Senin, 04 Mei 2015

Eurocopter AS 565 Panther







nose abu-abu panther

nose hitam dauphin









 by indomiliter com











Eurocopter AS 565 Panther 

j um'at, 10-05-2019
TSM-Bila tiada aral melintang, pada September mendatang Puspenerbal TNI AL akan menerima unit perdana dari dua helikopter AS565 MBe Panther full set AKS (Anti Kapal Selam) dari PT Dirgantara Indonesia. Selain akan dilengkapi dipping sonar DS-100 HELRAS (Helicopter Long-Range Active Sonar) buatan L-3 Ocean Systems, kedua AS565 MBe Panther juga akan mengusung torpedo ringan jenis baru, yaitu A244/S Mod. 3 Whitehead besutan Leonardo Spa.
Sebagai informasi, A244/S Mod. 3 diakuisi menggunakan fasilitas kredit ekspor tahun anggaran 2011-2014. Kontrak pembeliannya dilakukan pada tahun 2017 dengan nilai 4 juta euro. Kontrak berlangsung selama tiga tahun sampai pengiriman, dan pembayaran atas kontrak dibiayai oleh Bank Spanyol BBVA cabang Italia serta akan dibayar lunas pada tahun ketujuh.
A244/S sendiri bukan barang baru di lingkup TNI AL, pasalnya generasi sebelumnya, A244/S Mod.2 sudah dibeli (80 unit) untuk kelengkapan korvet Diponegoro Class. Dari segi kemampuan, torpedo A244/S Mod.3 kini dilengkapi teknologi Advanced Digital Signal Processor (ADSP), yang menwarkan sejumlah uprade fungsi klasifikasi dan tracking pada beberapa sasaran secara simultan. ADSP juga mendukung kerja akustik dan pengoperasian multi frekuensi pada penembakan sasaran di perairan dangkal (kedalaman 40 meter)
Hulu ledak yang disematkan A244/S Mod.3 yaitu jenis omni-directional, yang dipercaya lebih punya efek mematikan pada sasaran. Torpedo generasi baru ini juga dilengkapi sistem propulsi ramah lingkungan, dimana digunakan teknologi non-toxic yang tidak mencemarkan perairan.
Torpedo dengan dua bilang propeller bergerak dengan contra-rotating dan mampu melesatkan torpedo dengan tiga pilihan kecepatan, yaitu kecepatan penuh 38 knots, kecepatan tinggi 36 knots dan kecepatan minimum 28 knots. Bicara jarak luncur, bila dipilih menggunakan kecepatan minimum maka jarak luncur sampai 13.500 meter. Sedangkan jika menggunakan kecepatan tinggi maka jarak luncur melorot jadi 10.000 meter.
Torpedo dengan very low radiated noise ini tergolong torpedo multi platform, dengan kaliber 324 mm maka A244/S Mod.3 dapat dilepaskan dari kapal perang permukaan, pesawat intai dan helikopter AKS. A244/S Mod.3 punya panjang 2750 mm, lebar 324 mm dan berat 265 kg. Dari situs Leonardo disebutkan bahwa torpedo ini sudah digunakan oleh 16 negara. (Gilang Perdana)
Posting oleh: HR/TSM
Sumber teks: indomiliter.com



http://indomiliter.com/2014/03/15/eurocopter-as-565-panther-tni-al-jawaban-dari-sebuah-penantian-panjang/

Pemerintah Indonesia pastinya tidak tinggal diam dengan ketimpangan alutsista di lini helikopter AL. TNI AL sebagai kekuatan laut terbesar di Asia Tenggara secara logika harus punya helikopter yang sepadan dengan negara tetangga. Kandidat sudah digodok sejak beberapa lama, hingga muncul nama SH-2G Super Seaprite buatan Kaman Aircraft, AS. Berita ini cukup santer, sampai disebutkan TNI AL akan menerima 11 unit heli ini. Tapi entah karena berbagai alasan, seperti kinerjanya kurang pas dan ukurannya terbilang ‘bongsor’ untuk deck korvet Indonesia. Akhirnya pilihan helikopter serang jatuh kepada kandidat lain, yaitu AS-565 Panther buatan Eurocopter. Heli ini terbilang masih gress, baru saja dipamerkan langsung di hadapan Presiden SBY dalam acara kunjungan kerja di Pangkalan Komando Armada Timur, Dermaga Ujung, Surabaya pada hari Rabu (12/3/2014). Dalam demo dan defile, nampak heli Panther berada di deck helipad KRI Sultan Iskandar Muda 367.
Eurocopter AS 565 Panther
Bagi kebanyakan orang di Indonesia, mungkin sudah akrab dengan bentuk alias desain helikopter ini. Pasalnya AS 565 Panther merupakan versi militer dari heli AS 365 Dauphin. Nah, AS-365 N3 Dauphin tak lain adalah helikopter SAR yang kerap wara-wiri di serial televisi Baywatch. Sebagai versi militer, AS-565 Panther sudah barang tentu dipersiapkan dengan perangkat penunjang misi tempur, terutama misi di lautan. Sebut saja ada peningkatan pada material berbahan komposit, yang menjadikan bodi heli ini lebih kuat dan dapat meredam pancaran gelombang radar. Bodi heli ini bahkan dilengkapi cat khusus yang dapat mengurangi endusan dari sensor infra red. Ini tentunya berguna bila suatu waktu heli diterjang rudal lawan, selain bisa mengandalkan chaff dan flare.
Bicara tentang kekuatan, AS 565 Panther juga dirancang lebih tangguh untuk menghadapi sistuasi sulit. Sebut saja dengan bobot take off 4,3 ton, strukturnya masih bisa mentoleransi bila terjadi vertical impact dari ketinggian 7 meter. Bahkan sistem bahan bakarnya tahan bila terjadi crash dari ketinggian 14 meter, ini berkat tanki bahan bakar yang menggunakan teknologi self sealing. Sistem mesin mendapat porsi perlindungan yang maksimal, seperti kendali mekasisme servo yang dilengkapi lapisan anti peluru. Bila terjadi korslet, pesawat ini pun dilengkapi solusi pemotong kabel, sehingga bisa mencegah terjadinya kebakaran yang fatal.
Diawaki oleh pilot dan co-pilot, Panther dapat membawa 10 pasukan. Dengan komposisi muatan tersebut, orang mengira AS-565 Panther adalah heli yang berbobot besar. Tapi itu keliru, helikopter ini punya bobot maksimum saat take off hanya 4,3 ton. Kuncinya adalah adopsi material bodi dari kombinasi glass fibre yang diperkuat Nomex untuk menambah daya tahan dan sekaligus mengurangi berat helikopter. Nomex juga dikenal sebagai bahan tahan api. Rotorhead dengan empat bilah baling-baling utama menggunakan bahan serat gelas Starflex. Posisi pilot juga ditingkatkan keamanannya dengan kursi yang dapat menahan tekanan gravitasi hingga 20 g.
Dirunut dari spesifikasinya, Eurocopter AS565 Panther merupakan helikopter ringan multifungsi yang dirancang untuk angkut pasukan, pendukung logistik, dan evakuasi medis. Versi angkatan darat disebut AS-56UB dan versi naval disebut AS 565 MB (tidak bersenjata) serta AS 565 SB (bersenjata). Heli ini pertama kali terbang pada tahun 1984 dan masuk produksi dua tahun kemudian. Sebanyak 259 unit AS 565 Panther dipesan berdasarkan versi darat (181) dan versi naval (78).
Selain bisa membawa 10 pasukan, untuk evakuasi medis, heli ini dapat membawa empat pasien dan satu dokter. Untuk angkut muatan berat, heli ini dilengkapi dengan tali (sling) dengan kapasitas 1.600 kg. Sementara untuk menunjang misi SAR, dan menurunkan personel lewat tali, terdapat perangkat penarik elektrik (electrical hoist) sepanjang 90 meter untuk beban hingga 27,2 kg.
Didapuk sebagai helikopter untuk AL, bilah baling-baling utama Panther dapat dilipat secara manual dan dilengkapi dengan pin yang bisa dilepas dengan cepat. Baling-baling pada rotor utama terbuat dari serat karbon yang diperkuat dengan plastik yang berisi materi Nomex. Oleh karena itu, baling-baling Panther tahan karat dan tidak mudah rusak. Baling-baling pada ekor (tail rotor) menggunakan teknologi Fenestron (fantail) dengan 11 blade yang member keselematan lebih tinggi bagi awak di darat, awak pesawat, maupun penumpang. Konsep Fenestron paa tail rotor juga mampu mereduksi suara yang cukup lumayan.
