AMERIKA PANAS !! MESKI DITENGAH ANCAMAN, RUSIA NEKAT KIRIM 11 UNIT JET TEMPUR SU-35 KE INDONESIA
SUKHOI Su-35
Sebuah proses yang cukup melelahkan sejak tahun 2015 akhirnya ada berita sbb;
Indonesia Pastikan Beli 11 Unit Jet Tempur Sukhoi Su-35 Kamis,27-07-2017
Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu memastikan bahwa sebelas unit
jet tempur Sukhoi Su-35 akan didatangkan dari Rusia. Pembelian ini telah
dinegosiasikan sejak dua tahun lalu dengan pemerintah Rusia.Pemerintah Indonesia memastikan akan memperkuat pertahanan udaranya
dengan membeli sebelas unit jet tempur Sukhoi Su-35 buatan Rusia. Jumlah
tersebut lebih banyak dari yang sebelumnya direncanakan, yaitu delapan
unit.“Tadi membahas pembelian Sukhoi, (keputusan) sudah final.
Setelah itu, kami akan membeli drone (pesawat tak berawak). Selain itu,
kami juga membahas masalah regulasi siber,” kata Menteri Pertahanan
Ryamizard Ryacudu di Istana Kepresidenan di Jakarta, Rabu (26/7),
seperti yang diberitakan Antara.
Menurut Ryamizard, pembelian Su-35 ini telah dinegosiasikan sejak dua tahun lalu dengan pemerintah Rusia. “Membeli Sukhoi tidak seperti membeli kacang goreng. Kami memesan
pesawat itu melalui berbagai tahapan, lalu berkoordinasi dengan
presiden. Kami bolak-balik bernegosiasi. Saya pun ke sana (Rusia). Kami
pesan, (pesawat) itu dibuat — tidak mudah membuatnya; lama,” ujarnya,
seperti yang dikutip SINDOnews.
Menurut Ryamizard, pembelian
pesawat tempur tersebut menggunakan mekanisme imbal dagang antara
Indonesia dan Rusia. “Iya, 50 persen offset termasuk membangun pabrik
untuk pemeliharaan sendiri — daripada bolak-balik ke sana (Rusia),
biayanya mahal,“ jelasnya.
Keberadaan pabrik Sukhoi di
Indonesia, kata Ryamizard, akan memberikan keuntungan tersendiri karena
negara-negara tetangga yang menggunakan Sukhoi, seperti Malaysia dan
Vietnam, akan membeli suku cadang dari pabrik di Indonesia. “Jadi,
(negara) yang punya Sukhoi, seperti Malaysia dan Vietnam, perbaikannya
akan di sini,” ungkapnya.
Selain itu, terkait rencana pembelian
drone, Ryamizard menjelaskan pemerintah sedang mencari pesawat tanpa
awak yang berkualitas dengan biaya yang terjangkau. Aspek transfer
teknologi juga menjadi salah satu pertimbangan demi meningkatkan
kemandirian industri pertahanan dalam negeri, kata menhan RI.
“Cukup beli sedikit, nanti kita kembangkan. Besok, saya akan minta
(perwakilan) pabrik drone datang. Kami akan menguji coba mana yang
bagus,” jelas Ryamizard.
Ada pertanyaan sederhana yang mengganjal bagi kebanyakan orang awam yaitu ; apa sih bedanya Su-35 dengan Su-27 yang dipakai sebagai cikal bakalnya. Berikut jawabannya;
gambar atas adalah Su-35, gambar bawah Su-27
Dan untuk
membedakan keduanya ada beberapa ciri dan desain khusus yang bisa kita jadikan
patokan secara mudah.
Yang termudah adalah pada roda
pendarat didepan. Su-27 menggunakan satu roda pendarat didepan, sedangkan
Su-35 menggunakan roda pendarat double, terutama untuk mengakomodir beban
radar, avionic dan persenjataan yang lebih berat.
Bentuk kedua hidung pesawat
tempur sedikit berbeda. Pada Su-27 cenderung besar untuk mengkomodir radar
N001 VEP yang besar. Berbeda dengan Su-35 yang berdesain hidung lebih
tajam dan lancip.
Perbedaan lainnya pada probe
pengisian bahan bakar. Su-35 dilengkapi probe pengisian disamping kiri
kokpit, sedangkan pada Su-27 sebagian besar tidak dilengkapi probe pengisian
bahan bakar. Hanya pada beberapa tipe sepeti Su-27 Indonesia produksi
pabrikan KNAAPO yang sudah dilengkapi dengan perangkat tersebut.
Perbedaan lainnya pada
perangkat IRST (infra-red search and tracking). Su-27 menggunakan IRST
tepat di center depan kokpit pilot, berbeda dengan Su-35 yang menggunakan
IRST sedikit disisi kanan kokpit.
Perbedaan lainnya terlihat
disisi kanan dan kiri kokpit Su-27 yang dilengkapi antena avionic yang
terlihat menonjol, hal tersebut tidak ditemukan pada Su-35 yang berdesain
mulus dengan desain antenna yang mungil.
Perbedaan lainnya pada desain
punggung atas Su-27 yang terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan Su-35
yang memiliki bentuk punggung yang ramping.
Perbedaan lainnya bisa dilihat
pada tonjolan ekor diatas knalpot mesin kedua pesawat yang berbeda. Pada
Su-27 terlihat adanya tambahan tonjolan disamping kanan dan kiri,
sedangkan pada Su-35 terlihat mulus dengan hanya ada tonjolan kecil.
dan jika ada lagi pertanyaan khalayak awam mengapa pilih Su-35 silahkan membaca di web ini ;
https://indonesia.rbth.com/technology/2015/05/13/mengapa_angkatan_udara_indonesia_inginkan_su-35_27803
Moskow – Kontrak
untuk pengiriman jet
tempur Su-35 Rusia ke Indonesia telah disepakati, ujar konglomerasi
industri dan pertahanan milik negara Rusia, Rostec, pada hari Selasa, 6/6/2017.“Kontrak
untuk pengiriman Su-35 ke Indonesia telah disepakati dan akan ditandatangani
tahun ini,” tulis kantor berita TASS mengutip pernyataan Viktor Kladov,
Direktur Rostec bagian kerja sama internasional dan kebijakan regional. Nilai
kontrak dan waktu penyampaian tidak disebutkan. Kantor berita RIA Novosti
melaporkan bahwa Rusia tertarik dengan karet alam dan kelapa sawit Indonesia dengan
imbalan pesawat tempur. Sebelumnya, media Indonesia melaporkan bahwa negara
tersebut bermaksud untuk membeli 10 pesawat Su-35 dari Rusia untuk menggantikan
armada F-5E Tiger II buatan Amerika. Jet tempur kursi tunga bermesin ganda
Su-35 dikembangkan oleh produsen pesawat Sukhoi Rusia antara tahun 2003 dan
2008 sebagai versi pesawat tempur sangat modern dari Su-27. Angkatan Udara
Indonesia sebelumnya telah membeli pesawat tempur Su-27 dan Su-30 asal Rusia.
JAKARTA -
Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan membeli satu skuadron pesawat tempur
buantan Rusia, Sukhoi Su-35. Pesawat tempur generasi kelima itu akan
menggantikan pesawat F-5 yang dinilai sudah tidak layak terbang. Wakil Ketua Komisi I DPR Tantowi Yahya membenarkan pesawat tempur Su-35 sudah
masuk dalam rencana pembelian. Jumlah pesawat yang dibeli sebanyak 16 unit
pesawat atau satu skuadron berikut persenjataannya.
IndonesianMilitary.com - JAKARTA - TNI bersama Kementerian
Pertahanan (Kemhan) sepakat memilih pesawat tempur generasi kelima
Sukhoi (Su-35) buatan Rusia, sebagai pengganti pesawat F-5 yang sudah
tidak layak terbang.
Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyampaikan, keputusan pembelian pesawat
tempur tersebut melalui proses yang panjang. Prosesnyawa diawali
pembicaraan antara Pemerintah Indonesia dengan Rusia dan dilanjutkan
antara Kemhan kedua negara tersebut.
“Itu sudah menjadi pilihan bersama antara TNI dengan Kemhan dan sudah
menjadi kesepakatan,” ujar Moeldoko usai mengikuti kegiatan TNI
Mendengar dengan tema Ketahanan di Bidang Energi dengan Berbagai
Permasalahan dan Solusinya di Aula Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur,
Kamis (12/3/2015).
Wednesday, September 9, 2015
Akhirnya Sukhoi SU35
Kabar gembira itu memang harus dibagi karena penantian yang ditunggu dengan harapan yang sesuai dengan kenyataan sungguh menjadi sebuah definisi senyum yang mengagumkan. Di minggu pertama September ceria 2015 Menhan Ryamizard telah mengumumkan bahwa pilihan pada penggantian skuadron tempur F5E akhirnya ada pada jet tempur Sukhoi SU35 yang memang sangat dinantikan.
Semua kalangan tentu merasa gembira dengan keputusan itu. Si user TNI AU tentu bergembira karena jet tempur maut itu sudah digadang-gadang sejak lama. Mereka yang paham dengan mata rantai strategi pertahanan tentu menyambut hangat pilihan cerdas itu. Soalnya ini menyangkut daya getar dan daya gentar yang mampu menyetarakan diri dengan lingkungan garis pertahanan di sekitarnya. Sukhoi SU35 adalah jet tempur yang sangat menggetarkan.
Asumsinya mudah saja. Jika kita pilih F15 atau F18 Hornet tentu “bacaan tempurnya” sudah ada di benak negara yang pakai alutsista itu.Katakanlah Australia dan Singapura.Belum lagi masalah down grade yang pasti akan dikancingkan pada setiap pesawat tempur yang dibeli oleh negara bukan sekutu penjual. Singapura dan Australia jelas sekutu AS, jadi jika kita pilih F15 atau F18 maka jelas tidak akan setara dengan yang dibeli Singapura atau Australia.Kedua negara ini juga sudah memutuskan membeli jet tempur siluman F35.Maka keputusan kita beli SU35 adalah dalam rangka “menyambut” kehadiran F35 itu sendiri.
Pilihan terhadap jet tempur Sukhoi SU35 sudah kita prediksi sejak lama. Setidaknya ada dua tulisan yang bertemakan tentang jet tempur SU35. Terbaru artikel tanggal 26 maret 2015 juga sudah kita publikasi baik di blog pribadi dan media sosial lainnya. Intinya adalah hasrat yang kuat untuk mendapatkan pesawat tempur itu perlu didukung Kemhan, ternyata kemudian Kemhan mengamininya.
Dengan mendapatkan 1 skuadron jet tempur kelas berat Sukhoi SU35 tentu kewibawaan teritori udara NKRI semakin bergigi. Jika ini terpenuhi maka jumlah Sukhoi Family yang dimiliki TNI AU berjumlah 32 unit dari seri SU27, SU30 dan SU35. Tentu kekuatan Sukhoi itu akan disempurnakan dengan adanya tambahan jet tempur F16 yang bisa mencapai 34 unit dalam satu tahun ke depan.
Kunjungan Presiden Jokowi ke AS akhir bulan depan diharapkan akan menghasilkan kesepakatan penjualan alutsista untuk Indonesia. Tentu untuk menyeimbangkan pasokan alutsista timur dan barat. Sebagaimana yang pernah ditawarkan Presiden Obama setahun lalu, bahwa disamping program pengadaan 24 jet tempur F16 blok 52 yang sedang berjalan, ditawarkan juga tambahan 1 skuadron F16 blok 60 dan 2 kapal perang jenis fregat OHP Class. Alutsista lainnya yang sudah pasti adalah 8 Heli tempur Apache berikut persenjataannya, 4 Heli angkut Chinook.
Rencana TNI AU mengganti pesawat tempur F-5E/F Tiger II dengan
Sukhoi Su-35 buatan Rusia semakin tampak jelas ke permukaan. Saat ini
empat instruktur penerbang F-5 berpangkat mayor dari Skadron Udara 14,
Madiun mulai mengikuti pendidikan terbang konversi ke pesawat Sukhoi
Su-27/30 di Skadron Udara 11, Makassar.
by angkasa.co.id
Wing loading: 408 kg/m² (500.8 kg/m² with full internal fuel) (84.9 lb/ft² 50% fuel)
Thrust/weight: 1.13 at 50% fuel (0.92 with full internal fuel)
Maximum g-load: +9 g
Armament
Guns: 1× 30 mm GSh-301 internal cannon with 150 rounds
Hardpoints: 12 hardpoints, consisting of 2 wingtip rails, and 10 wing and fuselage stations with a capacity of 8,000 kg (17,630 lb) of ordnance and provisions to carry combinations of:
Kamis,26-11-2015 Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Staf TNI Angkatan
Udara Marsekal Agus Supriatna menyatakan pemerintah RI telah sepakat memilih
Sukhoi Su-35 buatan Rusia sebagai pesawat tempur pengganti skuadron F-5 Tiger
yang telah uzur.
Mokitnya saya belum punya, dari googling beberapa pabrikan sudah banyak yang jualan seperti dibawah ini :
beberapa pabrikan mokit :
bbrp mokit rakitan modeller mancanegara :
Sayangnya sampai akhir Mei 2026 pesawat ini belum dibayar dan datang di Indonesia, mungkin karena terkena embargo Caatsa nya mamarica
Jakarta, IDM – Indonesia sempat berencana membeli pesawat tempur asal Rusia, SU-35 untuk mengganti pesawat tempur F-5 Tiger yang telah grounded pada 2016 lalu. Namun, rencana tersebut urung dilakukan lantaran terkendala dengan bayang-bayang ancaman sanksi Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) dari pihak Amerika Serikat (AS).
CAATSA merupakan kebijakan yang disahkan oleh Amerika Serikat saat masih berada di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Lewat kebijakan tesebut, AS diketahui kerap memberikan sanksi kepada negara mitranya yang membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista), salah satunya dari Rusia.
“Aturan tersebut dirancang untuk memperluas hukuman berupa sanksi dan embargo yang diberikan pemerintahan AS sebelumnya kepada sejumlah negara yang membeli senjata dari Rusia atau Iran, serta menjalin hubungan dagang dengan Korea Utara,” tulis Kementerian Keuangan AS yang dilansir dari CNN Indonesia, Minggu (18/6).
Jika ditelisik, lahirnya kebijakan ini tidak terlepas dari pandangan politik AS yang berupaya untuk menangkal pengaruh Rusia, salah satunya dalam sektor pertahanan.
Dikutip dari sejumlah sumber, sanksi CAATSA diketahui pernah menimpa Turki pada Desember 2020. Saat itu, AS merilis sanksi CAATSA lantaran Turki diketahui membeli sistem S-400 dari Rusia.
AS menilai langkah Turki akan membahayakan keamanan teknologi dan personel militer AS. Dengan pembelian alutsista dari Rusia, Turki juga disebut menyediakan dana yang besar untuk sektor pertahanan Rusia serta akses Rusia ke Angkatan Bersenjata dan industri pertahanan Turki.
Pada akhirnya, AS menangguhkan dan menghapus Turki dari kemitraan global F-35 Joint Strike Fighter. Keputusan tersebut sekaligus menjadi indikasi tegas jika AS akan sepenuhnya menerapkan CAATSA Pasal 231 dengan tidak menolerir transaksi signifikan dengan sektor pertahanan dan intelijen Rusia. (yas)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar