Japanese WW2 relics and idyllic islands in the Solomon Islands - Day 1
Shortland & Ballalae Aircraft Salvage
Mitshubishi G-4 M (betty bomber)
Pesawat ini menurut cerita kabarnya pernah di ujicoba oleh pak Adisucipto dan ada juga yg
teronggok di Surabaja. Jadi pesawat-pesawat ex Jepang yang pernah di hidupkan dan diterbangkan para pahlawan penerbangan kita diantaranya adalah Ki-48, Ki-49, dan konon Ki-21 pernah dipakai juga (Hizkia Steven). Menurut Om Alex Sidharta ; pernah berbendera merah putih bukan berarti pernah dipakai, dan hampir
semua pangkalan yg diserbu BKR/TKR, semua pesawat yg ada dikasih
bendera merah putih, bahkan yg reruntuhan. Milik kita? Iya... dipakai?
Belum tentu, tergantung masih airworthy atau enggak. Jadi boleh-boleh aja sih draw di atas dibikin mokitnya..sebagai bukti pesawat itu pernah ada di Indonesia dan pernah diberi roundel merah putih. Camkanlah ituu gaes!
Model kit nya ada beberapa pabrikan yang membuat yaitu ;
Ada pesawat jenis light business jet
yang menarik perhatian, dibalut cat warna putih hijau, dan bertuliskan “TNI AD
Indonesian Army” plus logo Puspenerbad dengan nomer A9208, pesawat ini memang
mengundang keingintahuan, terlebih tak disangka bahwa Puspenerbad ternyata
punya pesawat jet bisnis yang tergolong mewah
Pesawat yang kemudian diketahui berjenis Beechcraft 390 Premier I ini bukan
digunakan untuk misi intai, tidak terlihat perangkat elektronik yang berkaitan
pada fungsi ECM (Electronic Counter Measure). Namun pesawat denga twin engine
ini terbilang sangat khusus, pasalnya memang difungsikan Pimpinan TNI AD untuk
menjalankan tugas inspeksi ke beberapa daerah. Sebagai pesawat yang biasa dianaki
penumpang VIP, Beechcraft 390 Premier I dengan kabin yang kecil hanya bisa
membawa 6 – 7 penumpang. Sementara kru pesawat bisa satu atau dua orang
Beechcraft
390 Premier I diproduksi Hawker Beechcraft Corporation. Pesawat ini terbilang
ringan, bobot kosongnya 3.719 kg dan bobot maksimum saat take off disebut hanya
5.670 kg. Untuk membawa efek ringan, komponen pada fuselage pesawat dibangun
dari bahan high-strength composite, carbon fiber/epoxy honeycomb. Dapur pacu
Beechcraft 390 Premier 1 dipasok mesin 2 × Williams FJ44-2A turbofan, yang tiap
mesinnya mampu menghasilkan tenaga 10.23 kN. Didapuk untuk mengantarkan perwira
tinggi TNI AD, Beechcraft 390 Premier I dapat melesat dengan kecepatan maksimum
854 km per jam pada ketinggian 10.060 meter. Kecepatan jelajahnya sendiri ada di
level 683 km per jam. Dengan komposisi satu pilot dan empat penumpang, jet
eksekutif ini dapat terbang sejauh 2.648 km. Sementara ketinggian mengudara
maksimum 12.500 meter
Merujuk ke
awal kehadirannya, Beechcraft 390 mulai dirancang pada tahun 1994 dengan kode proyek
PD-374 (PD – Preliminary Design). Kemudian wujud mockup-nya pertama kali
diperlihatkan ke publik pada acara tahunan National Business Aviation
Association Convention pada September 1995. Sejak saat itu pembangunan
prototipe dimulai pada akhir 1996. Jenis Premier I prototipe-nya diluncurkan
pada 19 Agustus 1998 dan penerbangan pertama pada 22 Desember 1998. Setelah
