Rabu, 31 Desember 2014

NAKAJIMA Ki-27 Nate (Nishikoren)









 








NAKAJIMA KI-27 Nate (Nishikoren)


Spesifikasi Umum
Negara asal                       :     Jepang
Pabrik                               :     Nakajima
Type                                 :     Pesawat Latih Buru
Tahun pembuatan              :     1938
Kekuatan motor                 :     450 daya kuda
Kecepatan maksimum        :     275 km/jam
Kecepatan Jelajah              :     220 km/jam
Panjang sayap                   :     11,64 m
Panjang badan                  :     7,64 m
     
 https://id.wikipedia.org/wiki/Nakajima_Ki-27
 Kinerja
Persenjataan
  • Senjata api: 2 × senapan mesin tipe 89 7,7 mm , 500 tembakan/senapan atau 1 x senapan mesin 12,7 dan 1 x senapan mesin 7,7 pada model-model akhir
  • Bom: 100 kg (220 lbs)
  Sejarah 

 8 - 11 - 1945  : Diterbangkan dari Pangkalan Udara Cibeureum (Tasikmalaya) ke Pangkalan Udara Maguwo (Yogyakarta) oleh Bapak Penerbang A. Adisutjipto. 
1945 - 1949   : Sebagai Pesawat Latih Pemburu 
1974   : Dibangun kembali oleh TNI AU 
1975   : Diabadikan di Museum ABRI Satria Mandala. 
2004   : Dibuat replikanya di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. 
 http://dirgantara.museumjogja.org/id/content/204-nishikoreng-replika
  
Pada 1945, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) mengambil alih sejumlah kecil pesawat di beberapa lapangan terbang, termasuk yang ada di Pangkalan Udara Bugis, Malang yang diserahkan kepada Indonesia pada 18 September 1945. Kebanyakan pesawat kemudian hancur dalam Perang Kemerdekaan Indonesia

Pesawat Nishikoren merupakan pesawat latih lanjut yang dikembangkan dari pesawat tempur Ki 27 "NATE" buatan pabrik Nakajima Jepang yang diproduksi tahun 19 3.   Menggunakan motor radial dingin angin Hitachi dengan kekuatan 450 daya kuda dengan kecepatan maksimum 275 km/jam dan kemampuan jelajah sejauh 220 km/jam.   Secara keseluruhan panjang pesawat 7,64 meter dan sayap 11,64 meter.  
Nishikoren adalah nama yang muncul di Indonesia yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Banteng”.   Pemerintah Jepang sendiri menyebutnya dengan Shiden Kai, sedangkan Sekutu menyebut dengan kode George.  Di Indonesia, pesawat Nishikoren ditemukan di Lanud Cibeureum Tasikmalaya dan Lanud Bugis Malang dalam keadaan rusak dan tidak layak terbang.   Salah satu Pesawat Nishikoren  bersama Pesawat  Cukiu dan Cureng  yang ada di Pangkalan Udara Bugis  Malang (sekarang Pangkalan Udara Abdulrachman saleh) di kirim ke Pangkalan Udara Panasan (Solo) yang  dipimpin oleh H. Sujono selaku Komandan Pangkalan.   Pangkalan Udara Panasan waktu itu tidak punya pesawat sementara di sana mempunyai 14 orang tenaga teknik.   Ketiga pesawat yang dalam keadaan rusak berat tersebut dibawa ke Panasan Solo dengan menggunakan Kereta api. 
    
Dipangkalan Udara Panasan ketiga Pesawat Nishikoren  bersama pesawat  Cukiu dan Cureng tersebut berhasil diperbaiki pada bulan September 1945. Selanjutnya secara bersamaan pula pada bulan September 1945 satu pesawat Nishikoren yang ada di Tasikmalaya (PU Cibeureum) berhasil diperbaiki.Untuk menunjukkan identitas bahwa pesawat tersebut adalah milik bangsa Indonesia, selanjutnya pesawat diberi identitas dengan warna merah putih dengan menambahkan cat putih setengah dari bulatan berwarna merah lambang bendera Jepang yang telah ada dibadan pesawat.   Walaupun pesawat berhasil diperbaiki  dan siap untuk terbang, tapi penerbangnya belum ada untuk test flight.  M. Jacoeb memberanikan diri menghadap KNI Tasikmalaya setelah mendapat ijin dari Toeloes Mertoadmodjo, supaya diijinkan untuk menerbangkannya.  Tetapi ketika ditanya oleh KNI, demikian pertanyaannya “apakah Jacoeb memiliki brevet”,  dan dijawab dengan jujur dan lantang tidak punya.  Maka KNI secara tegas tidak mengkabulkan keinginannya menerbangkan Pesawat Nishikoren yang ada di Pangkalan Udara Cibeureum.
     
Setelah menunggu beberapa hari dan tidak ada penerbang yang akan melakukan test flight, maka para teknisi tersebut kembali ke Bandung pada tanggal 25 September 1945.Ketika Basyir Surya berada di Yogyakarta ia melaporkan kepada Agustinus Adisutjipto bahwa di Cibeureum ada dua pesawat  yang sudah diperbaiki dan  siap  diterbangkan.  Mendapat informasi tersebut pada tanggal 2 November 1945 Agustinus Adisutjipto bersama dengan Basyir Surya dan Tarsono Rudjito berangkat ke Cibeureum naik kereta api.  Keesokan harinya yaitu tanggal 3 November 1945 Agustinus Adisutjipto bersama dengan Basyir Surya dan Tarsono Rudjito sampai di Pangkalan Udara Cibeureum.  Kegiatan sesampai di Pangkalan Udara Cibeureum adalah melihat-lihat kondisi Pesawat Nishikoren yang telah berhasil diperbaiki oleh para Teknisi.  Setelah diteliti ternyata sayap kiri pesawat Nishikoren tidak dapat berfungsi dengan baik.   Selanjutnya sesuai kesepakatan bersama dengan Agustinus Adisutjipto, Basyir Surya meminta waktu tiga hari untuk memperbaikinya sayap pesawat yang tidak berfungsi dengan baik tersebut.
     
Setelah diperbaiki tepatnya tanggal 7 November 1945 diadakan test Flight, percobaan terbang Pesawat Nishikoren “Banteng” dan berhasil mengelilingi kota Tasikmalaya selama 30 menit, untuk take off dan landing di Lapangan Terbang Cibeureum. Percobaan menerbangkan pesawat Nishikoren itu dilakukan secara berulang-ulang, keesokan harinya tanggal 8 November 1945 diadakan terbang percobaan kembali oleh Agustinus Adisutjipto yang didampingi oleh Tarsono Rudjito, begitu juga tanggal 9 November 1945 uji coba kembali dilakukan oleh Agustinus Adisutjipto yang didampingi oleh Basyir Surya berkeliling di atas wilayah Tasikmalaya.

Kesiapan dari seluruh pesawat yang telah diperbaiki para teknisi itu dipertunjukkan, pada tanggal 27 Agustus 1946, Nishikoren bersama pesawat Cukiu dan Curen yang berjumlah 6 buah pesawat mengadakan terbang formasi.    Rute terbang formasi tersebut dari Yogyakarta menuju Pangkalan Udara Cibeureum Tasikmalaya.  Dari Tasikmalaya penerbangan dilanjutkan  ke Pangkalan Udara Gorda Banten.   Di Gorda terpaksa sebuah Pesawat Cureng ditinggalkan  karena mengalami kerusakan mesin. Keesokan harinya dilanjutkan penerbangan ke Pangkalan Udara Branti Lampung.  Kelima pesawat kembali ke Maguwo lewat Gorda.   Di Gorda ditinggalkan lagi sebuah pesawat Cukiu karena kerusakan mesin.   Dalam perjalanan pulang ke Maguwo tiga pesawat melakukan pendaratan darurat.

Nishikoren pernah berperan dalam proses carter pesawat RI-002 Dakota.  Ketika penerbang Pesawat Dakota Bobby Earl Freeberg menghadap Kepala Staf Angkatan Udara Laksamana Udara Surjadi Suryadarma ke Markas AURI di Yogyakarta.  Waktu itu Pesawat Dakota yang diterbang­kannya mendarat di Pangkalan Udara Cibeureum Tasikmalaya setelah  berhasil lepas landas dari Pantai Cikalong, pantai Selatan Jawa Barat dekat Tasikmalaya yang sebelumnya mendarat darurat disana.   Nishikoren yang berkapaitas dua orang waktu itu diisi oleh tiga orang.  Kursi depan untuk penerbang Soenario alias “Betet”, Bob dan Petit berdesakan di kursi belakang tanpa parasut. 

Sekitar bulan Maret 1946, M Jacoeb menemukan sebuah pesawat jenis Nishikoren berada di tengah lapangan terbang Maguwo, dekat satu kuburan tempat penimbunan pesawat pesawat peninggalan Jepang.  Pesawat ini tidak termasuk dalam daftar inventaris yang masih dapat diperbaiki lagi, sudah dianggap terlalu parah.   Waktu itu M. Jacoeb  bertugas sebagai Kepala  Startdiens yang menyiapkan pesawat untuk latihan para siswa penerbang. M. Jacoeb  memperhatikan pesawat yang satu itu.  Secara diam-diam dalam waktu senggang ia melihat-lihat serta memperhatikan mengutak-atik atau mencoba memperbaikinya dengan penuh kesabaran dan keyakinan.   Ia memperbaiki dan mengganti berbagai komponen dan peralatan yang rusak yang diambil dari pesawat lainnya.   Berkat ketekunan dan kemampuannya akhirnya berhasil memperbaiki dan siap dilaksanakan test flight.  Untuk test flight, Adisutjipto menyarankan agar test flight  dilakukan oleh Suhanda (orang Jepang). Sementara test pilot itu ada persyaratannya mau mencoba, asalkan Jacoeb sendiri sebagai teknisi pesawat tersebut, ikut terbang.Persayaratan tersebut tidak menjadikan suatu hambatan, akhirnya dengan senang hati Jacoeb menganggap bahwa pesawat yang berhasil diperbaikinya  itu sebagai kepunyaannya sendiri, karena tidak termasuk dalam inventaris.Karena sudah merasa milik sendiri, akhirnya waktu itu tanda pengenal berbentuk bulat berwarna merah putih, maka tanda identitas bulat merah putih digambari kepala Banteng.   Jacoeb memilih gambar kepala Banteng karena pada waktu itu para pejuang Indonesia memiliki semangat menjadi hewan banteng sebagai lambang semangat perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah atau lebih dikenal dengan istilah semangat “banteng ketaton” (banteng yang luka).Menurut M. Jacoeb “Banteng” itu termasuk binatang pendiam, tetapi kalau sudah dilukai atau diganggu, tindakannya atau keberaniannya menjadi luar biasa, sulit untuk ditahan.   Berbahaya bagi yang mengganggu, dan sama sekali gambar kepala banteng yang saya lukis dipesawat, tidak ada hubungannya dengan gambar banteng lainnya yang dijadikan simbol suatu partai politik atau organisasi lainnya”.
https://www.kaskus.co.id/thread/54ee9370bdcb17747f8b4581/mengenal-pesawat-pesawat-tni-au/

catatan dari wikipedia:http://en.wikipedia.org/wiki/Nakajima_Ki-27
In 1945, Indonesian People's Security Force (IPSF) (Indonesian pro-independence guerrillas) captured a small number of aircraft at numerous Japanese air bases, including Bugis Air Base in Malang (repatriated 18 September 1945). Most aircraft were destroyed in military conflicts between the Netherlands and the newly proclaimed-Republic of Indonesia during the Indonesian National Revolution of 1945-1949.

catatan dari RS Models http://old.rsmodels.cz/?link=view&id=92011
In 1935 the Japanese Army held a competition between Nakajima, Mitshubishi and Kawasaki to desing a low-wing monoplane.The results were Ki- 27, Ki- 28 and Ki -33, and the army chose the Nakajima aircraft for its outstanding tuen performace, and officially adopted it for use in 1937. The new Ki -27 was created as a modern, streamlined design, ther chief design engineer was Koyama Yasushi.
The Ki- 27 was the army’s main fighter until start of WW II.In the 1939 Battle of Chalchin-Gol where the Japanese Army gought the Soviets twice in Mongolia, it faced I-15
and I-16, and owerwhelmed them with its maneuvrability, downing total of 1252 enemy aircraft, the Ki-27 served until the beginning of WW II in the Pacific, and was replaced by the Ki-43, continuing toserve as a trainer. It was also exported for use with Manchukuo and Thai forces, seeing combat with both .

Mokitnya saya belum punya.




Mokit rakitan modeller:
 



 Mokit dari beberapa pabrikan :









Tidak ada komentar:

Posting Komentar