Senin, 15 Juli 2019

PERAJIN MINIATUR PESAWAT TERBANG

Ditengah membludaknya produk miniatur pesawat terbang dari bahan plasik (rakitan) dan logam (diecast) yang telah siap pajang ada pula Perajin miniatur pesawat terbang ini biasanya membuat dengan bahan fiber dan untuk keperluan display statis perusahaan. Selain itu ada pula yang membuat dari bahan kayu, biasanya untuk keperluan display atau koleksi pribadi. Nah bahkan ada juga yang membuat dari bahan gabus styreoform. Terakhir bahan styreoform juga dibuat untuk miniatur pesawat Remote Control (RC)

Inilah beberapa perajin bahan fiber yg spesialis miniatur pesawat TNI-AU 



Aeroprint Alex  workshop berada di jl raya asrikaton dekat abd saleh
WA 089692941115, Malang Jatim

 Ternyata Begini Cara Membuat Miniatur Pesawat | TAU GAK SIH (24/12/19)


Replika Pesawat Terbang Made in Cimahi

 5 PENGERAJIN MINIATUR PESAWAT

Miniatur Pesawat Karya Anak Bangsa - NET5

 LIMBAH GABUS JADI REPLIKA PESAWAT 
TERBANG BERNILAI JUTAAN RUPIAH

 Sulap Limbah Styrofoam Menjadi Pesawat Nirawak (RC)


UMKM STYROFOAM BEKAS DIUBAH
MENJADI PESAWAT AEROMODELING


Imama Santoso, tinggal di gang kecapi ceger
perajin kayu miniatur pesawat
HP 085772009472













Selasa, 02 Juli 2019

MITSUBISHI AM6 ZERO

MITSUBISHI AM6 ZERO

Pesawat ini terlihat asli dengan scheme Jepang, karena memang tidak pernah digunakan oleh AURI
Keberadaanya di Museum Pusat Dirgantara Mandala adalah seperti pesawat Boeing Kaydet, Hawker Hunter, sebagai bukti sejarah..pernah ada di tanah air kita dan digunakan oleh bala tentara Jepang.

Mitsubishi AM6 Zero Imperial Japanese Navy Walkaround Video. DJI Osmo Pocket + Gopro 7
by  Eric Moya Walkaround

https://www.airspace-review.com

 Pearl Harbor flight featuring the PoF Mitsubishi A6M5 Zero

三菱零式艦上戦闘機52型 栄オリジナルエンジンA6M5ZERO

Pesawat Gaek Sisa Perang Dunia II Ini Pulang Kampung
 Planes of Fame A6M5 Zero + Harada Kaname's Speech

AIRCRAFT (zeros) and their landing strip (PACIFIC OCEAN)
YAP, EXPLORING remains of WW2 JAPANESE

Akhir September 2019 arkeolog Papua menemukan reruntuhan pesawat ini diperairan Papua Barat;
https://www.airspace-review.com/2019/09/30/arkeolog-temukan-bangkai-pesawat-a6m-zero-di-perairan-pulau-rouw-papua-barat/



AIRSPACE REVIEW (airspace-review.com) – Warisan alutsista bekas peninggalan Perang Dunia II kembali ditemukan. Sebanyak empat pesawat milik militer Jepang peninggalan Perang Pasifik ditemukan akhir September 2019 oleh para peneliti dari Balai Arkeologi Papua. Seperti dikutip dari laman Tempo, keempat pesawat ditemukan di perairan Pulau Rouw, Kepulauan Auri, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat. Disebutkan, pesawat berada pada kedalaman satu meter dan akan terlihat dengan jelas saat air laut dalam kondisi surut. Kondisi pesawat yang ditemukan sudah dalam keadaan tak utuh lagi. Selain itu bangkai pesawat telah diselimuti oleh terumbu karang dan menjadi rumah ikan. Namun demikian, para arkeolog masih dapat mengenali jenis pesawat yang terkubur di perairan Teluk Cendrawasih tersebut. Bangkai burung besi yang ditemukan, terdiri dari tiga pesawat tempur A6M2 Zero dan sebuah pembom G4M2 Betty. Kedua jenis pesawat dibuat oleh pabrik Mitsubishi Heavy Industry. Diperkirakan, pesawat-pesawat ini berhasil dirontokkan oleh pesawat tempur Amerika Serikat dalam pertempuran yang berlangsung pada 27 Mei hingga 20 Juni 1944.

Dalam catatan sejarah, pesawat tempur A6M Zero dikenal sebagai pesawat yang lincah dan andal. Pesawat ini disegani para lawan terutama saat pertempuran udara jarak dekat. Kehadiran Zero dibuat atas pesanan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang untuk menggantikan pesawat tempur garis depan A5M yang juga dibuat oleh Mitsubishi. Pesawat A6M Zero mulai menjalani penerbangan perdana pada 1 April 1939 dan resmi masuk dinas tanggal 1 Juli 1940. Pesawat berawak tunggal ini memiliki panjang badan 9, 06 m, rentang sayap 12 m, dan tinggi 3,05 m. A6M Zero ditenagai sebuah mesin piston radial Nakajima NK1C Sakae-12 14 silinder berdaya 950 hp. Pesawat memiliki kecepatan terbang maksimum 533 km/jam dan ketinggian terbang maksimum  10.000 m. Radius tempurnya pada kisaran 1.870 km atau terbang feri sejauh 3.102 km.

Karier A6M Zero sendiri berakhir bersamaan dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu tahun 1945. Total sebanyak 10.939 unit Zero berhasil diproduksi dari tahun 1940 hingga 1945. Penemuan bangkai A6M Zero di Tanah Air bukanlah untuk pertama kalinya. Sebelumnya pada 1980-an, juga telah ditemukan beberapa pesawat tempur peninggalan militer Jepang di daratan Papua Barat. Salah satunya adalah A6M2 Zero dalam kondisi utuh. Selanjutnya pesawat dibawa ke Jawa untuk direstorasi. Pesawat tersebut menjadi koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla) Yogyakarta sejak 1984.
Rangga Baswara Sawiyya

editor: ron raider

TAIL NUMBER


TAIL NUMBER

 

Nomor ekor (tail number) pada pesawat dan helikopter milik TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) memiliki makna tertentu terkait fungsi dan urutan kepemilikan.

Nomor ekor di pesawat militer menyatu dengan identitas pesawat itu sendiri, kadang dipasang tidak menyolok untuk menjaga kerahasiaan. Sistem penomoran ekor berbeda-beda di setiap negara. TNI-AU sendiri memiliki sistem penomoran khusus berupa satu atau dua digit huruf, diikuti empat digit angka.

Digit berupa huruf menandakan fungsi pesawat, TT sebagai Tempur Taktis, TS sebagai Tempur Strategis, A sebagai Angkut, H sebagai Helikopter. Terkadang menggunakan kombinasi, AI sebagai pesawat Angkut yang berfungsi sebagai Intai.

Untuk pesawat latih, TNI-AU memberikan dua digit, LM sebagai Latih Mula (setara dengan primary trainer), LD sebagai Latih Dasar (intermediate/basic trainer), dan LL sebagai Latih Lanjut (advanced trainer). Ada pula LK sebagai Latih Khusus walaupun saat ini sudah tidak ada lagi. Untuk helikopter yang berfungsi sebagai helikopter latih disediakan HL atau Helikopter Latih serupa dengan pesawat tempur berkursi tandem, disebut TL atau Tempur Latih.

Sebelumnya atau era AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) menggunakan huruf dari Bahasa Inggris, F untuk Fighter, T untuk Transport, H untuk Helicopter, dan M untuk Bomber, bukan B karena sudah digunakan untuk pesawat latih dasar. Tahun 1971 registrasi ini diubah menjadi yang dikenal seperti sekarang.

Untuk digit angka merupakan nomor tipe pesawat itu, diambil dua urut pertama dan berikutnya urutan kepemilikan. Jadi bila menemukan nomor ekor A-1301, berarti pesawat itu adalah Lockheed C-130 yang merupakan pesawat pesanan pertama. Demikian juga dengan TS-2701, pesawat tempur Sukhoi Su-27 pesawat pertama. Sedangkan Fokker F27 pesanan pertama juga mendapat angka empat digit yang sama, 2701, tapi karena fungsinya sebagai angkut maka nomor ekornya menjadi A-2701.
Walaupun nomor selalu berurut, kadang ada pula diberi nomor cantik seperti pada Hercules versi angkut VIP (Very Important People) milik Skadron 17 yang memiliki nomor A-1314 dan A-1341. Bila dijumlahkan angka itu menghasilkan angka 9, angka hoki/keberuntungan. Nomor itu juga diterapkan pada satu-satunya Boeing 707 milik Skadron 17 yang seharusnya A-7001 justru menjadi A-7002.
Nomor cantik diterapkan pula pada pesawat VIP lainnya, tiga unit Lockheed C-140 Jetstar kebanggaan Presiden Soekarno hadiah dari Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy. Ketiga pesawat eksekutif jet ini masing-masing bernomor T-1646 yang merupakan tanggal lahirnya Pancasila, 1 Juni 1946, T-17845 terinspirasi dari tanggal kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, dan T-9446 yang merupakan hari lahir TNI-AU, 9 April 1946.
(Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia)
 https://aviahistoria.com/2017/11/27/nomor-ekor-pesawat-milik-tni-au/