Untuk sistem navigasi, Panther menggunakan Thales Avionics. Sistem pengaman komunikasi militer dapat dipasang sesuai kebutuhan operator di negara bersangkutan. Sementara itu untuk kelengkapan tempur elektronik, Panther antara lain dilengkapi dengan Thales TMV 011 Sherlock receiver, infra red jammer, serta flare decoy dispensers.
AS 565 Panther mengusung jenis dua mesin turboshaft Turbomeca Arriel 2C. Masing-masing mesin punya kekuatan 635 kW. Dengan mesin ini, Panther memiliki performa yang dapat diandalkan dalam kondisi apa pun, termasuk panas dan di ketinggian. Kendali mesin digital dengan otoritas penuh memungkinkan starter mesin secara otomatis dan menjamin operasional mesin sesuai batas akselerasi, torque dan suhu. Panther dapat melakukan hovering hingga 2.600 meter dengan kecepatan tidak lebih dari 285 km per jam.
Untuk kemampuan jelajah, dengan empat tangki dibawah lantai dan satu di tengah fuselage, Panther memiliki kapasitas bahan bakar total 1.130 liter. Untuk jangkauan lebih luas, Panther dapat dilengkapi dengan auxiliary fuel tank dan ferry tank. Panther dapat menjalankan misi hingga 820 km dengan bahan bakar standar. Dari segi suspensi, Panther memiliki gir pendarat tricycle yang ditarik secara hidrolis, dengan roda hidung ganda dan satu roda utama. Unit utama dan hidung dilengkapi dengan oleopneumatic shock absorbers. Roda pada hidung ditarik ke arah belakang dan roda utama ditarik masuk ke fuselage.
Varian naval AS 565 Panther beroperasi di Irlandia, Uni Emirate Arab, Islandia, Saudi Arabia, Israel, AL Meksiko, AL Cina, dan tentunya AL Perancis. Versi bersenjata dan tidak bersenjata dioperasikan oleh AD Brazil. Untuk varian naval terkini, bisa dilengkapi dengan konfigurasi SAR, patroli, intai maritim, AKS dan misi anti kapal permukaan. Untuk misi AKS, Panther dapat dilengkapi dengan dua torpedo. Jenis torpedo yang dapat dibawa adalah MK46 dan A.244. Sementara untuk misi anti kapal permukaan, Panther dapat membawa empat rudal anti kapal berpengendali radar AS 15 TT dan radar Agrion 15 pada dagunya. Mau duel di udara? Panther bisa dipasangi rudal Mistral. Untuk kelengkapan pertahanan, Panther dapat dipasangi kanon GIAT M621 kaliber 20 mm. Karena berasal dari platform heli sipil, Panther tidak dibekali dengan senjata internal.
Dengan empat rudal, Panther bisa beraksi hingga radius 250 km. Sementara untuk misi SAR, Panther mampu mencapai radius 240 km dengan membawa angkutan enam korban. Endurance Panther mencapai 4,5 jam di udara. Sebagai heli SAR, Panther dilengkapi radar pencari Omera ORB 32 pada bagian moncong. Panther juga dibekali EFIS (electronic flight and information system) dengan lima layar besar untuk display di ruang kokpit. Panther dapat beropeasi lewat autopilot dengan dukungan teknologi Sagem dan navigasi berbasis computer Nadir MK2. Bila dibutuhkan, Panther pun dapat dipasangi turret FLIR (forward looking infra red) pada sisi badan pesawat. Keseluruhan sistem komunikasi mengadopsi navigasi inersial Nortrop Grumman dan GPS.
Meski penampakan Panther TNI AL telah terungkap ke publik, tapi belum jelas benar versi apa yang diadopsi, meski besar kemungkinan adalah AS 565 MB Panther. Mengutip informasi dari berbagai media, TNI AL akan membeli 11 unit Panther yang punya kemampuan AKS. Bahkan TNI AL lewat Puspenerbal akan menyiapkan skadron anyar, yaitu Skadron Udara 100. Dari segi penempatan, Panther nantinya akan ditempatkan di 4 korvet SIGMA class, di 3 unit korvet Nakhoda class, dan 2 PKR SIGMA 10514 (perusak kawal rudal). Sayangnya, hangar untuk heli baru bakal ada di PKR SIGMA 10514, sementara di korvet SIGMA dan korvet Nakhoda class tidak dilengkapi fasilitas hangar.
Setidaknya ada dua institusi yang menggunakan heli besutan Eurocopter ini, selain TNI AL, Basarnas juga memesan versi sipilnya, yaitu AS 365 AS-355 N3 Dauphin. Kesemua pesanan dirakit oleh PT DI. (Sam)

Spesifikasi Standar AS 565 Panther
Crew: 2 pilots
Capacity: 10 troops
Length: 13.68 m
Height: 3.97 m
Empty weight: 2.380 kg
Max takeoff weight: 4.300 kg
Powerplant: 2 × Turboméca Arriel 2C turboshaft, 635 kW (852 hp)
Main rotor diameter: 11.94 m
Main rotor area: 111.98 m2
Maximum speed: 306 km/h
Service ceiling: 5.865 m
Rate of climb: 8.9 m/s

beberapa pabrikan mokit ;
https://www.scalemates.com/search.php?fkSECTION%5B%5D=Kits&q=Eurocopter+AS365+Dauphin+AS.565*


Mokit rakitan modeller ;




rakitan Om Erwin Modelkit







Senin, 06 April 2015

Sukhoi Su-35






























AMERIKA PANAS !! MESKI DITENGAH ANCAMAN, RUSIA NEKAT KIRIM 11 UNIT JET TEMPUR SU-35 KE INDONESIA


SUKHOI Su-35

Sebuah proses yang cukup melelahkan sejak tahun 2015 akhirnya ada berita sbb;

Indonesia Pastikan Beli 11 Unit Jet Tempur Sukhoi Su-35 Kamis,27-07-2017
Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu memastikan bahwa sebelas unit jet tempur Sukhoi Su-35 akan didatangkan dari Rusia. Pembelian ini telah dinegosiasikan sejak dua tahun lalu dengan pemerintah Rusia.Pemerintah Indonesia memastikan akan memperkuat pertahanan udaranya dengan membeli sebelas unit jet tempur Sukhoi Su-35 buatan Rusia. Jumlah tersebut lebih banyak dari yang sebelumnya direncanakan, yaitu delapan unit.“Tadi membahas pembelian Sukhoi, (keputusan) sudah final. Setelah itu, kami akan membeli drone (pesawat tak berawak). Selain itu, kami juga membahas masalah regulasi siber,” kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di Istana Kepresidenan di Jakarta, Rabu (26/7), seperti yang diberitakan Antara.
Menurut Ryamizard, pembelian Su-35 ini telah dinegosiasikan sejak dua tahun lalu dengan pemerintah Rusia. “Membeli Sukhoi tidak seperti membeli kacang goreng. Kami memesan pesawat itu melalui berbagai tahapan, lalu berkoordinasi dengan presiden. Kami bolak-balik bernegosiasi. Saya pun ke sana (Rusia). Kami pesan, (pesawat) itu dibuat — tidak mudah membuatnya; lama,” ujarnya, seperti yang dikutip SINDOnews.
Menurut Ryamizard, pembelian pesawat tempur tersebut menggunakan mekanisme imbal dagang antara Indonesia dan Rusia. “Iya, 50 persen offset termasuk membangun pabrik untuk pemeliharaan sendiri — daripada bolak-balik ke sana (Rusia), biayanya mahal,“ jelasnya.
Keberadaan pabrik Sukhoi di Indonesia, kata Ryamizard, akan memberikan keuntungan tersendiri karena negara-negara tetangga yang menggunakan Sukhoi, seperti Malaysia dan Vietnam, akan membeli suku cadang dari pabrik di Indonesia. “Jadi, (negara) yang punya Sukhoi, seperti Malaysia dan Vietnam, perbaikannya akan di sini,” ungkapnya.
Selain itu, terkait rencana pembelian drone, Ryamizard menjelaskan pemerintah sedang mencari pesawat tanpa awak yang berkualitas dengan biaya yang terjangkau. Aspek transfer teknologi juga menjadi salah satu pertimbangan demi meningkatkan kemandirian industri pertahanan dalam negeri, kata menhan RI.
“Cukup beli sedikit, nanti kita kembangkan. Besok, saya akan minta (perwakilan) pabrik drone datang. Kami akan menguji coba mana yang bagus,” jelas Ryamizard.
sumber : https://indonesia.rbth.com/…/indonesia-pastikan-beli-11-uni…

 Ada pertanyaan sederhana yang mengganjal bagi kebanyakan orang awam yaitu ; apa sih bedanya Su-35 dengan Su-27 yang dipakai sebagai cikal bakalnya. Berikut jawabannya;
gambar atas adalah Su-35, gambar bawah Su-27

 Dan untuk membedakan keduanya ada beberapa ciri dan desain khusus yang bisa kita jadikan patokan secara mudah.
  1. Yang termudah adalah pada roda pendarat didepan. Su-27 menggunakan satu roda pendarat didepan, sedangkan Su-35 menggunakan roda pendarat double, terutama untuk mengakomodir beban radar, avionic dan persenjataan yang lebih berat.
  2. Bentuk kedua hidung pesawat tempur sedikit berbeda. Pada Su-27 cenderung besar untuk mengkomodir radar N001 VEP yang besar. Berbeda dengan Su-35 yang berdesain hidung lebih tajam dan lancip.
  3. Perbedaan lainnya pada probe pengisian bahan bakar. Su-35 dilengkapi probe pengisian disamping kiri kokpit, sedangkan pada Su-27 sebagian besar tidak dilengkapi probe pengisian bahan bakar. Hanya pada beberapa tipe sepeti Su-27 Indonesia produksi pabrikan KNAAPO yang sudah dilengkapi dengan perangkat tersebut.
  4. Perbedaan lainnya pada perangkat IRST (infra-red search and tracking). Su-27 menggunakan IRST tepat di center depan kokpit pilot, berbeda dengan Su-35 yang menggunakan IRST sedikit disisi kanan kokpit.
  5. Perbedaan lainnya terlihat disisi kanan dan kiri kokpit Su-27 yang dilengkapi antena avionic yang terlihat menonjol, hal tersebut tidak ditemukan pada Su-35 yang berdesain mulus dengan desain antenna yang mungil.
  6. Perbedaan lainnya pada desain punggung atas Su-27 yang terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan Su-35 yang memiliki bentuk punggung yang ramping.
  7. Perbedaan lainnya bisa dilihat pada tonjolan ekor diatas knalpot mesin kedua pesawat yang berbeda. Pada Su-27 terlihat adanya tambahan tonjolan disamping kanan dan kiri, sedangkan pada Su-35 terlihat mulus dengan hanya ada tonjolan kecil.
http://pustakadigitalindonesia.blogspot.co.id/2017/02/7-perbedaan-su-35-dan-su-27-flanker.html

dan jika ada lagi pertanyaan khalayak awam mengapa pilih Su-35 silahkan membaca di web ini ;
 https://indonesia.rbth.com/technology/2015/05/13/mengapa_angkatan_udara_indonesia_inginkan_su-35_27803 


 https://jakartagreater.com/rostec-pesawat-tempur-su-35-akan-dikirim-ke-indonesia/  


Moskow – Kontrak untuk pengiriman jet tempur Su-35 Rusia ke Indonesia telah disepakati, ujar konglomerasi industri dan pertahanan milik negara Rusia, Rostec, pada hari Selasa, 6/6/2017.“Kontrak untuk pengiriman Su-35 ke Indonesia telah disepakati dan akan ditandatangani tahun ini,” tulis kantor berita TASS mengutip pernyataan Viktor Kladov, Direktur Rostec bagian kerja sama internasional dan kebijakan regional. Nilai kontrak dan waktu penyampaian tidak disebutkan. Kantor berita RIA Novosti melaporkan bahwa Rusia tertarik dengan karet alam dan kelapa sawit Indonesia dengan imbalan pesawat tempur. Sebelumnya, media Indonesia melaporkan bahwa negara tersebut bermaksud untuk membeli 10 pesawat Su-35 dari Rusia untuk menggantikan armada F-5E Tiger II buatan Amerika. Jet tempur kursi tunga bermesin ganda Su-35 dikembangkan oleh produsen pesawat Sukhoi Rusia antara tahun 2003 dan 2008 sebagai versi pesawat tempur sangat modern dari Su-27. Angkatan Udara Indonesia sebelumnya telah membeli pesawat tempur Su-27 dan Su-30 asal Rusia.


http://nasional.sindonews.com/read/975981/14/satu-skuadron-sukhoi-su-35-jaga-langit-indonesia-1426217727

JAKARTA - Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan membeli satu skuadron pesawat tempur buantan Rusia, Sukhoi Su-35. Pesawat tempur generasi kelima itu akan menggantikan pesawat F-5 yang dinilai sudah tidak layak terbang. Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya membenarkan pesawat tempur Su-35 sudah masuk dalam rencana pembelian. Jumlah pesawat yang dibeli sebanyak 16 unit pesawat atau satu skuadron berikut persenjataannya. 

IndonesianMilitary.com - JAKARTA - TNI bersama Kementerian Pertahanan (Kemhan) sepakat memilih pesawat tempur generasi kelima Sukhoi (Su-35) buatan Rusia, sebagai pengganti pesawat F-5 yang sudah tidak layak terbang. Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyampaikan, keputusan pembelian pesawat tempur tersebut melalui proses yang panjang. Prosesnyawa diawali pembicaraan antara Pemerintah Indonesia dengan Rusia dan dilanjutkan antara Kemhan kedua negara tersebut. “Itu sudah menjadi pilihan bersama antara TNI dengan Kemhan dan sudah menjadi kesepakatan,” ujar Moeldoko usai mengikuti kegiatan TNI Mendengar dengan tema Ketahanan di Bidang Energi dengan Berbagai Permasalahan dan Solusinya di Aula Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (12/3/2015).

Wednesday, September 9, 2015


Akhirnya Sukhoi SU35

Kabar gembira itu memang harus dibagi karena penantian yang ditunggu dengan harapan yang sesuai dengan kenyataan sungguh menjadi sebuah definisi senyum yang mengagumkan. Di minggu pertama September ceria 2015 Menhan Ryamizard telah mengumumkan bahwa pilihan pada penggantian skuadron tempur F5E akhirnya ada pada jet tempur Sukhoi SU35 yang memang sangat dinantikan.
Semua kalangan tentu merasa gembira dengan keputusan itu. Si user TNI AU tentu bergembira karena jet tempur maut itu sudah digadang-gadang sejak lama. Mereka yang paham dengan mata rantai strategi pertahanan tentu menyambut hangat pilihan cerdas itu.  Soalnya ini menyangkut daya getar dan daya gentar yang mampu menyetarakan diri dengan lingkungan garis pertahanan di sekitarnya. Sukhoi SU35 adalah jet tempur yang sangat menggetarkan.
Asumsinya mudah saja. Jika kita pilih F15 atau F18 Hornet tentu “bacaan tempurnya” sudah ada di benak negara yang pakai alutsista itu.  Katakanlah Australia dan Singapura.  Belum lagi masalah down grade yang pasti akan dikancingkan pada setiap pesawat tempur yang dibeli oleh negara bukan sekutu penjual. Singapura dan Australia jelas sekutu AS, jadi jika kita pilih F15 atau F18 maka jelas tidak akan setara dengan yang dibeli Singapura atau Australia.  Kedua negara ini juga sudah memutuskan membeli jet tempur siluman F35.  Maka keputusan kita beli SU35 adalah dalam rangka “menyambut” kehadiran F35 itu sendiri.
Pilihan terhadap jet tempur Sukhoi SU35 sudah kita prediksi sejak lama.  Setidaknya ada dua tulisan yang bertemakan tentang jet tempur SU35.  Terbaru artikel tanggal 26 maret 2015 juga sudah kita publikasi baik di blog pribadi dan media sosial lainnya.  Intinya adalah hasrat yang kuat untuk mendapatkan pesawat tempur itu perlu didukung Kemhan, ternyata kemudian Kemhan mengamininya.
Dengan mendapatkan 1 skuadron jet tempur kelas berat Sukhoi SU35 tentu kewibawaan teritori udara NKRI semakin bergigi.  Jika ini terpenuhi maka jumlah Sukhoi Family yang dimiliki TNI AU berjumlah 32 unit dari seri SU27, SU30 dan SU35. Tentu kekuatan Sukhoi itu akan disempurnakan dengan adanya tambahan jet tempur F16 yang bisa mencapai 34 unit dalam satu tahun ke depan.
Kunjungan Presiden Jokowi ke AS akhir bulan depan diharapkan akan menghasilkan kesepakatan penjualan alutsista untuk Indonesia. Tentu untuk menyeimbangkan pasokan alutsista timur dan barat.  Sebagaimana yang pernah ditawarkan Presiden Obama setahun lalu, bahwa disamping program pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52 yang sedang berjalan, ditawarkan juga tambahan 1 skuadron F16 blok 60 dan 2 kapal perang jenis fregat OHP Class. Alutsista lainnya yang sudah pasti adalah 8 Heli tempur Apache berikut persenjataannya, 4 Heli angkut Chinook.
http://www.analisisalutsista.blogspot.co.id/2015/09/akhirnya-sukhoi-su35.html?m=1 

 Rencana TNI AU mengganti pesawat tempur F-5E/F Tiger II dengan Sukhoi Su-35 buatan Rusia semakin tampak jelas ke permukaan. Saat ini empat instruktur penerbang F-5 berpangkat mayor dari Skadron Udara 14, Madiun mulai mengikuti pendidikan terbang konversi ke pesawat Sukhoi Su-27/30 di Skadron Udara 11, Makassar.
by angkasa.co.id

Specifications (Su-35S)

General characteristics
Performance
  • Maximum speed:
    • At altitude: Mach 2.25 (2,390 km/h, 1,490 mph)
    • At sea level: Mach 1.15 (1,400 km/h, 870 mph)
  • Range:
    • At altitude: 3,600 km (1,940 nmi)
    • At sea level: 1,580 km (850 nmi)
  • Ferry range: 4,500 km (2,430 nmi) with 2 external fuel tanks
  • Service ceiling: 18,000 m (59,100 ft)
  • Rate of climb: >280 m/s (>55,000 ft/min)
  • Wing loading: 408 kg/m² (500.8 kg/m² with full internal fuel) (84.9 lb/ft² 50% fuel)
  • Thrust/weight: 1.13 at 50% fuel (0.92 with full internal fuel)
  • Maximum g-load: +9 g
Armament
  • Guns: 1× 30 mm GSh-301 internal cannon with 150 rounds
  • Hardpoints: 12 hardpoints, consisting of 2 wingtip rails, and 10 wing and fuselage stations with a capacity of 8,000 kg (17,630 lb) of ordnance and provisions to carry combinations of:
Avionics
https://en.wikipedia.org/wiki/Sukhoi_Su-35 



Kamis,26-11-2015 Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna menyatakan pemerintah RI telah sepakat memilih Sukhoi Su-35 buatan Rusia sebagai pesawat tempur pengganti skuadron F-5 Tiger yang telah uzur.


Mokitnya saya belum punya, dari googling beberapa pabrikan sudah banyak yang jualan seperti dibawah ini :
beberapa pabrikan mokit :





 


bbrp mokit rakitan modeller mancanegara :



Sayangnya sampai akhir Mei 2026 pesawat ini belum dibayar dan datang di Indonesia, mungkin karena terkena embargo Caatsa nya mamarica

Jakarta, IDM – Indonesia sempat berencana membeli pesawat tempur asal Rusia, SU-35 untuk mengganti pesawat tempur F-5 Tiger yang telah grounded pada 2016 lalu. Namun, rencana tersebut urung dilakukan lantaran terkendala dengan bayang-bayang ancaman sanksi Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) dari pihak Amerika Serikat (AS).

CAATSA merupakan kebijakan yang disahkan oleh Amerika Serikat saat masih berada di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

Lewat kebijakan tesebut, AS diketahui kerap memberikan sanksi kepada negara mitranya yang membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista), salah satunya dari Rusia.

“Aturan tersebut dirancang untuk memperluas hukuman berupa sanksi dan embargo yang diberikan pemerintahan AS sebelumnya kepada sejumlah negara yang membeli senjata dari Rusia atau Iran, serta menjalin hubungan dagang dengan Korea Utara,” tulis Kementerian Keuangan AS yang dilansir dari CNN Indonesia, Minggu (18/6).

Jika ditelisik, lahirnya kebijakan ini tidak terlepas dari pandangan politik AS yang berupaya untuk menangkal pengaruh Rusia, salah satunya dalam sektor pertahanan.

Dikutip dari sejumlah sumber, sanksi CAATSA diketahui pernah menimpa Turki pada Desember 2020. Saat itu, AS merilis sanksi CAATSA lantaran Turki diketahui membeli sistem S-400 dari Rusia.

AS menilai langkah Turki akan membahayakan keamanan teknologi dan personel militer AS. Dengan pembelian alutsista dari Rusia, Turki juga disebut menyediakan dana yang besar untuk sektor pertahanan Rusia serta akses Rusia ke Angkatan Bersenjata dan industri pertahanan Turki.

Pada akhirnya, AS menangguhkan dan menghapus Turki dari kemitraan global F-35 Joint Strike Fighter. Keputusan tersebut sekaligus menjadi indikasi tegas jika AS akan sepenuhnya menerapkan CAATSA Pasal 231 dengan tidak menolerir transaksi signifikan dengan sektor pertahanan dan intelijen Rusia. (yas)