Minggu, 15 Agustus 2010

KAWASAKI Ki-48 Lily Pangdip-I





by SamsUdin Putranto Hanafi


                                    Jendral Sudirman joyflight dengan Pandip-I








Kawasaki Ki-48, 九九式双発軽爆撃機 'Sokei', light Bomber

Kawasaki Ki-48

Kawasaki Ki-48 Sokei/Lily

Pembom Diponegoro I adalah Ki-48 (Army Type 99), sekutu memberi nama sandi “Lily”pernah diterbangkan oleh Komodor Udara Agustinus Adisutjipto. Pesawat-pesawat ini lokasinya tersebar di pangkalan udara yang dikuasai Indonesia (Tasikmalaya, Yogyakarta,Malang dan Madiun). Tapi ketika Clash I (Agresi Militer Belanda I), pangkalan-pangkalan AURI tersebut pada tanggal 21 Juli 1947 diserang oleh pesawat tempur Belanda P-40 Kitty Hawk dan P-51 Mustang yang menghancurkan pesawat-pesawat tersebut, sehingga sekarang kita tidak dapat melihat peninggalanya. Tapi ada photo dan cerita pada situs pacific wreck, bahwa di Lanud Babo Papua dulu pernah terbaring rongsokan pesawat ini seperti photo di atas dan pesawat2 ex Jepang lainya tentunya, namun kondisi sekarang belum ada info keberadaannya. Saat ini yg ada hanya model kit yg dibuat oleh penggemar scalemodel kit pesawat terbang indonesia dan dipamerkan dimuseum Dirgantara Mandala Yogyakarta seperti tampak pd photo di atas. Dua photo saat operasional diatas adalah seperti yang terlihat di website http://www.aviationofjapan.com/2012/06/ex-ijaaf-aircraft-in-auri-service.html

 Kemungkinan besar pesawat pembom tersebut ditempatkan di Pangkalan Udara Maospati Madiun, yang sebelumnya difungsikan Jepang baik sebagai pangkalan pesawat tempur juga sebagai home base pembom. Alasannya karena landasan Maospati jauh lebih panjang dibandingkan landasan di pangkalan Maguwo. Komandan Pangkalan saat itu dijabat Prof.Dr.Abdulrachman Saleh yang juga merangkap juga sebagai Komandan Pangkalan Udara Bugis (Malang).

Sementara itu Bapak Zaini menyebutkan bahwa P.Diponegoro I adalah juga pesawat peninggalan Jepang type Ki-49 Donryu Army Type 100. Dari foto yang penulis terima dari Bapak Hoesein memperlihatkan saat Panglima Besar Soedirman pada awal tahun 1946 melakukan inspeksi ke Pangkalan Bugis Malang, dengan latar belakang terlihat jelas pesawat Ki-49. Berarti AURI selain memiliki light bomber juga sudah memiliki heavy bomber (Pembom Berat). Ki-49 yang dibuat oleh pabrik Nakajima, karena sangat berbahayanya dan mempunyai daya rusak yang hebat dijuluki sekutu sebagai Storm Dragon, diberi sandi nama “Helen”. Orang Jepang menamai Ki-49 “Hyakushiki Juubaku”.

Perlu diketahui bahwa kedua pesawat tersebut ternyata bukan merupakan kekuatan Angkatan Udara Kekaisaran Jepang, tetapi pesawat dari kekuatan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (Imperial Japanese Army Aircraft). Dengan demikian maka dapat diyakini bahwa memang terdapat pembom di Pangkalan Maospati Madiun dan Pangkalan Bugis Malang. Semoga informasi ini yang penulis lengkapi dengan foto-foto pesawat dapat lebih menjelaskan. Penulis sangat mengapresiasi rekan-rekan Historia-Indonesia yang demikian besar perhatiannya terhadap sejarah perjuangan TNI-AU tersebut.
 http://prayramelan.blogspot.co.id/2008/10/pada-tahun-1947-auri-punya-pesawat.html 

