Menurut catatannya pesawat ini sempat digunakan sebagai pesawat
pendamping dalam penerbangan cross country pesawat Si Kunang dan
Belalang ( kisahnya bisa di baca di https://aviahistoria.com/2017/09/20/kisah-si-kunang-dan-belalang-taklukan-jawa/ ) informasi mengenai operasional pesawat ini masih sedikit dan kemungkinan digunakan oleh AURI sampai tahun 70an.. . .Sumber gambar : Mengenal Djenis Pesawat Terbang (1970) / Akademi Angkatan Bersendjata RI Bagian Udara
Ditengah membludaknya produk miniatur pesawat terbang dari bahan plasik (rakitan) dan logam (diecast) yang telah siap pajang ada pula Perajin miniatur pesawat terbang ini biasanya membuat dengan bahan fiber dan untuk keperluan display statis perusahaan. Selain itu ada pula yang membuat dari bahan kayu, biasanya untuk keperluan display atau koleksi pribadi. Nah bahkan ada juga yang membuat dari bahan gabus styreoform. Terakhir bahan styreoform juga dibuat untuk miniatur pesawat Remote Control (RC)
Inilah beberapa perajin bahan fiber yg spesialis miniatur pesawat TNI-AU
Aeroprint Alex workshop berada dijl raya asrikaton dekat abd saleh
WA 089692941115, Malang Jatim
Ternyata Begini Cara Membuat Miniatur Pesawat | TAU GAK SIH (24/12/19)
Replika Pesawat Terbang Made in Cimahi
5 PENGERAJIN MINIATUR PESAWAT
Miniatur Pesawat Karya Anak Bangsa - NET5
LIMBAH GABUS JADI REPLIKA PESAWAT
TERBANG BERNILAI JUTAAN RUPIAH
Sulap Limbah Styrofoam Menjadi Pesawat Nirawak (RC)
UMKM STYROFOAM BEKAS DIUBAH
MENJADI PESAWAT AEROMODELING
Imama Santoso, tinggal di gang kecapi ceger
perajin kayu miniatur pesawat
HP 085772009472
Pesawat ini terlihat asli dengan scheme Jepang, karena memang tidak pernah digunakan oleh AURI
Keberadaanya di Museum Pusat Dirgantara Mandala adalah seperti pesawat Boeing Kaydet, Hawker Hunter, sebagai bukti sejarah..pernah ada di tanah air kita dan digunakan oleh bala tentara Jepang.
Mitsubishi AM6 Zero Imperial Japanese Navy Walkaround Video. DJI Osmo Pocket + Gopro 7
AIRSPACE REVIEW
(airspace-review.com) – Warisan alutsista bekas peninggalan Perang Dunia II
kembali ditemukan. Sebanyak empat pesawat milik militer Jepang peninggalan
Perang Pasifik ditemukan akhir September 2019 oleh para peneliti dari Balai
Arkeologi Papua. Seperti dikutip dari laman Tempo, keempat pesawat ditemukan di
perairan Pulau Rouw, Kepulauan Auri, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama,
Papua Barat. Disebutkan, pesawat berada pada kedalaman satu meter dan akan
terlihat dengan jelas saat air laut dalam kondisi surut. Kondisi pesawat yang
ditemukan sudah dalam keadaan tak utuh lagi. Selain itu bangkai pesawat telah
diselimuti oleh terumbu karang dan menjadi rumah ikan. Namun demikian, para
arkeolog masih dapat mengenali jenis pesawat yang terkubur di perairan Teluk
Cendrawasih tersebut. Bangkai burung besi yang ditemukan, terdiri dari tiga
pesawat tempur A6M2 Zero dan sebuah
pembom G4M2 Betty.
Kedua jenis pesawat dibuat oleh pabrik Mitsubishi Heavy Industry. Diperkirakan,
pesawat-pesawat ini berhasil dirontokkan oleh pesawat tempur Amerika Serikat
dalam pertempuran yang berlangsung pada 27 Mei hingga 20 Juni 1944.
Dalam catatan sejarah,
pesawat tempur A6M Zero dikenal sebagai pesawat
yang lincah dan andal. Pesawat ini disegani para lawan terutama saat pertempuran
udara jarak dekat. Kehadiran Zero dibuat atas
pesanan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang untuk menggantikan pesawat tempur garis
depan A5M yang juga dibuat oleh Mitsubishi. Pesawat A6M Zero mulai
menjalani penerbangan perdana pada 1 April 1939 dan resmi masuk dinas tanggal 1
Juli 1940. Pesawat berawak tunggal ini memiliki panjang badan 9, 06 m, rentang
sayap 12 m, dan tinggi 3,05 m. A6M Zero ditenagai
sebuah mesin piston radial Nakajima NK1C Sakae-12 14 silinder berdaya 950 hp. Pesawat
memiliki kecepatan terbang maksimum 533 km/jam dan ketinggian terbang maksimum
10.000 m. Radius tempurnya pada kisaran 1.870 km atau terbang feri sejauh
3.102 km.
Karier A6M Zero sendiri
berakhir bersamaan dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu tahun 1945. Total
sebanyak 10.939 unit Zero berhasil
diproduksi dari tahun 1940 hingga 1945. Penemuan bangkai A6M Zero di
Tanah Air bukanlah untuk pertama kalinya. Sebelumnya pada 1980-an, juga telah
ditemukan beberapa pesawat tempur peninggalan militer Jepang di daratan Papua
Barat. Salah satunya adalah A6M2 Zero dalam
kondisi utuh. Selanjutnya pesawat dibawa ke Jawa untuk direstorasi. Pesawat
tersebut menjadi koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla)
Yogyakarta sejak 1984.
Nomor ekor (tail number) pada pesawat dan helikopter milik
TNI-AU (Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Udara) memiliki makna
tertentu terkait fungsi dan urutan kepemilikan.
Nomor ekor di pesawat militer menyatu dengan identitas pesawat itu
sendiri, kadang dipasang tidak menyolok untuk menjaga kerahasiaan.
Sistem penomoran ekor berbeda-beda di setiap negara. TNI-AU sendiri
memiliki sistem penomoran khusus berupa satu atau dua digit huruf,
diikuti empat digit angka.
Digit berupa huruf menandakan fungsi pesawat, TT sebagai Tempur
Taktis, TS sebagai Tempur Strategis, A sebagai Angkut, H sebagai
Helikopter. Terkadang menggunakan kombinasi, AI sebagai pesawat Angkut
yang berfungsi sebagai Intai.
Untuk pesawat latih, TNI-AU memberikan dua digit, LM sebagai Latih Mula (setara dengan primary trainer), LD sebagai Latih Dasar (intermediate/basic trainer), dan LL sebagai Latih Lanjut (advanced trainer).
Ada pula LK sebagai Latih Khusus walaupun saat ini sudah tidak ada
lagi. Untuk helikopter yang berfungsi sebagai helikopter latih
disediakan HL atau Helikopter Latih serupa dengan pesawat tempur
berkursi tandem, disebut TL atau Tempur Latih.
Sebelumnya atau era AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia)
menggunakan huruf dari Bahasa Inggris, F untuk Fighter, T untuk
Transport, H untuk Helicopter, dan M untuk Bomber, bukan B karena sudah
digunakan untuk pesawat latih dasar. Tahun 1971 registrasi ini diubah
menjadi yang dikenal seperti sekarang.
Untuk digit angka merupakan nomor tipe pesawat itu, diambil dua urut
pertama dan berikutnya urutan kepemilikan. Jadi bila menemukan nomor
ekor A-1301, berarti pesawat itu adalah Lockheed C-130 yang merupakan
pesawat pesanan pertama. Demikian juga dengan TS-2701, pesawat tempur
Sukhoi Su-27 pesawat pertama. Sedangkan Fokker F27 pesanan pertama juga
mendapat angka empat digit yang sama, 2701, tapi karena fungsinya
sebagai angkut maka nomor ekornya menjadi A-2701.
Walaupun nomor selalu berurut, kadang ada pula diberi nomor cantik seperti pada Hercules versi angkut VIP (Very Important People)
milik Skadron 17 yang memiliki nomor A-1314 dan A-1341. Bila
dijumlahkan angka itu menghasilkan angka 9, angka hoki/keberuntungan.
Nomor itu juga diterapkan pada satu-satunya Boeing 707 milik Skadron 17
yang seharusnya A-7001 justru menjadi A-7002.
Nomor cantik diterapkan pula pada pesawat VIP lainnya, tiga unit
Lockheed C-140 Jetstar kebanggaan Presiden Soekarno hadiah dari Presiden
Amerika Serikat, John F. Kennedy. Ketiga pesawat eksekutif jet ini
masing-masing bernomor T-1646 yang merupakan tanggal lahirnya Pancasila,
1 Juni 1946, T-17845 terinspirasi dari tanggal kemerdekaan Republik
Indonesia, 17 Agustus 1945, dan T-9446 yang merupakan hari lahir TNI-AU,
9 April 1946. (Aviahistoria.com, Sejarah Penerbangan Indonesia) https://aviahistoria.com/2017/11/27/nomor-ekor-pesawat-milik-tni-au/
Gandiwa nantinya dilengkapi dua engine dengan empat bilah blade komposit
dan dilengkapi wing pylon untuk men-support persenjataan yang dibawa.
Basis platform Gandiwa mencomot dari struktur NBell 412, termasuk main
rotor, tail rotor, engine dan gearbox tidak mengalami perubahan besar
dari basis NBell 412 yang dilengkapi dua mesin Pratt & Whitney
PT6T-3D Twin Pac. Namun avionik dan sistem diubah dan disesuaikan dengan
kebutuhan utama helikopter serang. Untuk memudahkan pilot dalam
menjalankan misinya digunakan glass cockpit avionic system. Penambahan
sistem senjata dan firing control juga menjadi hal utama dalam
pengembangan helikopter ini.
Penampakan Gandiwa, Helikopter Tempur Nasional
Gandiwa, Helikopter Tempur Nasional
Dengan modal penguasaan platform dasar pembuatan helikopter, PT DI bekerjasama dengan Dislitbang TNI AD merumuskan sosok helikopter tempur (gunship) rancangan sendiri. Tapi perlu dicatat, helikopter yang diberi label Gandiwa masih dalam tataran konsep, paling banter ya baru dalam tahap Proof of Concept (PoC), berbeda dengan UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau drone Wulung untuk kebutuhan TNI AU yang prototipe-nya terbilang sudah sukses mengudara. Gandiwa adalah panah sakti milik Arjuna yang dilengkapi tabung berisi panah tak hingga jumlahnya.
Dalam konsepnya, heli tempur Gandiwa dirancang memiliki kemampuan menyergap target darat, seperti infanteri dan kendaraan lapis baja dan mampu membawa rudal udara ke udara untuk pertahanan diri. Selain memberikan dukungan udara bagi pasukan darat, Gandiwa merupakan anti-tank, untuk menghancurkan kendaraan lapis baja lawan. Singkat kata, peran Gandiwa tak ubahnya AH-64 Apache.
Gandiwa nantinya dilengkapi dua engine dengan empat bilah blade komposit dan dilengkapi wing pylon untuk men-support persenjataan yang dibawa. Basis platform Gandiwa mencomot dari struktur NBell 412, termasuk main rotor, tail rotor, engine dan gearbox tidak mengalami perubahan besar dari basis NBell 412 yang dilengkapi dua mesin Pratt & Whitney PT6T-3D Twin Pac. Namun avionik dan sistem diubah dan disesuaikan dengan kebutuhan utama helikopter serang. Untuk memudahkan pilot dalam menjalankan misinya digunakan glass cockpit avionic system. Penambahan sistem senjata dan firing control juga menjadi hal utama dalam pengembangan helikopter ini.
Berat dan distribusi berat tidak berubah banyak dari basis NBell 412. Namun penumpang dan payload yang biasa dibawa, diganti menjadi senjata dan amunisi. Senjata yang digunakan pada helikopter tempur ini dapat mencakup auto kanon machine-guns, roket, dan peluru kendali seperti Hellfire. Konfigurasi Gandiwa juga tandem seat, khas helikopter tempur. Posisi pilot ada di bagian belakang, dan gunner ada di kokpit bagian depan.
Mengenai kiblat Gandiwa dengan platform NBell 412, boleh jadi karena kedekatan PT DI dengan pihak Bell Helicopter Textron. Sehingga akan lebih mudah dalam urusan negosiasi, ijin, lisensi dan kaitan lain seperti ToT. Untuk kilbat avionik dan sistem senjata, tak pelak Gandiwa mengusung standar teknologi NATO yang memang sudah akrab di kalangan industri strategis Dalam Negeri. Bila melihat dari sisi desain, nampak bahwa Gandiwa merupakan hasil konsep ‘gado-gado’ antara AH-64 Apache dan AH-1 Cobra. Sentuhan Apache terlihat dari adopsi chain gun laras tunggal M230 kaliber 30 mm, berikut pada konfigurasi roda. Sementara sentuhan AH-1 Cobra terlihat pada rancangan bentuk kokpit, konfigurasi mesin, dan posisi hardpoint untuk senjata. Sebagai informasi, AH-1 Cobra satu induk produksi dengan NBell 412, yakni buatan Bell Textron di AS
Lalu dengan segala paparan diatas, muncul pertanyaan, apakah Gandiwa nantinya akan benar-benar dikembangkan oleh pihak PT DI? Jawabannya belum bisa dipastikan, namun, beberapa kalangan menyangsikan pengembangan Gandiwa lebih lanjut, termasuk ke tahap pembuatan prototipe yang di nilai bakal menguras dana dalam jumlah besar. Tapi masa depan sulit untuk ditebak, arah kebijakan, strategi, dan pengembangan alutista bisa saja bergeser seiring dengan visi dan misi pemerintahan baru di Indonesia. (Rajab)
Spesifikasi Gandiwa
Awak : 2 (pilot, and co-pilot/gunner)
Panjang : 17,1 meter
Diameter rotor : 14 meter
Berat kosong : 3.079 kg
Berat maksimum take off : 5.397 kg
Mesin : 2 × Pratt & Withney Canada. PT6T-3BE Twin Pac Turboshafts, 900 shp (671 kw) each
Kecepatan maksimum : 259 km per jam
Kecepatan jelajah : 226 km per jam
Jangkauan terbang : 745 km
Tinggi terbang maks : 6.096 meter
Kecepatan menanjak : 6,86 meter per detik
Persenjataan : M230 Chain Gun with 1,200 rounds
Hardpoints : Four pylon stations on the stub wings.
Proses perakitan sebuah modelkit plastik menurut saya ya ikuti aja sesuai lembar perakitan yang sudah ada disetiap kotak mokit, kegiatannya adalah ;
Mencopot bagian bagian mokit dari sprue dari pabrik, ini juga tidak bisa di standarkan harus yang mana dahulu. Kalau saya sih duluan sayap utama, sayap ekor dan badan pesawat dulu, diamplas dan dilakukan fitting. Ada juga yang dilepaskan semua dahulu berkeping-keping kemudian diamplas serta dilakukan fitting,
Setelah dilepas dan dihaluskan biasanya ada yang sudah bisa dilakukan
pendempulan,
riveting
shading
pengecatan
Merekatkan bagian-bagian yang sudah kita amplas sesuai dengan urutan pada lembar perakitan biasanya sih ngerjain cockpit dulu, trus skaligus ngecatnya...karena bagian ini akan langsung ketutup canopi dan badan pesawat.
Kalo untuk pesawat angkut ya hampir sama cockpit dan interior cabin, sampai ke ruang cargo, skaligus rampdoor jika ada
Kalo pesawat bermesin baling-baling, biasa juga dikejakan perekatannya bebarengan dengan cockpit sekaligus pengecatannya, karena bagian ini akan langsung direkat dengan sayap pesawat yang skaligus dengan badan pesawat
Pada proses perekatan ini skaligus sudah bermain pendempulan untu bagian2 yang terlihat tidak rapat seperti antara pangkal sayap dengan badan pesawat, sekaligus proses pengamplasannya agar saat dilakukan pengecatan telah mulus halus
Setelah di rekat dan sebagian daleman dicat, maka proses selanjutnya adalah pengecatan badan pesawat; Biasanya diberi cat dasar dulu