empat prototipe dibuat, FAA akhirnya mengeluarkan sertifikat untuk Beechcraft
390 Premier pada Maret 2001. Selain digunakan oleh petinggi TNI AD, pesawat
sejenis juga terbilang laris manis dioperasikan beberapa perusahaan charter jet
di Indonesia. (Gilang Perdana)
Spesifikasi Beechcraft 390 Premier I
– Crew: 1-2
– Capacity: 6-7 passengers
– Length: 14,02 meter
– Wingspan: 13,56 meter
– Height:
4,67 meter
– Wing area: 22,95 meter
– Empty weight: 3.627 kg
– Max. takeoff
weight: 5.670 kg
– Powerplant: 2 × Williams FJ44-2A turbofan (10.23 kN) each
Bagi Anda yang pernah menyimak
kunjungan mantan Presiden Soeharto di era 90-an, mungkin bakal teringat dengan
sosok pesawat jet transport bermesin empat BAe-146 200. Meski tak resmi disebut
sebagai pesawat kepresidenan, BAe-146 200 Pelita Air Service ini lumayan sering
digunakan Soeharto untuk bersafari ke pelosok Tanah Air. BAe-146 kini tak lagi
diproduksi, namun AU Inggris masih tetap menggunakannya sebagai pesawat angkut
andalan jarak pendek – menengah. Bahkan Inggris menggunakannya dalam operasi
militer di Afghanistan.
Boleh dibilang tak sedikit juga
maskapai di Indonesia yang pernah atau sampai saat ini masih mengoperasikan
keluarga BAe-146. Selain Pelita Air Service (PAS), sebut saja ada Merpati
Nusantara Airlines (MNA), Metro Group, Aviastar, Linus Airways, Riau Airlines
dan Manunggal Air Service. Untuk kebutuhan kepresidenan, Pelita Air Service
mendatangkan BAe-146 200 ke Indonesia pada tahun 1992. Umumnya, pesawat buatan
British Aerospace ini kerap ditumpangi Pak Harto guna menyambagi wilayah
pelosok yang hanya memiliki basis landasan udara sederhana.
Nah, pasca Soeharto lengser di
tahun 1998, kemudian BAe-146 200 kepresidenan ini menjadi redup, pesawat ini
tak lagi digunakan oleh presiden sesudahnya. Dan kabarnya pada tahun 1999,
BAe-146 200 Seoharto dijual ke Eropa.
Dari beberapa catatan yang
dihimpun, untuk kebutuhan VVIP (Very Very Important Person), BAe-146 200 PAS
dilakukan konfigurasi pada sisi interior, dari yang tadinya dapat membawa 109
penumpang, versi BAe-146 200 Soeharto disulap untuk maksimal membawa 30
penumpang saja. Sejak pesawat Kepresidenan ditangani sepenuhnya oleh PAS, maka
para awaknya juga adalah orang-orang sipil. Hanya saja setiap kali Presiden
pergi selalu ada awak cadangan yang ikut dan seorang perwira
penerbang senior TNI AU yang bertindak sebagai liason
officer duduk di kokpit. Sementara untuk Untuk perjalanan ke luar
negeri, Soeharto selalu memilih pesawat DC-10/MD-11 milik Garuda Indonesia.
Pesawat itu sebelum digunakan selalu diperiksa dengan teliti seluruh frame dan
mesin diperiksa ulang.
Tentu menjadi pertanyaan
menarik, mengapa level kepresidenan tertarik dengan BAe-146? Dari sisi
performa, pesawat ini sanggup mendarat dan lepas landas dari lapangan terbang
yang sederhana, dan tak perlu landasan yang terlalu panjang, pasalnya dengan
sokongan empat mesin, dorongan tenaga yang dihasilkan lumayan besar. Sementara
dari aspek keamanan, bekal empat unit mesin tentu memberi level safety lebih
baik, tatkala ada satu atau dua mesin yang gagal berfungsi.
Secara umum, BAe-146 dirilis
dalam tiga versi, yakni versi penumpang, versi kargo, dan versi quick change.
Yang disebut terakhir adalah versi yang dapat diubah dengan cepat dari versi
penumpang ke kargo, begitu juga sebaliknya. Sementara dari serinya, BAe-146
diluncurkan dari seri 100, 200 dan 300. BAe-146 100 (70 – 80 kursi), BAe-146
200 (85 – 100 kursi), dan BAe-146 300 (100 – 112 kursi). Ketiga seri
menggunakan jenis mesin yang sama, yaitu 4x Honeywell ALF 502R-5, yang
membedakan diantara ketiga seri sudah barang tentu adalah panjang pesawat.
Keunggulan BAe-146 diantaranya
pesawat telah dilengkapi EFIS (Electronic Flight Instument System) yang modern.
Adopsi empat mesin ini kabarnya dibuat untuk mengurangi kebisingan, pasalnya
jenis mesin yang digunakan berukuran kecil dan di saat yang bersamaan mempunyai
tenaga cukup besar untuk lepas landas di landasan pendek, kemampuan ini disebut
STOL (Short Take Off and Landing). Pihak pabrikan menggunakan lapisan peredam
suara tambahan yang dipasang ke dalam mesin.
Untuk kepentingan navigasi ada bekal EGPWS (Enhanced
Ground Proximity Warning System). EGPWS adalah alat hasil pengembangan
yang lebih canggih dari GPWS, yakni alat untuk memberikan peringatan pada
penerbang jika pesawat mendekati/akan menabrak daratan/terrain.
Menurut Kepala Desainer BAe 146, Bob Grigg, sejak
awal proses desain, pesawat ini dirancang untuk mudah dioperasikan dan
menawarkan biaya operasional bagi operator serendah mungkin. BAE Systems
menegaskan, keuntungan mengadopsi empat mesin di antaranya termasuk kinerja
yang unggul saat lepas landas dari landasan pacu pendek. Daya listrik terutama
disediakan oleh generator yang terletak pada masing-masing mesin.
Terjun di
Afghanistan
Produksi BAe-146
telah dihentikan pada tahun 2001, meski begitu AU Inggris masih menaruh
kepercayaan pesawat ini sebagai pesawat transport taktis. Seperti di bulan April
2013, dua unit BAe-146 C MK3 dikerahkan untuk mendukung misi angkot kargo dan
personel di Camp Bastion, propinsi Helmand, Afghanistan. BAe-146 dapat
beroperasi dengan kombinasi yang apik bersama C-130 Hercules.
BAe-146 C MK3 memang dirancang khusus oleh BAE
Systems untuk kebutuhan AU. Basis yang digunakan adalah BAe-146 200QC (Quick
Change), dan uniknya AU Inggris mendapatkan pesawat ini bukan dengan beli baru,
kedua BAe-146 200QC justru dibeli dari maskapai Belgia TNT Airways, kedua
pesawat telah beroperasi sejak tahun 2006. Lewat modifikasi dari BAE System,
usia pakai pesawat dapat optimal digunakan sampai tahun 2020.
Karene telah disulap sebagai pesawat militer,
BAe-146 C MK3 memang siap diajak ke medan perang, modifikasi yang dilakukan BAE
Systems mencakup pemasangan lapisan tahan peluru pada komponen-komponen
penting, diantaranya pada kokpit. Kemudian tanki bahan bakar.yang dibekali
fasilitas fire protection D-C system. Sementara dari sisi mesin, versi militer
BAe-146 Inggris tidak berbeda dengan versi sipil. BAe-146 C MK3 juga dilengkapi
perangkat pengecoh rudal.