Data-data Pesawat Ki-48 :
  • Type : Light Bomber/Dive Bomber
  • Crew : Four
Power Plant :
  • Model : Nakajima HA-115 Radial
  • Horse Power : 1150 H
Dimension :
  • Wing Span : 57 Ft 3 Inch (17,45 M)
  • Length : 41 Ft 10 inch (11,64M)
  • Height : 12 Ft 5,5 Inch (3,80m)
  • Weight : 14,881 lb (6750 kg)
Performance :
  • Max Speed : 314 mph (505 kph)
  • Service Ceiling : 33,135 ft (10.100m)
  • Range : 1491 miles (2400 km)
Pesawat Ki-48 atau Army tipe 99 merupakan jenis pesawat pembom ringan buatan Pabrik Nakajima tahun 1940. Pesawat ini merupakan peninggalan Jepang, yang berada di Pangkalan Udara Bugis Malang (sekarang Lanud Abdulrachman Saleh), Setelah berhasil diperbaiki, Indonesia menamainya Pesawat Diponegoro I. Sekutu menamakan pesawat tersebut dengan sebutan Lily. Pesawat Ki-48 digerakan dua motor radial pendingin angin masing-masing memiliki kekuatan 1460 dayakuda dengan kecepatan maksimum 510 km/h.

Pada awal perang Pasifik pesawat ini disangka pesawat pemburu Messerschmitt Me-109 Lisensi Jerman. Ternyata hanya motornya saja yang berlisensi Jerman yaitu Daimler Benz DB-601 A. Sedangkan Air frame-nya asli ciptaan Kawasaki, yang disain oleh Takeo Doi dan Shin Owada.

Test flight pertama pesawat Diponegoro I dilakukan pada tanggal 2 Februari 1946 oleh penerbang Atmo. Pada Test flight ini masih ter­­dapat keku­rangan, yaitu pipa oli dan hidroliknya bocor. Usaha perbaikan terus dilakukan oleh Matkarim, Naim dan Mudjiman. Test flight berikutnya pesawat berhasil terbang dengan baik.

Beberapa penerbangan penting yang dilaksanakan Pesawat Pangeran Diponegoro I, pada tanggal 27 Februari 1946 melaksanakan misi penerbangan membawa Panglima Besar Sudirman beserta rombongan pejabat pemerintah Jawa Timur melakukan inspeksi ke Jawa Timur dan ke Pangkalan Udara Bugis, Malang. Rombongan pejabat pemerintah Jawa Timur antara lain Gubernur Suryo, Dul Arnowo (Ketua KNI), Mr. Sunarko, Ketua BPRI Bung Tomo, Komandan Divisi Jenderal Mayor Imam Sudjai, para wartawan dan lain-lainnya. Pejabat AURI yang menyertai rombongan tersebut adalah Pak Karbol (Prof. Dr. Abdulrachman Saleh) dan Halim Perdanakusuma. Pada kesempatan yang sama Panglima Besar Sudirman sempat melaksanakan perjalanan dengan pesawat PD I ke daerah Banyuwangi-Bali, pesawat diawaki penerbang Atmo dan juru teknik Moch. Oesar.

Tanggal 5 Maret 1946 Pesawat PD I membawa Mayor Jenderal Soedibjo dalam rangka melaksanakan misi penyelesaian Allied Prisoners of War and Interneers (APWI) yaitu penyelesaian masalah keselamatan tawanan perang dan interniran dengan pihak Sekutu. Pada tanggal 4 Oktober 1946 pesawat PD I itu diterbangkan oleh Pak Karbol (Prof. Dr. Abdulrachman Saleh) ke Maguwo dengan membawa serta juru teknik Moch. Oesar, Matkarim, dan Mustari. Abdulrachman Saleh yang dikenal dengan panggilan Pak Karbol adalah salah seorang yang mampu menerbangkan pesawat itu tanpa latihan dan tanpa pendamping.

Seperti pesawat lainnya, pesawat Pangeran Diponegoro I dihancurkan oleh Belanda pada saat Agresi Belanda ke II pada akhir tahun 1948.
https://www.kaskus.co.id/thread/54ee9370bdcb17747f8b4581/mengenal-pesawat-pesawat-tni-au/


Cerita lainnya
 Adhi Nugraha M Ramli
https://www.facebook.com/groups/936657476416144/permalink/2123082954440251/
https://jakartagreater.com/mengenal-pesawat-pangeran-diponegoro-i-dan-ii-sejarah/

Modelkit telah saya peroleh dari merk Hasegawa skala 1:72, tapi belum dirakit, nantinya akan diberi marking dan decal AURI seperti photo di dibawah

rakitan mokit 
di museum dirgantara mandala yogyakarta

                                                                    by Santos Frananda



by Aerob_62

 rakitan modeller mancanegara ;




beberapa pabrikan mokit



1 komentar: