Senerbal (sekolah penerbang tni al di juanda)

Modelkitnya saya belum dapat, jika ingin membuatnya boleh dicoba dengan menggunakan bahan dari modelkit Cessna 172 Minicraft Model skala 1/48 , karena mirip dan tidak perlu modivikasi banyak coba lihat box kit di bawah :

Senin, 25 Oktober 2010

Aero Comander 560-A



http://www.goodall.com.au/photographs/singapore-bali-80/7.80%20seletarbali.html






@Lanud Pondok Cabe, Tangerang Selatan.






Aero Commander 560A

Polri menggunakan pesawat mesin ganda Aero Commander 500 A dan 560 A kapasitas 6 orang.(http://politik.kompasiana.com/2010/03/26/mendarat-malam-pakai-obor-dan-lampu-pjr/)

Monumen pesawat ini  dapat dilihat di Lanud Pondok Cabe Cinere Tangsel seperti tampak photo di atas.

Modelkitnya belum ditemukan pabrikan yang membuat, tapi apabila ingin membuat modelkitnya mungkin dapat memodivikasi dari pesawat sejenis seperti Briten Norman Islander.

beberapa pabrikan mokit:
 



Selasa, 19 Oktober 2010

NUSANTARA N-2130



Perbandingan dg airbus dan boeing





Beberapa pabrikan mokit yg mirip :









Dua Satu Tiga Puluh (DSTP) N-2130


PT Dua Satu Tiga Puluh (DSTP) secara resmi menandatangani perjanjian kerja sama pertama dengan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Melalui kesepakatan itu, PT DSTP menunjuk IPTN untuk mengembangkan atau melakukan penelitian dan pengembangan pesawat jet N-2130.Pesawat N-2130 adalah pesawat jet komuter berkapasitas 80-130 penumpang rancangan asli IPTN (Sekarang PT Dirgantara Indonesia,PT DI, Indonesian Aerospace), Indonesia. Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia.(http://aircraft-manufacture.blogspot.com/2009/09/desain-terbaru-n-2130.html)
Sayang sekali proyek ini kandas ditengah jalan karena krisis moneter, hingga saat ini belum ada prototipe yang dapat diterbangkan. Padahal jika dapat diproduksi mungkin TNI-AU dapat menggunakan sebagai pesawat VVIP kepresidenan atau sebagai pesawat air and maritime surveillance.

Modelkitnya..belum diketemukan, jika ingin membuatnya harus memodivikasi dari pesawat sejenis yang mirip seperti Airbus A319 atau Boeing 737-300 seperti photo box di atas.


NURTANIO N-219















 












 diatas line product PT DI Okt 2015 by kompas com

Photo2 menjelang peluncuran November 2015 by http://jakartagreater.com/jelang-peluncuran-pesawat-n-219/





photo terakhir Nov 13 Nov 15 by Roby Aeros Cahyadi :

photo by jabar.tribunnews.com





by Angkasa Review
















HEBAT !! PT DI MULAI PERSIAPKAN PROTOTIPE PESAWAT N219 AMPHIBI


Sosialisasi Hasil Feasibility Studi Pengembangan N219 Amfibi dipaparkan bahwa dengan karakteristik negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan memiliki banyak danau sangat memungkinkan untuk membuat alat transportasi untuk mempersingkat waktu tempuh sehingga lebih kompetitif dan berdaya saing. Untuk melaksanakan tugas tersebut, LAPAN didukung BAPPENAS dalam merencanakan pengembangan varian dari pesawat N219 Nurtanio Amfibi. Setiap daerah memiliki potensi pariwisata bahari, banyak terdapat sungai dan danau yang besar kemungkinan lokasinya relatif sulit untuk dibangun landasan pesawat. Sedangkan untuk membangun sebuah Amfibi Port, tidak perlu diperlukan biaya yang mahal ujar Budi Sampurno selaku Project Manager N219A. “Diharapkan dengan berhasilnya program Amfibi ini, Indonesia akan menjadi pemimpin penggunaan pesawat jenis Amfibi di regional Asia Tenggara dan dapat dengan mudah mengakses wilayah terpencil dan kepulauan terpencil di Indonesia. Inilah bukti LAPAN mengabdi pada kemajuan Indonesia sesuai amanat UU”, Imbuh Gunawan Setyo Prabowo, Kepala Pusat Teknologi Penerbangan (Pustekbang) LAPAN.(LAPAN)

Pesawat N219 Amfibi buatan PT DI
Pesawat N219A (Amfibi) ditargetkan menjalani terbang perdana pada 2023. Mengenai sistem floating-nya, dikembangakan bersama oleh LAPAN dengan Aerocet Inc dari AS serta akan melibatkan perusahaan lokal PT Lundin Industry Invest dari Banyuwangi. -RBS-
Sumber : Airspace Review
Foto: LAPAN