BAe-146 STK
Diluar versi
militer yang dibuat untuk AU Inggris, British Aerospace pernah menghadirkan
versi militer khusus, dan diberi label BAe-146 STK. Pada versi STK dilengkapi
pintu loading kargo disisi samping belakang, kemudian ada versi tanker udara
dan versi onboard delivery. Pada versi STK, dilengkapi dengan refuelling probe
untuk pengisian bahan bakar di udara. Versi demonstrator BAe-146 STK pernah
dipamerkan dalam ajang Pair Airshow 1989. (Bayu Pamungkas)
BAe-146 200 “Republik Indonesia” –
Pesawat BAe-146 200 walau menyandang predikat pesawat Kepresidenan dengan livery
bertuliskan “Republik Indonesia,” namun pesawat ini masih menggunakan
kode pesawat sipil, yaitu PK-PJJ, lantaran secara kepemilikan pesawat
ini adalah milik maskapai Pelita Air Service (PAS).
Berdasarkan catatan dari planespotters.net, disebutkan BAe-146 200
PK-PJJ dengan nama “Wamena” dibuat oleh British Aerospace (Inggris) dan
terbang perdana pada 28 Agustus 1993. Setelah melewat tahap uji terbang
dan pemasangan interior kabin VVIP (Very Very Important Person), pesawat ini kemudian resmi diserahkan ke PAS pada 20 Desember 1993.
Mengutup dari Indomiliter.com, untuk kebutuhan VVIP, BAe-146 200 PAS
dilakukan konfigurasi pada sisi interior, dari yang tadinya dapat
membawa 109 penumpang, versi BAe-146 200 Soeharto disulap untuk maksimal
membawa 30 penumpang saja. Sejak pesawat Kepresidenan ditangani
sepenuhnya oleh PAS, maka para awaknya juga adalah orang-orang sipil.
Hanya saja setiap kali Presiden pergi selalu ada awak cadangan yang ikut
dan seorang perwira penerbang senior TNI AU yang bertindak sebagai liason officer
duduk di kokpit. Saat ini operasional pesawat ditangani oleh
Sekretariat Negara dan home base berada di Lanud Halim Perdanakusuma.
Tentu menjadi pertanyaan menarik, mengapa level pesawat Kepresidenan
tertarik dengan BAe-146? Ternyata dari sisi performa, pesawat ini
sanggup mendarat dan lepas landas dari lapangan terbang yang sederhana,
dan tak perlu landasan yang terlalu panjang, pasalnya dengan sokongan
empat mesin, dorongan tenaga yang dihasilkan lumayan besar. Sementara
dari aspek keamanan, bekal empat unit mesin tentu memberi level safety lebih baik, tatkala ada satu atau dua mesin yang gagal berfungsi.
Dengan mesin 4x Honeywell ALF 502R-5, pesawat ini dapat terbang
dengan kecepatan maksimum 890 km per jam dan kecepatan jelajah 750 km
per jam. Berbekal kapasitas bahan bakar penuh (11.728 liter avtur),
pesawat ini dapat terbang sampai 2.365 km. Kapasitas payload yang dapat
dibawa mencapai 8.075 kg. Sebagai informasi bobot maksimum saat lepas
landas adalah 42.184 kg.
Keunggulan BAe-146 diantaranya telah dilengkapi EFIS (Electronic Flight Instument System)
yang modern. Adopsi empat mesin ini kabarnya dibuat untuk mengurangi
kebisingan, pasalnya jenis mesin yang digunakan berukuran kecil dan di
saat yang bersamaan mempunyai tenaga cukup besar untuk lepas landas di
landasan pendek, kemampuan ini disebut STOL (Short Take Off and Landing). Pihak pabrikan menggunakan lapisan peredam suara tambahan yang dipasang ke dalam mesin. Untuk kepentingan navigasi ada bekal EGPWS (Enhanced Ground Proximity Warning System).
EGPWS adalah alat hasil pengembangan yang lebih canggih dari GPWS,
yakni alat untuk memberikan peringatan pada penerbang jika pesawat
mendekati/akan menabrak daratan/terrain.
https://www.kabarpenumpang.com/bae-146-200-republik-indonesia-pesawat-jet-empat-mesin-pertama-yang-mendarat-di-bandara-internasional-yogyakarta/?fbclid=IwAR33f1bketISW2uUziBnkquA5ZtRjtxLe5CptKU0vqjRnrqilc8T0TtSgDU
RI 2 Landing di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu
Spesifikasi BAe-146 200
– Length: 28,55 meter
– Wingspan: 26,34 meter
– Height: 8,61 meter
– Wing area: 77,3 m2
– Maximum take-off weight: 42. 184 kg
– Maximum landing weight: 36.741 kg
– Operating empty weight: 23.800
– Maximum payload: 8.075 kg
– Standard fuel capacity: 11.728 liter
– Range with max payload: 2 365 km
– Cruise speed: 750 km/jam
– Maximum speed: 890 km/jam
– Maximum operating altitude: 9.500 meter
– Engines: Honeywell ALF 502R-5, 4 x 6970 lb
by Abdiel I.R
by Daniel Tambunan
Terbang Rendah !! Pesawat Kepresidenan Indonesia
BAe Avro RJ85 PK-PJJ Landing Ke Bandara Pondok Cabe
The Pionir
merupakan team aerobatik tertua di Indonesia. TNI AU
memiliki tim aerobatik pertama kali tahun 1960an, yang terdiri dari formasi
empat pesawat MiG 17, dengan para penerbang :
1. Kolonel /
Marsma TNI Roemin Nurjadin "Elang".
2. Letkol Pnb Ibnu Saputro "Scorpion".
3. Mayor Pnb Mannetihius Msidjan.
4. Mayor Pnb Sukardi.
Mereka bergabung dalam "Tim Pionir". Bertindak sebagai leader tim
adalah Kolonel / Marsma Roesmin Nurjadin. Tahun 1962 tim ini bertambah
jumlahnya menjadi enam pesawat MiG 17 dengan tambahan penerbang Mayor / Letkol
Roesman "Hell Cat", Sofyan Hamsyah, saputro dan Hashari Hasanuddin
"Bison". Tim ini pun mampu memukau penonton yang menyaksikannya pada
peringatan HUT ABRI 5 Oktober dengan aksi jungkir balik udara seperti melakukan
manuver manuver roll. loop, immelmann, cuban eight dan bomb burst.
Sebelum melakukan atraksi dengan MiG 17, sebenarnya para penerbang TNI AU
pernah melakukan terbang formasi dengan propeller seperti P-51 Mustang dari
Skadron Udara (Skud) 3, dengan penerbang;
1. Kolonel Pnb Leo Wattimena, 6.
Hapid Adiningrat
2. Roesmin Nurjadin, 7.
Zainalan
3. Dewanto 8.
Gunadi
4. Hadi Supandi,9.
Hashari
5.Roesman
Namun tim
ini belum sempat tampil di muka umum
dimulai dengan pesawat P-51 Mustang
2 2.THE SPIRIT 78 (F-86 Sabre)
S Setelah the
pionir sudah tidak eksis dan indonesia vakum dalam dunia aerobatik selama 10
tahun lamanya, pada tahun 1978 atau pada saat mbah Harto berkuasa, dibentuklah
team aerobatik yang baru di Lanud Iswahjudi, dengan menggunakan beberapa
pesawat F-86 Sabre, Meskipun para penerbangnya rata - rata memiliki jam terbang
dibawah 200 jam dan waktu persiapan / belajar yang hanya 60 hari, tetapi mereka
dengan gagah berani alias nekad tampil di depan umum. Belajarnya pun hanya
melalui brosur tim aerobatik Jepang, "Blue Impulse", belum ada
instruktur. Ketika itu hanya Mayor Pnb Soeyitno yang sudah mengantongi 400-500
jam terbang dan bertindak sebagai leader. Tim ini akhirnya tampil pada HUT ABRI
ke 33, pada 5 Oktober 1978. Tujuh rangkaian manuver yang dilakukan oleh enam
pesawat F-86 Sabre seperti: wing over, roll in box, closer, calypso pass, roll
in trail, loop dan bomb brust. Atraksi - atraksi yang yang begitu menarik dan
beresiko ini memukau masyarakat ibukota Jakarta, khususnya atraksi "bomb
brust" yang dilakukan oleh lima pesawat F-86 Sabre, dengan formasi menukik
sebentar, lalu mengangkat hidung pesawat hingga mendaki tajam lurus keatas. Tim
Aerobatik F-86 memang tidak seperti Thunderbirds atau Blue Angels, di mana
mereka ditempatkan secara khusus dalam suatu tempat dan satuan tertentu. Para
penerbang F-86 pun juga tidak memiliki instruktur khusus dalam menciptakan
setiap gerakan formasi. Semuanya berasal dari hasil coba-coba dan dianalisa
bersama-sama di bawah. Gerakan pun diketahui dari brosur tim aerobatik Blue
Impulse mungkin mereka terisnpirasi dari mad dog dan chuck norris
3.3.THE SPIRIT 85 (Hawk-53)
Bila
orang-orang terkagum-kagum dengan Jupiter Aerobatic Team, rasanya para
penerbang JAT perlu berterima kasih pada Spirit 85. Inilah tim aerobatik yang
kelak menjadi cikal bakal Jupiter Aerobatic Team (JAT). Tim ini dibentuk dari
hanggar Skadron 15 yang berlokasi di Lanud Iswahjudi.Dirintis sejak tahun 1985,
para penerbang Skadron 15 memulai latihan dari uji coba kecil-kecilan dan
latihan otodidak. Berbagai latihan ini akhirnya membentuk tim aerobatik berisi
empat pesawat yang dinamakan Spirit 85.Para penerbangnya adalah Mayor (Pnb)
Pieter Wattimena (leader), Mayor (Pnb) Toto Riyanto, Kapten (Pnb) Basri
Sidehabi, dan Kapten (Pnb) Ida Bagus Sanubari. Kesemuanya adalah penerbang
senior yang merupakan instruktur program Konversi Dasar Taktik Tempur (KDTT).
Mereka tampil perdana pada 5 Oktober 1985. Tim aerobatik "Hawk" ini
melakukan akrobatik udara selama 12 menit dengan memukau dan kompak. Tim inipun
tidak bertahan lama, karena setelah tampil memukau di hari penting TNI AU
tersebut, tim aerobatik inipun menghilang. Para personilnya bertugas di tempat
yang berbeda - beda. Nama "Spirit 85" menurut salah satu anggota tim,
mengambil contoh dari "Spirit 78", tim aerobatik yang menggunakan
pesawat F-86 Sabre
4. THE (OLD)
JUPITER
Sebelum
the jupiters yang ada sekarang dahulu ada the (old) jupiters jugaPada
peringatan ke 52 Hari TNI, 5 Oktober 1997 di Lanud Halim Perdanakusuma, Tim
aerobatik "Jupiter" muncul pertama kalinya dengan menggunakan enam
pesawat MK-53 HS Hawk. Manuver yang dipertunjukan mulai dari delta loop opener,
lead on pass, line abreast, loop , mirror, cater pillar, screw roll, right
clover leaf, heart, knife edge, roll backs, four point, vertical roll hingga
vixen break. Manuver - manuver yang indah tersebut semakin memukau karena
disertai asap yang berwarna warni. Mereka tampil dengan memukau penonton dengan
meliuk - liuk yang sangat indah dan mendebarkan. Manuver - manuver yang
dilakukannya sama dengan sajian yang digelar oleh tim "Red Arrow"
pada saat Indonesian Air Show (IAS) tahun 1996 di Bandara Kemayoran Jakarta.
Kemudian tim ini kembali menunjukkan kebolehannya melakukan akrobatik udara di
Bandung pada HUT Kodikau 15 Oktober 1997. Konon penampilan di Bandung ini
menjadi catatan tersendiri, karena belum pernah ada tim aerobatik yang tampil
di Bandung. Alasannya antara lain, faktor ketinggian yang banyak berpengaruh
terhadap performance, dan faktor cuaca yang sering tidak mendukung acara
akrobatikoh iya gan,nama jupiter itu diambil dari sebutan para instruktur
skuadron 103 lanud adi suciptosayang team ini vakum pada tahun 2002 dan
akhirnya reborn menjadi the jupiters sekarang
Jupiter Aerobatic Team (JAT) Hawk-53
1.5. THE JUPITER BLUE
Ternyata the
jupiters punya banyak sekali keluarga dan salah satunya yaitu jupiter blue,Pada
awal tahun 2001, Danlanud Iswahjudi Marsma TNI Djoko “ Beaver”Poerwoko, mantan
anggota tim aerobatic F-86 Sabre “Spirit’78” mempunyai ide menggabungkan
keindahan gerak Hawk dan kegarangan F-16. Jadilah tim aerobatic dengan tiga jenis
pesawat. Tiga buah Hawk MK-53, sebuah Hawk MK-109 dan dua buah F-16. Hawk 109
didatangkan dari Lanud Pekanbaru sebagai pesawat slot.
Dengan penerbang Letkol Pnb Barhim dan Kapten Pnb Moh.”Cougar” Dadang,
sedangkan Leader beralih ke Mayor Pnb Fahru “Ferret” Zaini dengan dua wingman
yaitu Kapten Pnb Andis “Lavy” Solikhin dan Mayor Pnb Donny “Osprey” Ermawan.
Sedangkan sebagai penerbang solo adalah Mayor Pnb Fachry “Oryx” Adamy dan
Kapten Pnb Moh.”jaguar” Hanafi yang dilatih oleh Letkol.Pnb Moh.Syaugi “Wildgeese”.
Cukup menarik, karena sebetulnya filosofi kedua team yang digabung adalah
berbeda karena kiblat tim yang dianut berlainan. Campur2 antara F-16, Hawk
Mk.53 dan Hawk Mk.109 dalam 1 team aerobatic sebenarnya berbahaya karena
karakteristik setiap pesawat yang berbeda. Namun dengan kerja keras selama
latihan akhirnya berhasil diwujudkan penampilan pertama yang spektakuler di
depan public pada HUT TNI AU di lanud Halim 9 April 2001.
Jupiter Aerobatic Team Kebanggaan Indonesia
1 6. THE BLUE EAGLE
Tim Elang
Biru muncul pertama kalinya pada peringatan ke-49 HUT TNI AU, pada 9 April 1995
di Halim Perdanakusuma dengan 6 pesawat F-16 Fighting Falcon. Pembentukan tim
Elang Biru dilaksanakan setelah terdapat instruksi KASAU saat itu, Marsekal TNI
Rilo Pambudi, yang menginginkan tim aerobatik ini muncul pada peringatan Hari
ABRI 5 Oktober 1995 dan pada Indonesian Air Show (IAS) 1996. Pelaksanaan
latihanpun dilakukan secara bertahap dan otodidak dan latihan formasi 2 pesawat
hingga berlanjut menjadi 4 pesawat.
Demi menjalankan instruksi ini, TNI AU mendatangkan pelatih yang merupakan
pakar aerobatik “Thunder Bird” dari Amerika serikat; Kolonel Steve
Trent(komandan tim Thunderbirds 1988-1990), Mayor Pieter Mc Caffrey dan Kapten
Mathew E.Bryd.
Tim Elang Biru ini kemudian menjelma menjadi tim aerobatik kebanggaan TNI
Angkatan Udara karena memiliki kemampuan yang dapat disejajarkan dengan
beberapa tim aerobatik kelas dunia seperti tim Red Arrow (Inggris), Roulette
(Australia), dan Golden Dreams (Inggris).Dengan program pelatihan ini, maka
kemampuan para penerbang menjadi semakin baik. Selanjutnya, Tim Elang Biru
membentuk formasi enam pesawat. Anggota tim Elang Biru adalah Letkol (Pnb) Rodi
Suprasodjo (leader), Mayor (Pnb) Bambang Samoedro, Mayor (Pnb) Agus Supriyatna,
Mayor (Pnb) M Syaugi, Kapten (Pnb) Anang Nurhadi Susilo, dan Kapten (Pnb)
Tatang Herliyansah
Elang Biru (F-16)
7. THE THUNDERS
Tim
Aerobatik Thunder merupakan tim aerobatik terbaru yang dimiliki oleh TNI AU
atas prakarsa KASAU Marsekal TNI Imam Sufaat. Tim dibentuk pada tanggal 28
Februari 2011 di pangkalan udara Sultan Hasanuddin – Makasar yang terdiri dari
3 pesawat Sukhoi (Su-27/30). Tim yang dikendalikan langsung oleh Flight
Director Komandan Pangkalan TNI AU Sultan Hasanuddin Marsekal Pertama TNI Agus
Supriatna diawaki oleh the “Thunders”, sebutan bagi penerbang Skadron Udara 11
yang sampai saat ini telah mencapai urutan ke-146.
Thunder Aerobatic Team (Su27-30)
8. GOLDEN EAGLE (T-50)
Tim ini tidak berlangsung lama, sempat terjadi korban salah satu anggota tim nya saat melakukan manuver, pada tahun 2018 marking pesawat dihapus.
Golden Eagle (T-50)
9. JUPITER AEROBATIC TEAM
Jupiter Aerobatic Team (JAT) KT-1 Wong Be
10. THE DYNAMIC PEGASUS
kata
siapa aerobatik harus pakek pesawat?, kali ini ada The dynamic pegasus team
aerobatic helicopter yang masih eksis dari dulu ampe sekarangDynamic Pegasus
Aerobatic Team merupakan salah satu tim aerobatik kebanggaan TNI Angkatan
Udara. Di Asia Tenggara, inilah tim aerobatik pertama dan satu-satunya yang
menggunakan pesawat rotary wing alias helikopter. Sejauh ini, baru ada ada dua
tim aerobatik yang mahir dan populer menggunakan helikopter. Kedua tim tersebut
adalah ”Patrulla” dari Spanyol dan ”Sarang” dari India.
Dynamic Pegasus Aerobatic Team berada di bawah pembinaan Skadron Udara 7. Untuk
sekedar info, Skadro Udara 7 terletak di Lanud Suryadarma, Subang, Jawa Barat.
Ketika tampil, mereka menggunakan helikopter jenis EC-120 B Colibri buatan
Perancis
Dynamic Pegasus (Colibri)
11. THE PITTS AEROBATIC (CIVILLIAN)
Adakah team
aerobatik indonesia yang sipil? sepengetahuan ts sih belum ada team aerobatik
sipil di indonesia,walaupun di indonesia terdapat beberapa komunitas pesawat
seperti asia aero flying, tetapi belum ada suatu komunitas/team yang benar2 di
peruntukkan untuk aerobatik, tetapi ada orang sipil(walaupun dahulunya ia
adalah perwira tni au)yang melakukan aksi2 aerobatik dia adalah bapak Marsekal
Madya(purn) Eris Heryanto, bapak Eris Heryanto yang merupakan anggota asia aero
flying melakukan aksi2 aerobatik yang mengagumkan dengan menggunakan pesawat
aerobatik berjenis PITTS berikut adalah aksi bapak erris dalam video berikut,
dan hebatnya lagi bapak erris ini sudah berumur kepala 6 tetapi masih lincah
dalam mengendalikn pesawat!