Kamis, 12 Agustus 2010

MIKOYAN GUREVICH Mig-21 Fishbed

   


 by Indomiliter.com
1. @Museum Pusat Dirgantara Mandala (Muspusdirla) Yogyakarta

photo sebelum 2014
                                     
photo 2014



2. @ Komplek AU Halim Perdana Kusuma, Jakarta -Photo maret 2017 livery asli (by Hizkia)


 by Hizkia Steven

                                                      by eko winarno -Jakarta 2013

 Mig-21 Fishbed Indonesia TNI AU Walkaround Video by Eric Moya Walkaround

3. @Museum Satria Mandala - Jakarta,http://aviadejavu.ru/Site/Crafts/Craft19988-3.htm#picsen

 



MiG-21 HANGGAR Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB

      4. @ Komplek Lanud Husein Sastra Negara, Bandung (Milik ITB Bandung)
 http://s1204.photobucket.com/user/kemalaandriani/MIG-21%20ITB/story









lukisan-lukisan mig-21







 Photo- photo saat operasional
 
by adityo

http://aviadejavu.ru/Site/Crafts/Craft19988-3.htm#picsen























by samsUdin putranto hanafi

by indomiliter.com

                        Mikoyán-Gurévich Mig-21 Fishbed, Indonesian Air Force TNI AU, 
                                                Walkaround Video. DJI Osmo Pocket





                                     Skadron Udara 12 (1963) Kemayoran, Jakarta

                                    Mikoyan-Gurevich MiG-21 PFM | Curator on the Loose!

                                                MiG-21 Action - LOW! FAST! LOUD!

Mikoyan Gurevich Mig-21 Fishbed

Negara asal : Uni Soviet Jenis : Pesawat tempur Persenjataan : 1 kanon kaliber 30 mm Type : Tipe NR-30 peluru 60 butir, roket udara ke udara K-13 Akomodasi : 1 awak pesawat MIG 21 dirancang sebagai pesawat pencegat, dengan fungsi utama merontokkan armada-armada pesawat serang darat blok barat, seperti F-105 Thunderchief. Fishbed hadir untuk mengungguli F-104 Starfighter buatan Amerika dan Mirage III buatan Perancis.Sejarah:1960 dibeli sebanyak 20 buah,1963: Dimasukan menjadi salah satu komponen pada wing pertahanan udara 300(Buru Sergap) Kohanudnas.

 http://www.indomiliter.com/sisi-lain-mig-21f-13-fishbed-c-ak-47-of-the-air-tni-au/

Bahwa TNI AU (d/h AURI) pernah mengoperasikan MiG-21 tentu sudah jamak diketahui, namun persisnya yang digunakan sebagai arsenal Skadron Udara 14 ini adalah MiG-21F-13 (Fishbed C), salah satu varian MiG-21 dari generasi awal. Meski sekilas tak berbeda dengan keluarga MiG-21 lainnya, pada generasi MiG-21F pada dasarnya punya ciri khas tersendiri yang mudah dikenali.

Ciri khas tersebut adalah desain kaca kanopi, varian MiG-21F mengadopsi pintu kokpit yang dibuka dengan mendorong kedepan. Sebaliknya pada varian MiG-21 yang lebih modern, pintu kokpit dibuka dengan mendorong ke samping kanan, mirip dengan mekanisme pada pintu kokpit di jet tempur Hawk 109/209.

 

Dalam catatan sejarah, saat mempersiapkan Operasi Trikora untuk perebutan Irian Barat, di 1962 TNI AU menerima 20 unit MiG-21F-13 dan 2 unit MiG-21U Izdeliye. Uji perdana MiG-21F-13 dilangsungkan pada 1956 dan memasuki fase produksi pada 1960. Jadi bisa dibayangkan saat itu TNI AU menjadi salah satu pengguna jet tempur yang kala itu masih sangat baru. Dan tak sulit untuk melihat dari dekat sosok jet tempur ini, seperti di bawah ini kami perlihatkan close up MiG-21F-13 yang berada outdoor area Museum Dirgantara Mandala, Yogyakarta.