18th flight test

N219 First Landing Bandara Nusawiru, 
PK-XDP Butan PT.Dirgantara Indonesia

    Better Aircraft - Cessna SkyCourier vs N219 Nurtanio


Better Aircraft - Twin Otter vs N219 Nurtanio





NURTANIO N-219  (PT Dirgantara Indonesia dan LAPAN)

Khabar terkini dari Defense Studies (Sept 2018) tentang pesawat ini adalah ;

Prototipe kedua pesawat N-219 buatan PT Dirgantara Indonesia telah selesai dan siap menjalani serangkaian tes untuk keluarnya sertifikasi pesawat angkut ringan N-219 "Nurtanio" hasil rancangan LAPAN.

Total 4 unit prototipe diperlukan untuk proses sertifikasi pesawat ini. Dua unit dibuat secara "full-complete" karena akan menjalani "flight test", sedangkan dua unit lagi tidak dalam keadaan "full complete" karena untuk menjalani "structure test" di laboratorium dan tidak untuk terbang.

Untuk prototipe pesawat yang akan menjalani "flight test" yaitu pesawat pertama dan kedua sebagaimana dikutip dari IndoAviation akan menajalani misi yang berbeda. Pesawat  kesatu akan menyelesaikan pengujian performa dan struktur, sedangkan pesawat kedua untuk pengujian sistem, seperti avionic system, electrical system, dan flight control. 

Flight test akan dilakukan oleh pesawat pertama dan kedua, dari 100 persen subject flight test, dibagi menjadi dua, 50:50, sehingga flight test dapat optimal dan memungkinkan untuk bisa selesai dalam tahun ini.

Pesawat ketiga dan keempat akan menjalani fatigue test yang membutuhkan 3000 cycle fatigue test untuk mendapatkan Type Certificate di akhir tahun 2018. Pengujian kekuatan struktur dan uji kelelahan tersebut dilaksanakan di gedung MMC PTDI di Bandung.

Setelah mendapatkan Type Certificate dari Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Departemen Perhubungan RI, dimulailah tahapan serial production untuk mendapatkan sertifikasi produksi (Production Certificate). Diharapkan pada pertengahan tahun 2019 pesawat ini sudah mulai masuk produksi massal dan memasuki pasar. 
(Defense Studies)
 http://defense-studies.blogspot.com/2018/09/prototipe2-n-219-siap-mendukung.html

 



 Prototipe kedua pesawat N-219 September 2018 (photo : Akang Aviation)














Pesawat N219 Terbang Perdana 20 Menit
https://jakartagreater.com/pesawat-n219-terbang-perdana-20-menit/

Bandung – Prototype pesawat pertama N219 karya anak bangsa dari PT Dirgantara Indonesia melakukan uji coba penerbangan perdana (flight test) di landasan pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu, 16/8/2017. Uji coba penerbangan perdana pesawat ini dilakukan sekitar pukul 09.10 WIB, dan disaksikan langsung oleh Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Agus Santoso, Dirut PT Dirgantara Indonesia (DI) Budi Santoso, dan seluruh jajaran Direksi dan Dewan Komisaris PT DI. Uji coba penerbangan dilakukan setelah purwarupa pesawat pertama N219 mendapatkan Certificate of Airworthiness dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasional Pesawat Udara, Kementerian Perhubungan.
Purwarupa pesawat pertama N219 diterbangkan oleh pilot Kapten Esther Gayatri Saleh dan co-pilot Kapten Adi Budi Atmoko. Penerbangan perdana pesawat N219 ini ikut serta Ir Yustinus K yang bertindak sebagai Flight Test Engineer untuk memastikan setiap tahapan pengujian terbang dilaksanakan dengan baik dan benar serta terjamin unsur keselamatannya. Lama penerbangan perdana prototype pesawat pertama N219 dilakukan sekitar 20 menit dengan rute di kawasan Batujajar dan Waduk Saguling.

Untuk Penerbangan Perintis
Asisten Khusus Pengembangan Pesawat Terbang PT Dirgantara Indonesia Andi Alisjahbana mengatakan Pesawat N219 dirancang untuk melayani penerbangan perintis di Indonesia seperti kawasan Pulau Papua dan Kalimantan. “Ini pesawat kecil untuk 19 penumpang dan dirancang untuk kebutuhan Indonesia di penerbangan perintis,” ujar Andi Alisjahbana, di sela-sela uji coba penerbangan perdana Purwarupa Pesawat N219, di PT DI Kota Bandung, Rabu, 16/8/2017. Pesawat ini, juga dilengkapi dengan “avionic” canggih yang memiliki informasi navigsi yang banyak sehingga bisa terbang di pedalaman seperti Papua dan Kalimantan. Ditargetkan Pesawat N219 untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, khususnya bagi kebutuhan transportasi udara di pedalaman. “Target utama konsumsi dalam negeri, kebutuhan bangsa Indonesia supaya lebih erat dan terjangkau,” kata Andi Alisjahbana, dirilis Antara, 16/b/2017.

Uji coba penerbangan pertama Purwarupa I Pesawat N219 menjadi tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia. “Jadi ini semacam, boleh kita katakan satu bangsa, bangsa yang bisa membuat dan merancang sendiri di Asia, mungkin hanya Jepang, Korea, China dan Indonesia. Jadi ini kemampuan luar biasa event di dunia yang penting bukan itu, tapi ini sejarah,” kata Andi Alisjahbana.



by https://jakartagreater.com/pesawat-n219-terbang-perdana-20-menit/ 
https://jakartagreater.com/pesawat-n219-sukses-terbang-perdana/
 


















uji kecepatan di landas pacu bandara Husen Sastranegara 9-8-17 by  by aviatren com

http://www.thepicta.com/media/1577985029732561922_2017632973



Berikut Spesifikasi Teknis Kinerja Pesawat N-219

  • Kecepatan jelajah maksimum: 395 km / jam (213 KTS)
  • Kecepatan jelajah ekonomis: 352 km / jam (190 KTS)
  • Rata rata feri Maksimum: 1580 Nm
  • Jarak lepas landas (halangan 35 kaki): 465 m, ISA, SL
  • Jarak mendarat (halangan 50 kaki): 510 m, ISA, SL
  • Kecepatan jatuh (stall): 73 KTS
  • Berat lepas landas maksimum (MTOW): 7270 kg (16,000 lbs)
  • Muatan Maksimum: 2500 kg (5511 lb)
  • Tingkat panjat 2300 kaki / menit (semua mesin operasi)
  • Jarak: 600 Nm
ke Money at : http://bit.ly/copy_win
Bandung (MI) : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berhasil mengembangkan N219 buatan sendiri. Ini dibuktikan, dengan First Cutting Detail Part Manufacturing N219 yang dilakukan hari ini, Selasa 9 September 2014, di Bandung. Menurut Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Lapan, Jasyanto, kegiatan ini merupakan pemotongan pertama Detail Part Manufacturing (DPM), pertanda dimulainya pembuatan komponen airframe N219. "Saat ini, N219 telah mencapai tahap produksi komponen. Proses DPM ini merupakan satu tahapan penting dalam pembuatan pesawat," kata Jasyanto, dalam keterangan resminya. N219 disebut-sebut sebagai pesawat perintis berpenumpang 19 orang yang mampu mendarat di landasan pendek di ketinggian ekstrem. "Lapan melalui Pusat Teknologi Penerbangan siap membangkitkan kembali industri penerbangan nasional. Setelah seluruh proses pengembangan prototipe N219 selesai, pesawat ini akan diproduksi massal oleh BUMN Penerbangan, PT DI (Dirgantara Indonesia)," ujar Jasyanto. Program N219 dimulai sejak 2006, dengan melakukan kajian pasar dan kelayakannya. Lapan telah mengalokasikan anggaran dan melibatkan engineer di bidang aerodinamika, struktur, propulsi, navigasi, dan avionik pesawat untuk mengembangan N219. "Tahun 2008 hingga 2012, dilanjutkan dengan membuat desain konsep dan melakukan uji wind tunnel (terowongan angin). Saat ini, N-219 berada pada fase detail design dan tooling design yang akan selesai pada Oktober 2014," katanya. Diharapkan, kata Jasyanto, Lapan akan menyelesaikan pembangunan pesawat ini sepenuhnya dan menunjukkannya kepada publik pada 10 Agustus 2015. Sementara itu, pesawat ini direncanakan terbang untuk pertama kali pada Desember 2015. Kemudian, pesawat akan memasuki proses sertifikasi yang akan selesai pada Oktober 2016. Selain untuk membangkitkan industri penerbangan nasional, N219 dibangun juga sebagai pengembangan pesawat perintis di Indonesia timur dan pulau-pulau kecil. Pengembangan pesawat ini optimistis dapat meningkatkan industri penerbangan dalam negeri. Hal ini, disebabkan potensi pasar bagi N219 sangat besar karena tingginya kebutuhan pesawat dalam negeri, diiringi pertumbuhan penumpang transportasi udara Indonesia terus meningkat setiap tahun. Bukti tingginya kebutuhan transportasi udara di dalam negeri terlihat, dari banyaknya pihak yang memesan pesawat ini. Bahkan, saat ini, sudah ada pesanan sebanyak 150 pesawat dari berbagai maskapai penerbangan dan industri. N-219 Cocok untuk Penerbangan Pulau Kecil Pesawat N-219 yang diprodukasi Lapan dengan pengerjaan oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI) merupakan pesawat jenis perintis yang cocok digunakan untuk Indonesia timur dan pulau-pulau kecil dengan landasan pacu pendek dan ketinggian ekstrem. Pesawat ini berpenumpang 19 orang dengan sistem cokpit digital dan teknologi canggih berbiaya murah. Direktur PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso menyampaikan hal itu pada "First Cutting Detail Part Manufacturing N219". Kegiatan ini merupakan pemotongan pertaman detail part manufacturing (DPM) atau dimulainya pembuatan komponen airframe N219. Proses ini merupakan satu tahapan penting dalam pembuatan pesawat, berlangsung di Hanggar Produksi KPII PT Dirgantara Indonesia, Jalan Pajajaran, Bandung, Selasa (9/9/2014). Menurut Budi, N219 dibuat dengan teknologi canggih menggunakan 60 persen komponen lokal berbiaya murah. Diharapkan, meskipun berbiaya murah tetapi penjualannya semahal mungkin dengan tujuan untuk mengembangkan industri penerbangan lainnya. Pesawat N219 dapat tinggal landas di landasan pendek 600 meter dengan ketinggian terbang mencapai 3000 an dan daya jelajah 800 mil atau sejauh jarak tempuh Jakarta-Surabaya. Pesawat ini dibuat pertama dua unit dengan biaya sebesar Rp 400 milyar pada tahun pertama (2014) dan Rp 90 miliar untuk tahun kedua (2015). Program N219 sebenarnya kata Budi sudah dirancang 10 tahun silam. Namun karena kesulitan teknis dan non teknis baru dapat dikerjakan mulai 2006 dengan melalukan kajian pasar dan kelayakannya. Dibandingkan dengan pesawat sejenis, N219 memiliki keunggulan berbeda. Selain jumlah penumpangnya berlebih, rata-rata pesawat sejenis seperti Cesna atau yang lainnya hanya berpenumpang 15 orang sedangkan N219 berpenumpang 19 orang, bagian cokpit pesawat juga sudah menggunakan sistem digital. Pesawat ini, menurut Ketua Lapan Thomas Jamaludin dapat menggantikan sistem angkut hasil pertanian berupa coklat, cengkeh, dll yang semula menggunakan kapal laut. "Ini diharapkan menjadi landasan untuk Indonesia bangkit menjadi bangsa yang maju dan mandiri," ujar Thomas. Sumber : VIVAnews , Pikiran-rakyat

Make Money at : http://bit.ly/copy_winelang Peluncuran Pesawat N-219
 PT.DI menargetkan pesawat produksi dalam negeri ini akan diperkenalkan kepada publik pada bulan November 2015. Pada body pesawat ini juga ada logo Lapan, yang menunjukkan Lapan turut serta dalam pembangunan pesawat ini. Seperti tampak pada photo2 diatas.


Ngebut Jam Terbang PD 1 N219

PESAWAT N219 PK-XDT TERBANG BERSAMA KODIAK PK-NZK

3 MINGGU TERBANG DI NUSAWIRU DAPAT 40 JAM //N219 PULANG KE BANDUNG

N219 First Landing Bandara Nusawiru, PK-XDP Butan PT.Dirgantara Indonesia

Pesawat N219 & Agusta Helicopter Vip Susi Air Take off from Airport Nusawiru

Test Flight N219 Bandung Landing Nusawiru



KEREEEN!! INILAH PESAWAT BUATAN PUTRA-PUTRI INDONESIA

Modelkitnya belum ada pabrikan yang membuat, maka harus kita modivikasi sendiri dari mokit pesawat lain yang sejenis, sementara ini telah ditemukan bahan utk memodivikasinya yaitu jenis mokit pesawat Let L-410UVP buatan Czechoslovakia, atau mokitya merk Gavia, Amodel, skala 1/72. Kalau saya punya modelkit L-410 tersebut akan saya modiv menjadi N-219, markingnya akan dibuat sesuai dengan user yang akan menggunakan pesawat tersebut nantinya.




photo dibawah adalah mokit rakitan  http://designer.home.xs4all.nl/models/czech/czech.htm



photo berikut adalah bekas pesawat L-410 yg dijadikan cafe di jl pasarkembang yogyakarta
 by alm. Dicky Hertanto

pd saat aktif by indoflyernet com

pesawat yg mirip lainya adalah
 Twin Otter 400:
Kalau ingin memakai bahan Twin Otter 400 maka dapat dilihat perbandingannya sbb ;




twin otter 400








otter and twin otter by Wawa


dan pesawat Harbin Y-12