Pd bulan Sept 2014 tersebar berita monumen pesawat ini di Halim PK diturunkan dan dipotong, ternyata menurut web detik.com  http://news.detik.com/read/2014/09/02/131105/2678964/10/monumen-pesawat-mig-21-di-kohanudnas-halim-diturunkan-untuk-perawatan.....alhamdullilah..tidak terjadi pembantaian pesawat russia spt jaman dulu.


 

Hizkia Steven dulu tahun 1970an sempet ada monumen Mig-21 di Taman Ria 
. Registrasinya F 2170 tapi tanpa Thunder, ntah itu dibawa ke AS terus gimana nasibnya 

Sepenggal cerita dari  http://www.aerialvisuals.ca/AirframeDossier.php?Serial=6688 salah satu mig-21 kita F-2157 masih terpajang rapih di Brussels Air Museum, Jubelpark, Etterbeek, Brussel Hoofdstedelijk Gewest sayang markingnya bukan TNI-AU




F-2157 pada saat masih aktif operasioanl

Selain itu ada juga yang di Strategic Air Command and Aerospace Museum, Ashland, Nebraska  http://www.aerialvisuals.ca/AirframeDossier.php?Serial=83652




http://www.aerialvisuals.ca/AirframeGallery.php?StartIndex=290,PicsPerPage=10,FamilySN=55,SortDir=DESC,SortCat=upl
































































































































































































                                  
                                       Ex F-2153 Nellis AFB, Las Vegas, Nevada 
                         http://www.aerialvisuals.ca/AirframeDossier.php?Serial=23934

                   Eighth Air Force Museum, Barksdale AFB (north west side), Shreveport, LA.
                                    http://www.aerialvisuals.ca/AirframeDossier.php?Serial=771

Daftar pesawat Mig-21 kita yang dialihkan ke US (data by Hizkia Steven)


F-2151 : Send To USA
F-2152 : Send To USA
F-2153 : Send To USA.Preserved in Nellis AFB,Nevada
F-2154 : Written off
F-2155 : Send To USA
F-2156 : Send To USA.Preserved in Smithsonian Air & Spase Museum
F-2157 : Send To USA.Preserved inBrusell Army Museum,Brusell
F-2158 : Preserved in hangar Institut Teknologi Bandung(ITB)
F-2159 : Send To USA
F-2160 : Preserved in Museum Dirgantara Mandala,Yogyakarta
F-2161 : Written off
F-2162 : Send To USA
F-2163 : Written off
F-2164 : Preserved in Museum Satria Mandala,Jakarta
F-2165 : Written off
F-2166 : Send To USA
F-2167 : Perserved in KOHANUDNAS,Halim Perdana Kusuma AFB
F-2168 : Condition Unknow
F-2169 : Written off
F-2170 : Send To USA

http://suluhnuswantara.org/showthread.php?tid=4950 cerita kehebatan Mig-21 kita


JET TEMPUR MIG-21 DI ITB, TERNYATA BARU TERBANG 10 JAM!


Meski kedigdayaannya telah padam setengah abad lalu, legenda MiG-21 masih hidup sampai sekarang. Tidak hanya di berbagai negara, tapi juga di Indonesia. Para pengagumnya tak hanya memburu kisah-kisah pertempurannya, tapi juga cerita dari jet-jet ini yang “masuk” laboratorium untuk dipelajari keunggulannya.
Seperti juga dilakukan di Amerika, enjinir Indonesia diam-diam ikut membedah kekhasan maupun keunggulannya. Setidaknya hal inilah yang dicatat Angkasa setelah beberapa kali berkunjung ke Laboratorium Fakuktas Teknik Mesin dan Dirgantara, ITB, Bandung, Jawa Barat.
Di sana mukim satu unit MiG-21 yang pernah memperkuat AURI (kini TNI AU) yang khusus dibeli untuk mengusir Belanda dari Irian Barat. Pencegat bernomor 2158 ini dihibahkan pada 1973 khusus untuk didedikasikan sebagai alat peraga dalam berbagai mata kuliah di FTMD. Bagi Angkasa, ada satu fakta yang amat mengejutkan dari warisan berharga ini . “Pesawat ini baru dipakai terbang 10 jam!” Demikian tertulis dalam Buku Emas 50 Tahun Program Aeronautika/Astronautika ITB (2012).
Kenapa AURI menghibahkannya kepada ITB? Langkah ini rupanya diambil untuk mengapresiasi perjuangan Dr. Ir. Oetarjo Diran dan Dr. Ken Liem Laheru yang begitu gigih mendirikan Pendidikan Teknik Penerbangan di ITB (kini Jurusan Teknik Penerbangan di FTMD). Demi memajukan Indonesia, mereka sampai-sampai meninggalkan jabatan bergensinya di Jerman.
Jet yang satu ini amat ditakuti Barat. Tak ayal keberadaannya pun sangat dieman-eman. “Bagaimana tidak? Jika Departemen Pertahanan AS saja harus susah payah ingin mencurinya, masak pemberian yang amat berharga ini kami sia-siakan?” ujar sumber Angkasa.
Sayangnya, ketika itu ITB belum punya tempat yang dianggap cocok. Sehingga untuk sementara waktu terpaksa ngendon di hanggar Lipnur (kini PT Dirgantara Indonesia). Di sana, supersonik sayap delta ini selanjutnya di antaranya dirawat oleh Prof. Dr. Harijono Djojodihardjo dan Dr. Said D. Jenie, dosen teknik penerbangan lulusan Massachussetts Institute of Technology, AS.

Keunggulan dan kelemahan
Kala itu kisah keunggulan MiG-21 beranjak mendunia. Itu karena jet yang sejatinya dirancang Mikoyan-Gurevich, Rusia, untuk membunuh pembom strategis andalan AS, B-52 Stratofortress ini, ternyata juga mampu membabat jet unggulan AS seperti F-4 Phantom II, F-104 Starfighter dan F-105 Thunderchief. Puluhan jet-jet ini rontok di medan pertempuran Timur Tengah dan Vietnam.
“MiG-21 sangat sulit diantisipasi. Bahkan meski kemunculannya datang dari depan. Ia baru tampak dalam jarak dua mil, namun sudah dalam jarak yang sangat mematikan,” aku seorang penerbang F-4 Phantom II AU AS yang pernah berhadapan dengan jet ini di ajang Perang Vietnam.
Hal inilah yang memancing ilmuwan AS untuk bisa membedah keunggulan sekaligus kelemahannya. Dari sejumlah dokumen yang kerahasiannya telah dibuka, akhirnya terungkap AS pernah “mencuri” beberapa untuk dipelajari dalam program berkode Have DrillHave Doughnut, dan Have Ferry. Pesawat bahkan pernah dilawantandingkan dengan jet-jet AS di Area 51, laboratorium AU AS yang amat dirahasiakan di Gurun Nevada.
Dari program-program itu, akhirnya kelemahan sang legenda terbongkar. Salah satunya diantaranya ada pada celah bidik sasaran atau gunsight. Meski musuh sudah masuk dalam gunsight, penerbangnya tak serta-merta bisa mebidiknya dengan jelas. Bayangan di gunsight bahkan sering tiba-tiba menghilang. Dalam doghfight jarak dekat, kestabilannya juga sering terganggu. Hal inilah yang membuat penerbangnya harus kerja keras “memasukkan” kembali musuhnya dalam garis bidik.
Di FTMD sendiri, MiG-21 berkode 2158 ini baru benar-benar berfungsi setelah pihak ITB berhasil menyiapkan sebuah laboratorium yang cukup nyaman pada 1998. Di bodi samping pesawat yang telah dicat ulang, selanjutnya ditulis: Iron Bird untuk sistem dasar pesawat udara, yang mencakup sistem kendali hidro-mekanikal, sistem elektrik, sistem roda pendarat, sistem propulsi dan sistem avionika.
“Teknologinya memang sudah berumur, namun tetap layak untuk jadi alat peraga bagi keilmuan aeronotika yang diberikan mulai dari tingkat pertama hingga terakhir. Keilmuan ini mencakup mekanika, termodinamika, aerodinamika, kinematika hingga teknik perancangan pesawat,” ujar Kepala Program Studi Aeronotika/Astronotika, Dr. Ir. Toto Indriyanto kepada Angkasa, pertengahan Mei 2017 di Bandung.

Inlet cone
Bagi Angkasa sendiri, tak lengkap kiranya jika tak melengkapi kisahnya dengan pengakuan penerbang AURI atas pesawat yang mampu melesat lebih dari dua kali kecepatan suara ini. Mereka sepakat menyebutnya jet pemburu paling mutakhir di zamannya.
“Kemudinya sangat sensitif dan pesawat ini terbang lebih cepat dari yang saya perkirakan. Tapi, lama terbangnya, walau dengan drop tank, amat singkat. Cuma 1 jam 40 menit. Dengan begitu kita harus tahu bagaimana trik menerbangkannya,” ungkap Marsda (Pur) Roesman, sesepuh AURI yang pernah dipercaya jadi komandan skadron pencegat sayap delta ini.
“Terbang lurus-lurus saja, tidak perlu belok kiri-kanan, daripada tidak bisa pulang. Untuk itu kita memang harus bisa lebih dulu menghitung di titik mana pesawat musuh yang akan dicegat,” tambahnya tentang trik itu kepada Angkasa.
Indonesia mendatangkan jet-jet ini pada 1962, sebagai bekal untuk menghadapi kekuatan militer Belanda dalam kampanye Trikora. Ketika itu bersama rombongan pembom Tu-16 serta MiG-15, MiG-17 dan MiG-19, pemerintah membeli 22 unit dari tipe MiG-21 F-13 dan MiG-21U. Namun, pesawat-pesawat ini tak pernah benar-benar turun berperang karena Belanda akhirnya bersedia mundur setelah didesak oleh PBB.
Lalu, adakah keunggulan MiG-21 yang kemudian diadopsi pesawat-pesawat berikutnya? Ada, bahkan tak sekadar pesawat, tetapi juga rudal. Kelebihan dimaksud adalah inlet cone yang bentuknya amat khas. Kerucut metal di cerobong masukan udara ini rupanya tidak dibuat untuk memperindah sosoknya, melainkan memang ada maksudnya.
Inlet cone bisa digerakkan maju-mundur tak lain untuk menyetel kecepatan mesin, terutama saat kecepatannya menembus Mach 1. Hal ini dimungkinkan karena maju-mundur inlet cone akan menentukan besar kecilnya pasokan udara ke ruang pembakaran mesin. Inlet cone selanjutnya diterapkan pada pesawat jet dan rudal supersonik, seperti SR-71 Blackbird dan P-800 Oniks/Yakhont.
Nah, ketika sejumlah staf pengajar FTMD ikut dilibatkan dalam proyek KFX/IFX dengan Korea Selatan, mestinya ada pula seuntai transfer teknologi dari sang legenda yang ikut terbawa dalam perancangan jet tempur masa depan Indonesia-Korea Selatan ini. Walau terkesan samar, sudahlah jelas bahwa mereka adalah ilmuwan yang pernah berkutat di laboratorium FTMD.
Sumber : Angkasa

  



by lancercell




by kemala andriani

jabar.tribunnews.com

MiG-21 HANGGAR Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB

mokit by Anto Sukhoi


Modelkit yang telah saya rakit dari merk Academy skala 1:72, akan dicat ulang dengan decal dari Om Sinang Aribowo cap Jempol



mokit rakitan di museum Dirgantara Mandala Yogyakarta :

mokit rakitan by Sinang :



by Erwin Modelkit

by Julian Donna Syahdanis



rakitan saya :








http://www.findmodelkit.com/content/mig-21f-13-mig-17pf-combo









Tidak ada komentar:

Posting Komentar